
Rena berjalan meninggalkan Iwan yang masih terus menatap nya. "Bohong jika aku tidak sakit melihat orang yang aku cintai telah menjadi milik orang lain, tapi aku akan lebih sakit jika terus hidup bersama pengkhianat seperti Iwan. Hatiku telah hancur dan kini biarkan aku sendiri menata hidup dan hatiku kembali tanpa ada bayang bayang mu lagi. Terima kasih untuk luka dan air mata ini. Terima kasih telah memberi pelajaran hidup yang berharga untukku. Ya Allah terima kasih karna kasih sayang Mu aku bisa sekuat dan setegar ini." Batin Rena. Dia menghapus air mata yang sempat menetes di pipi nya.
"Mbak, mbak Rena nangis ? mbak Rena nangis in Iwan ?" Tanya Toni penasaran.
Rena tersenyum dia menggenggam tangan Toni. "Tidak Ton, mbak hanya menangis karna Allah masih sayang sama mbak, menunjuk kan pada mbak siapa Iwan sebenarnya." jawab Rena.
Iwan mengangguk dan mengajak Rena pulang. "Ton, kamu tidak lapar ? Mbak ingin sekali makan bakso." Rena mengajak Toni makan bakso.
"Toni nggak lapar mbak, kita makan bakso besok saja ya mbak, Toni lagi males makan." ucap Toni.
Rena hanya menggeleng kan kepala nya, dia tahu jika adik nya itu sedang tidak enak hati atau boleh di bilang sedang sedikit marah karena Iwan yang tanpa rasa malu ingin memeluk Rena.
Setelah kepergian Rena, Iwan memilih meninggalkan acara resepsi pernikahan nya. Dia duduk di taman seorang diri. Pikiran nya kosong, mata nya menatap ke sembarang arah.
Seseorang datang dan menepuk pelan bahu Iwan. " Kamu disini ? Kenapa melamun ? Sinta mencari mu Iwan." Kata orang itu yang tidak lain adalah Pak Rudi, bapak nya.
__ADS_1
Iwan hanya diam tanpa menoleh ke arah Pak Rudi. "Iwan, sekarang Sinta adalah istri mu. Cintai dia, sayangi dia." Kata Pak Rudi lagi.
"Aku sudah menuruti kemauan bapak, dan ibu. Menikahi Sinta dan menceraikan Rena. Dan sekarang baru aku menyadari jika ini semua menyakit kan. Hidup ku hancur. Aku membunuh bayi ku sendiri, menyakiti Rena. Aku merusak hidup Rena." ucap Iwan sambil meneteskan air mata nya. Dia mengusap wajah nya kasar.
Pak Rudi terdiam. Dia menyadari jika semua yang terjadi adalah juga kesalahan nya. "Iwan belajar lah mencintai Sinta, kalian pasti bisa hidup bahagia." ucap Pak Rudi sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Iwan.
Rena telah sampai di rumah nya dia segera berganti pakaian dan mencari ibu nya. Saat itu Bu Susi sedang berada di dapur. Rena datang dan memeluk ibu nya.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Bu Susi.
"Sudah bu." jawab Rena. "Apa mereka menyakiti mu ?" Tanya Bu Susi lagi.
Bu Susi tersenyum dan mengusap pipi Rena. "Semoga kamu segara menemukan laki laki yang baik, sholeh dan penuh kasih sayang sebagai pengganti Iwan sebagai imam mu nak. Ibu akan terus mendoakan kamu dan adikmuu. Kalian anak anak ibu yang sangat ibu cintai." batin Bu Susi sambil terus menatap wajah Rena yang sekarang terlihat makin berseri.
Tiga bulan sudah Iwan dan Sinta menikah. Tapi Sinta belum hamil juga hamil. Sinta mulai gelisah dia melakukan berbagai cara agar diri nya lekas hamil. Mulai pergi ke dokter kandungan sampai mengkonsumsi obat obatan herbal.
__ADS_1
Hari ini Sinta merasa tidak enak badan. Dia merasa pusing dan mual bahkan dia terlihat beberapa kali muntah muntah seharian ini.
wajah nya juga tampak pucat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Happy Reading...