Luka & Air Mata

Luka & Air Mata
Bab 61


__ADS_3

Tiga bulan sudah Rena tinggal bersama Bu Sarah. Semakin hari Bu Sarah semakin menyayangi Rena. Rena yang rajin, pekerja keras dan baik hati. Toko Perlengkapan muslimah Bu Sarah semakin ramai sejak ada Rena. Bahkan Bu Sarah menyuruh Rena yang mengurus toko itu, sementara Bu Sarah tinggal di rumah menikmati hari harinya merawat bunga bunga kesayangan nya.


Hari itu Sinta yang sedang hamil empat bulan akan melakukan pemeriksaan rutin. Dia menunggu Iwan yang dari tadi belum pulang bekerja. Sinta semenjak hamil dia hanya bisa berbaring di tempat tidur di karena kan kandungan nya sangat lemah.


Jangan kan untuk berjalan untuk bangun dari tidur nya saja Sinta harus di bantu orang lain. Sinta semakin kurus saja bahkan perut nya pun belum tampat membuncit meskipun sudah berusia empat bulan. Terkadang saat batuk saja akan keluar flek darah dari jalan lahir, seperti orang datang bulan.


Ya kandungan Sinta bergantung pada obat penguat kandungan dan obat obat lainnya yang di anjurkan dokter kandungan Sinta.


Sinta meraih ponsel nya dia akan melakukan panggilan pada Iwan. Belum sempat tersambung ternyata Iwan sudah sampai rumah dan langsung masuk kamar menemui Sinta.


"Maaf Sinta aku terlambat pulang." ucap Iwan.


"Kamu tuh kemana aja sih mas ? Kamu lupa ya ini jadwal aku periksa kandungan ? Atau kamu tidak sayang dengan anak kamu yang ada di perut ku ini.?" Ucap Sinta marah marah.


Iwan yang merasa lelah karena baru saja pulang kerja pun menjadi sedikit emosi.

__ADS_1


"Hei.. jaga ucapan kamu. Mana mungkin aku tidak sayang dengan anak ku sendiri. Aku sudah meminta maaf karena pulang terlambat, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Iwan bicara dengan nada kesal.


"Mas, kamu itu kerja di perkebunan milik ku, milik kita lalu kenapa kamu harus terlambat dengan alasan banyak kerjaan, kamu bisa kan meninggalkan pekerjaan mu sebentar demi aku dan anakmu. " Sinta masih mengomel.


"Sinta !! Ok ok Sinta aku memang bekerja di perkebunan milik mu, aku hanya pekerja mu. Tapi aku juga punya tanggung jawab dalam bekerja. Aku tidak melupakan kewajiban ku sebagai suami mu. Aku terlambat karena banyak pekerjaan, bukan karena main main."Iwan bicara sedikit berteriak.


"Sudah lah aku lelah berdebat dengan mu. Mau periksa atau tidak ? Atau hanya ingin bertengkar terus ?" Iwan menatap Sinta tajam.


" Tidak perlu mengantarkan aku, aku bisa pergi bersama supir dan biar bibi yang menemani ku." jawab Sinta ketus.


Sinta kemudian memanggil asisten rumah tangga nya dan menyuruh membantu dia bangun dan duduk kursi roda. Setelah itu.mereka berangkat ke rumah sakit.


Iwan duduk di kursi kamarnya. Dia memainkan ponselnya karena merasa bosan dia memutuskan untuk keluar dia ingin pergi yah sekedar ke cafe untuk ngopi dan menenangkan pikiran nya sejenak.


Iwan telah sampai di cafe, dia memesan kopi hitam dan makanan ringan. Beberapa saat kemudian pesanan Iwan datang, Iwan menyruput kopi nya sedikit demi sedikit, tapi saat bersamaan tanpa sengaja ada perempuan yang berjalan dan menyenggol tangan Iwan. Kopi Iwan tumpah dan mengenai baju Iwan. Perempuan itu panik dan ingin membersihkan baju Iwan dengan tisu, Saat tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Iwan tersenyum dan perempuan itu juga tersenyum.

__ADS_1


"Maaf, maaf saya tidak sengaja." ucap perempuan itu.


Iwan tersenyum. "Tidak apa apa cuma ketumpahan sedikit kok. Eeh tunggu.. Bukannya kamu Nadia, temannya Sinta ?" Ucap Iwan.


"Iya, kamu... kamu oh ya kamu suami Sinta, siapa namamya? Iwan, ah Iya Iwan betul kan ?" Kata perempuan itu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


..Happy Reading..


__ADS_2