
Semenjak hari itu, Iwan dan Nadia menjadi lebih sering bertemu. Iwan banyak bercerita kepada Nadia tentang kehidupan rumah tangga nya sengan Sinta. Iwan mengaku jika mereka tidak bahagia bahkan mereka sering bertengkar karena sifat Sinta yang selalu mengekang Iwan.
Hari itu Iwan dan Nadia akan bertemu kembali di cafe tempat mereka bertemu kapan hari. Iwan yang sudah bersiap siap dan berganti pakaian akan segera berangkat. Sinta dari tadi hanya memperhatikan Iwan tanpa berkata apapun. Sinta merasa aneh karena suaminya sering sekali keluar rumah.
"Mas, kamu mau kemana ?" Tanya Sinta yang sudah tidak tahan dengan rasa penasaran nya.
"Aku akan keluar sebentar bertemu teman lama ku."Jawab Iwan sambil menyemprotkan parfum ke badan nya.
"Mas, aku tidak mau kamu pergi, aku mau kamu menemaniku."Sinta mencoba melarang Iwan pergi.
"Iya nanti aku temani tapi sekarang aku harus pergi dulu, sebentar saja tidak akan lama." ucap Iwan.
Ponsel Iwan berdering ada panggilan dari Nadia. "Iya, hallo tunggu aku akan segera datang." Iwan berkata di telfon.
"Aku harus pergi Sinta, nanti aku akan menemanimu." ucap Iwan dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Sinta.
Iwan tidak lagi menghiraukan teriakan Sinta yang memanggilnya.
"Ada apa ini ? kenapa perasaanku tidak enak sekali. Apa Mas Iwan menyembunyikan sesuatu ?Apakah mungkin dia berselingkuh ? kenapa dia berpakaian sangat rapi dan wangi jika hanya ingin bertemu teman lamanya ? tidak seperti biasanya." Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam pikiran Sinta..
__ADS_1
"Aw aduh.. perutku sakit sekali." Sinta memegang perutnya yang kram. Karena Sinta tidak boleh stres dan banyak pikiran mengingat kandungan nya yang sangat lemah.
Sinta segera meminum obat nya dan lekas istirahat, dia juga mencoba menenangkan pikiran nya.
Sementara Iwan dan Nadia bertemu, mereka berbincang dan bercanda sesekali mereka tertawa bersama. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Iwan segera pamit pulang begitu juga dengan Nadia.
Sinta terbangun dari tidurnya, dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia melihat tidak ada Iwan di sampingnya.
"Jadi kamu belum pulang mas, tega sekali kamu, kenapa sesakit ini hati ku ? Di saat aku lemah dan membutuhkan suami ku dia tidak ada di sampingku." Ucap Sinta lirih tanpa terasa air matanya menetes.
"Sedih sekali rasa nya. Mungkinkah seperti ini yang Rena rasakan dulu ? Saat Iwan bersama ku ?" Air mata Sinta semakin deras menetes.
Tak lama kemudian Iwan telah sampai di rumah. Iwan segera masuk ke kamar nya dan menuju ke kamar mandi untuk betganti pakaian tidur. Iwan mengira Sinta sudah tidur. Perlahan Iwan naik ke ranjang dan masuk ke dalam selimut dan tertidur.
Semenjak Sinta hamil dan kandungan nya lemah, Iwan memang tidak pernah menyentuh Sinta dengan alasan takut membahayakan Sinta dan janin nya. Memang alasan itu masuk akal tapi jika sekedar tidur dengan memeluk dan mendekap Sinta itu juga tidak pernah Iwan lakukan.
"Mas, mas bangun." Ucap Sinta membangunkan Iwan. "Ada apa Sinta, aku ngantuk aku lelah." jawab Iwan.
"Aku haus mas, aku ingin minum bisa tolong ambilkan air putih." Sinta mrminta bantuan Iwan.
__ADS_1
"Aah kamu ini manja sekali Sinta, bukankah air minum ada di meja samping mu. Dulu Rena tidak semanja kamu meskipun dia hamil." Ucap Iwan dengan masih menutup mata nya.
Iwan sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Sementara Sinta hatinya bagai di remas. "Tega sekali kamu membandingkan aku dengan mantan istrimu." ucap Sinta sambil menangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Happy Reading.. Maaf telat up ya.. Author lagi kurang enak badan. Semoga kalian semua selalu sehat ya teman teman pembaca setia kuuhh.. Love u all