
Bu Susi yang mengetahui ada yang datang segera kedepan. Bu Susi menepuk pelan bahu Rena. "Siapa yang datang Ren ?" Tanya Bu Susi yang sudah tidak melihat ada tamu.
"Oh itu tadi ada kurir mengantar surat bu, ini surat cerai Rena dan undangan resepsi pernikahan Iwan dan Sinta." Ucap Rena pada ibu nya.
"Undangan ? untuk apa mereka mengundang mu ? Mereka benar benar seenak nya. Dengan sengaja menyakiti mu." ucap Bu Susi marah.
"Bu... tidak apa. Rena baik baik saja. Dan Rena akan datang memenuhi undangan mereka bu." Rena tersenyum pada ibu nya.
"Apa ? kamu yakin ?" tanya Bu Susi ragu.
Rena mengangguk dan tersenyum. "Rena ingin tunjukkan pada mereka bu bahwa Rena jauh lebih baik setelah lepas dari Iwan." Ucap Rena mantap.
Bu Susi tersenyum.. "Ibu bangga pada mu nak. Kamu wanita yang kuat dan tegar." Bu Susi menggenggam tangan Rena.
Iwan yang tengah duduk di kursi ruang tamu rumahnya terkejut saat Sinta duduk di samping nya. " Sayang kamu mikirin apa sih ?" tanya Sinta manja.
"Tidak ada, aku hanya merasa sedikit lelah."Ucap Iwan yang menampilkan senyum yang dia paksakan.
Akhir akhir ini memang Iwan lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja pada Sinta. Iwan tiba tiba ingat tentang Sinta yang dulu mengatakan kalau dia hamil. Iwan menatap Sinta.
__ADS_1
"Sinta, bagaimana kehamilan mu? Berapa usia kandungan mu ?"Tanya Iwan tiba tiba.
Sinta terlihat gugup dan bingung mencari alasan karna sebenarnya dia memang bohong tentang kehamilan nya.
"Eemm.. itu eemm.. aku aku aah entah lah mas saat itu aku tiba tiba mengalami kram perut dan esok pagi nya aku datang bulan." ucap Sinta gugup.
Iwan menatap tajam pada Sinta wajah Iwan terlihat menakutkan hingga Sinta berusaha memalingkan wajah nya.
"Jadi kamu tidak hamil?" Tanya Iwan geram.
Sinta bingung memikirkan jawaban apa lagi. Dia memilih pergi meninggalkan Iwan dan masuk ke dalam kamar.
Iwan menghentikan mobil nya dia turun dan perlahan berjalan menuju teras rumah yang tampak kotor itu. Dia duduk dan mengingat kembali masa masa dengan Rena.
"Hanya disini aku bisa mengenangmu sayang, karna aku tidak punya nyali untuk menemui mu. Aku terlalu malu, malu sekali. Aku bodoh dan aku sekarang terjerat dalam permainan Sinta." Iwan berbicara sendiri. Dia menjambak rambut nya .
Sinta yang berada di kamar segera menelfon Bu Ratih mertuanya. Dia meminta tolong pada Bu Ratih agar bicara pada Iwan dan agar Iwan tidak marah lagi pada nya.
Hp Iwan berbunyi ada notifikasi pesan yang masuk. Iwan melihat ibu nya yang mengirim pesan. " Iwan jangan kamu marah pada Sinta ingat dia yang memberimu kemewahan, mungkin saat ini dia belum hamil tapi ibu yakin Sinta pasti akan segera hamil. Kamu cepat lah pulang Sinta mengunggu mu." Isi pesan itu.
__ADS_1
Iwan tersenyum getir dia memasukkan kembali hp nya ke dalam saku celananya. "Aku seperti boneka mainan Sinta." ucap Iwan sambil masuk ke dalam mobil dan mobil berjalan perlahan.
Setelah sampai rumah Iwan segera masuk dan mandi. Setelah mandi dia merebahkan tubuh nya di tempat tidur. Dia ingin tidur karna merasa lelah. Lelah hati dan pikiran. Dia mengabaikan Sinta yang dari tadi menunggunya di sofa dalam kamar.
.
.
.
.
.
.
.
.Happy reading.
__ADS_1