
Rena berangkat ke rumah sakit tempat Sinta di rawat bersama Adi, suaminya. "Ada apa y mas kenapa perasaanku tidak enak ? kenapa Sinta begitu ingin bertemu dengan aku ?" Rena tampak sangat gelisah.
"Entah lah sayang, mas juga tidak tahu. Mungkin Sinta hanya merindukan mu. Jadi kamu tidak usah punya pikiran yang tidak tidak ya. Ingat ibu hamil tidak boleh stres." ucap Adi sambil menampilkan senyum manis nya.
"Ibu hamil ? Maksud mas ?" tanya Rena yang semakin tak mengerti mengerti dengan ucapan suaminya.
Adi tersenyum dan mengusap kepala isteri nya. "Sayang telat datang bulan kan ? sepertinya kamu hamil sayang." ucap Adi dengan fokus menyetir tanpa menoleh ke arah Rena
"Iya sih aku memang telat datang bulan tp masih beberapa hari. Masak iya aku hamil. Ah mas dari mana mas tahu. Mas menggodaku saja." ucap Rena sambil mengerucutkan bibir nya.
Hey, sayang jangan lupa suami mu ini seorang dokter. Ya meskipun bukan dokter kandungan tapi Aku sedikit sedikit juga mengerti ciri ciri orang yang sedang hamil. Ok.. Nanti kita sekalian periksa ke dokter kandungan ya. Kita lihat kamu hamil atau tidak ya." ucap Adi sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Rena hanya diam. " Apa iya aku hamil ?" Batin Rena sambil mengusap perut rata nya.
Adi hanya melirik isterinya yang tampak mengusap perut ratanya dan tangan Adi juga ikut mengusapnya. "Sehat sehat di perut bunda yah anak ayah." ucap Adi sambil tersenyum.
"Mas aahh jangan seperti itu, Aku takut nanti kecewa kalau ternyata aku belum hamil." ucap Rena manja.
Lagi lagi Adi hanya tersenyum dan menarik Rena untuk menyandarkan kepala nya di bahu Adi.
Tanpa terasa Mereka telah sampai di rumah sakit dan Anto, sepupu Sinta telah menunggu mereka di parkiran.
Rena dan Adi segera turun dan berjalan ke arah Anto yang nelambaikan tangan dan tersenyum pada mereka.
Mari mbak Rena, Mas Adi saya antar ke ruangan Sinta di rawat. Kebetulan Sinta baru saja di pindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
Rena mengangguk dan berjalan mengikuti Anto. Adi menggenggam tangan isterinya. Berusaha menenangkan Rena yang tampak sangak gelisah.
Mereka telah sampai di ruang tempat Sinta di rawat. Anto mengetuk pintu lalu masuk dan di ikuti oleh Rena dan Adi. Tampak Orang tua Sinta sedang menangis berharap Sinta bisa melewati masa kritisnya dan segera membuka mata.
Ibunya Sinta, berjalan mendekati Rena dan memeluk Rena. " Maafkan aku nak, maafkan juga anakku Sinta. Dia sangat berharap bisa bertemu denganmu dan meminta maaf atas perbuatan nya dulu padamu nak." ucap Ibu Sinta sambil menangis.
"Ibu, Rena sudah memaafkan Sinta, sungguh Rena benar benar sudah memaafkan Sinta bu." Ucap Rena yang ikut menangis.
Rena kemudian mendekati Sinta yang terbaring lemah dengan beberapa selang yang menempel di tubuh nya.
"Sinta.. Bangun lah aku ada disini." ucap Rena sambil mengusap lembut tangan Sinta.
Perlahan Sinta membuka mata. Air mata menetes di sudut mata Sinta. " Rena.. maafkan aku. Sungguh aku minta maaf atas semua perbuatan ku dulu padamu. Aku jahat Rena. " ucap Sinta dengan suara yang sangat lemah. Sinta berusaha menggenggam tangan Rena.
Rena tersenyum dan mengangguk. " Aku sudah memaafkan mu Sinta. Kamu harus kuat ya, ada bayi mu yang butuh kamu ada orang tua mu yang sangat menyayangimu." ucap Rena sambil ikut menangis dan menggenggam tangan Sinta.
Ibu Sinta segera menghubungi perawat dan meminta agar bayi Sinta di bawa ke ruangan Sinta.
Perawat telah tiba dan masuk ke ruangan Sinta dengan mendorong trolli bayi.
Tampak seorang bayi mungil dan tampan sedang tertidur pulas. Perawat itu meletakkan bayi Sinta di atas dada Sinta.
Sinta tersenyum dan mengusap air matanya.
"Anak mama, maafkan mama ya sayang yang tidak bisa menjaga mu. Mama sayang kamu." ucap Sinta lirih.
__ADS_1
"Sinta, jangan bicara seperti itu. Kamu pasti sembuh dan bisa merawat bayi mu. Lihat lah dia begitu tampan dan lucu sekali."ucap Rena berusaha memberi semangatbpada Sinta.
"Ibu, bapak..Sinta titip anak Sinta ya, didik dia agar bisa menjadi anak yang sholeh dan bertanggung jawab. Sinta minta maaf juga sama bapak dan ibu karena Sinta mungkin banyak sekali kesalahan." Ucap Sinta sambil mencium tangan orang tuanya.
"Nak, bapak dan ibu selalu memaafkan dan menyayangimu. kamu harus sembuh kita rawat bayi kamu sama sama ya." ucap bapak Sinta sambil terus menangis.
Tiba tiba nafas Sinta menjadi sesak, perawat segera mengambil bayi Sinta dan meletak kan nya ke trolli lagi dan segera memanggil dokter.
Semua yang ada di ruangan itu menangis histeris. Dokter dan perawat masuk dan meyuruh mereka semua keluar.
Rena menangis dipelukan suami nya. Dan beberapa saat kemudian Dokter keluar dan menyampaikan bahwa Sinta meninggal.
Rena menangis dan memeluk suaminya. Orang tua Sinta tak kuasa menerima kenyataan bahwa anak mereka telah meninggal. Ibu Sinta sampai jatuh pingsan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Haappy Reading