Luka & Air Mata

Luka & Air Mata
Bab 9


__ADS_3

Hari-hari dilalui Rena dengan perasaan sedih dia tak berani bercerita kepada siapapun.Dia murung dan berhari hari pula dia tak menjawab panggilan dan pesan dari Iwan. Sementara Iwan pun mulai frustasi dan merasa bersalah pada Rena. Dia takut Rena berbuat yang tidak tidak untuk melampiaskan kesedihannya. Iwan mulai tidak tenang dia ingin segera ke rumah Rena.


Sore itu setelah pulang kerja Iwan bergegas menuju rumah Rena. "Assalamualaikum ,!" suara Iwan mengagetkan Rena. Tapi dia enggan membuka pintu. Adik Rena,Toni yang membuka pintu. "Waalaikum salam, Eh mas Iwan. nyari mbak Rena ya?" kata Toni. "Iya Ton, mbak kamu ada ? tanya Iwan. " Ada kok mas, masuk aja, aku mau ke rumah teman dulu." jawab Toni. " Oh, iya hati hati di jalan. mas masuk ya." kata Iwan.


Iwan masuk dan mengetuk pintu kamar Rena. Rena membuka pintu kamar dan keluar. "Ada apa ?" tanya Rena yang tampak lesu dan menyedihkan. "Kamu baik- baik aja kan ? Aku cemas mikirin kamu, kenapa kamu nggak menjawab telfonku, kenapa kamu nggak menjawab pesanku? Kamu masih marah sama aku ?" tanya Iwan panjang lebar. Rena menghembuskan nafasnya berat. "Nggak bisa satu satu ya tanya nya ?" ucap Rena. "Maaf sayang, mas udah nyakitin kamu." kata Iwan penuh penyesalan. Rena tersenyum getir. "Heran ya cuma maaf terus yang bisa kamu ucapin. malu dong sama wajah tampan kamu karna perbuatan kamu nggak setampan wajahmu." kata kata Rena seakan menusuk hati Iwan. Tapi Iwan sadar, wajar Rena berkata seperti itu karna memang kenyataannya perbuatan Iwan sangatlah tercela. "Mas akan tanggung jawab sayang mas akan yakinkan kedua orang tua mas agar mereka mau menerima kamu." kata Iwan.

__ADS_1


"Mas sayang kamu dik, mas hanya mau kamu yang menjadi istri mas." Iwan berkata sambil memeluk Rena. Dia berharap sikap Rena akan lembut seperti dulu, dia berharap Rena percaya padanya. "Kamu jangan sedih lagi ya."kata Iwan lagi.


Iwan memeluk Rena begitu lama dan Rena hanya diam tanpa membalas pelukan itu


" Kamu udah makan sayang ?" tanya Iwan. "Belum." jawab Rena singkat. "Kamu mau makan sesuatu ? biar aku beli kan atau kita makan di luar ?" Tanya Iwan lagi. Rena hanya menggeleng. "Ayo lah sayang jangan gitu terus, kamu harus makan mas nggak mau kamu sakit." bujuk Iwan. " Lhoh kan yang buat aku kayak gini kamu mas. Kamu yang udah merusak hidupku, ngapain juga kamu masih sok peduli sama aku ? Biarin lah mau aku sakit mau aku mati sekalian kamu nggak usah peduli!" Ucap Rena marah.

__ADS_1


"Rena ! cukup ya, aku udah minta maaf sama kamu dan aku berjanji akan bertanggung jawab. Tapi kenapa kamu selalu menyudutkan ku ? Aku tahu aku bersalah untuk itu aku akan bertanggung jawab." Bentak Iwan yang mulai emosi. "Tolong kamu mengerti sedikit saja, aku hanya tidak mau kamu sakit dan aku memang benar benar peduli sama kamu bukan sok." Imbuh Iwan dengan mata melotot yang menyeramkan.


Rena hanya diam dan membuang muka. "Apa ini ? harusnya aku yang marah kenapa malah dia yang marah. Terlihat begitu menyeramkan. Dasar aneh aku seperti tidak mengenali Iwan ku yang dulu." Kata Rena dalam hati. " Maaf mas kasar sayang, kamu jangan memancing emosi mas." kata Iwan pelan. " Ya udah kalau kamu nggak mau makan sekarang tapi nanti kamu makan ya, kamu tunggu disini mas akan beli makanan untukmu." kata Iwan lembut sambil tersenyum tampan. Rena hanya diam.


Iwan kembali membawa makanan untuk Rena. " Nanti kamu makan ya, mas mau pamit dulu besok mas kesini lagi." kata Iwan lembut. Rena hanya mengangguk. "Aneh dia seperti dua orang yang berbeda." batin Rena. " Ya udah mas pulang dulu." pamit Iwan.

__ADS_1


__ADS_2