Luka & Air Mata

Luka & Air Mata
Bab 80


__ADS_3

Pemakaman Sinta telah selesai di lakukan. Semua pelayat telah meninggalkan area pemakaman, hanya tinggal Rena, Adi dan kedua orang tua Sinta, Pak Hasan dan Bu Nani.


Bu Nani terus menangis memeluk nisan yang bertulis nama Sinta. "Sudah bu, jangan menangis kasihan Sinta jika ibu tidak bisa mengikhlaskan nya. Sudah ya, sekarang kita harus kuat dan harus menjaga amanah yang Sinta berikan, cucu tampan kuta bu." ucap Pak Hasan.


Bu Nani mengangguk dan perlahan berdiri. "Rena, tolong maafkan putri ibu ya, dan terimakasih kamu mau datang menemui Sinta yang sangat ingin bertemu denganmu nak." ucap Bu Nani.


"Iya, bu sama sama. Ibu sama bapak yang kuat ya. Insyaallah jika nanti ada waktu, Rena akan main dan menengok si tampan lucu itu." ucap Rena sambil tersenyum.


"Iya nak, main main lah ke rumah kami tengok lah kami. Kami pasti menunggumu." ucap Pak Hasan.


Kemudian mereka pamit pulang senentara Rena masih diam terpaku menatap gundukan tanah merah yang bertabur bunga itu.


"Sinta, tenanglah kamu disana. Aku sudah memaafkanmu." ucap Rena dalam hati.


"Sayang, ayo kita pulang. Kita harus bersiap untuk pulang ke rumah nanti sore." Ucap Adi sambil nengusap kepala isterinya.


Rena tersadar dari lamunan nya." Iya mas, ayo kita pulang." Ucap Rena sambil tersenyum.


Saat mereka berjalan pulang, ada seseorang yang memanggil Rena. " Rena.." suara seorang laki laki itu.


Rena menengok ke arah suara itu dan ternyata yang memanggilnya adalah Pak Rudi, orang tua Iwan. Pak Rudi mendekati Rena dan Adi. Pak Rudi yang mendengar berita kematian Sinta juga datang melayat tetapi dia tidak berani mendekat. Dia ganya menyaksikan dari jauh.


"Bapak." ucap Reba sambil mencium tangan pak Rudi. "Mas, kenalkan ini Pak Rudi orang tua Iwan. Dan pak kenalkan ini suami ku Mas Adi." ucap Rena mengenalkan mereka.


Adi tersenyum dan bersakaman dengan Pak Rudi.


"Ini, suami mu nak ? Tampan sekali." puji pak Rudi.


Rena tersenyum. "Iya pak ini suami Rena. Oh ya bapak apa kabar ? ibu juga apa kabar ?" tanya Rena.


Pak Rudi terdiam aur mata nya mulai menetes. "Rena bapak mohon sama kamu, maafkan bapak dan almarhumah ibu ya. Kami dulu yang telah menyakiti mu. Kami dulu begitu jahat padamu." ucap Pak Rudi sambil mengusap air matanya

__ADS_1


"Jadi ibu sudah meninggal pak ?" Tanya Rena yang ikut menangis.


"Iya nak, semenjak Iwan dan Sinta bercerai ibu jadi sakit sakitan dan sebulan yang lalu meninggal dunia dan Iwan wakti itu di usir oleh ibu, dia jadi gelandangan yang tidak punya tempat tinggal dan dia nekat mencopet dompet seseorang tapi dia ketahuan dan di keroyok masa, sekarang dia lumpuh." ucap Pak Rudi.


Rena menatap suaminya, Adi mengusap kepala Rena. "Kita ke makam ibu nya Iwan sayang. " ucap Adi pada Rena.


"Benar kah.. benarkah kalian sudi menengok makam isteriku yang dulu begitu jahat padamj Rena. Ya Allah terima kasih nak. Aku sangat senang. Ayo di sebelah sana makam nya." Pak Rudi bahagia karena Adi dan Rena mengunjungi makam isterinya.


Mereka telah sampai di makam Bu Ratih, Rena dan Adi mengirim do'a setelah selesai mereka pamit pulang pada Pak Rudi.


"Pak, kami pamit pulang dulu ya. Salam untuk mas Iwan." ucap Rena.


"Rena tolong maaf kan Iwan, dan jika kamu berkenan tengok lah Iwan. Kami sekarang tinggal di kontrakan dekat sini." ucap pak Rudi.


"Apa.. Kontrakan ? Bukankah dulu mereka termasuk orang mampu dan semenjak Iwan menikahi Sinta hidup mereka juga jadi mewah. Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Rena dalam hati.


"Baik lah kita mampir sebentar sayang mumpung kita disini." ucap Adi pada Rena.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai. Mereka segera turun.


"Ya Allah mereka tinggal di kontrakan kumuh dan kecil seperti ini. Kasihan sekali mereka Ya Allah. Tidak tega jika melihat nya. Dan Pak Rudi dia juga terlihat kurus, dekil dan lusuh sekali. Ya Allah pak.. Maafkan Rena yang tidak tahu keadaan kalian selama ini." ucap Rena dalam hati sambil mengusap air mata nya.


"Mari masuk nak." ucap Pak Rudi.


Adi menggenggam tangan isteri nya dan masuk ke dalam, betapa terkejut nya mereka melihat Iwan yang duduk di kursi roda dengan tubuh yang kurus, dekil dan pucat.


"Rena, kamu kah itu. Maafkan aku Rena.. maafkan aku yang jahat dan menyakiti mu dulu. Aku minta maaf."Ucap Iwan sambil menangis dan menciumi tangan Rena.


"Iya mas, aku sudah memaafkan mu, tapi tolong lepaskan tangan ku mas, eem kenal kan ini mas Adi, suamiku." ucap Rena yang sebenarnya agak risih karna Iwan terus mnggenggam dan menciumi tangan nya.


"Iya, aku tahu ini suami mu. Titip Rena ya jaga dia." ucap Iwan pada Adi.

__ADS_1


"Tentu aku akan menjaga Rena ku.. Karena dia istriku, istri yang sangat aku cintai." jawab Adi sambil tersenyum manis.


"Ya sudah kami harus pamit ya pak, Iwan. Lain kali kami akan mampir lagi kesini. Oh ya pak, ini ada sedikit rezeki tolong di terima untuk membantu pengobatan Iwan dan sisa nya bapak bisa buat modal usaha kecil kecilan ya. Semoga bermanfaat. jangan sungkan kita adalah saudara ya." ucap Adi.


Pak Rudi menangis dan berterima kasih menerima bantuan itu. "Ya Allah terima kasih ternyata masih ada yang peduli dengan kami. Semoga keluarga kalian bahagia dan rezeki kalian bertambah berkah ya." ucap Pak Rudi.


Adi dan Rena tersenyum dan pamit pulang.


"Masyaallah suami ku sudah tampan baik hati pula.. Aduuhh makin jatuh cinta saja aku."Ucap Rena samb tersenyum memandangi suami nya yang sedang fokus menyetir.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.Happy Reading.


jangan lupa like, comment, n vote ya teman teman

__ADS_1


__ADS_2