Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Rujuklah denganku


__ADS_3

Farhan dan Amira masih ngobrol-ngobrol dibelakang toko.  Mereka masih membicarakan soal Zia dan Bu Aminah. 


Amira ikut meneteskan air matanya saat melihat Farhan menangis. Mungkin masih ada penyesalan dalam diri Farhan karena sudah menyia-nyiakan Amira dulu. 


"Yang sabar ya Mas. Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar kemampuan hamba Nya. Dan percayalah, setiap musibah pasti akan ada hikmahnya. Kamu yang sabar ya Mas," ucap Amira mencoba untuk menenangkan Farhan. 


"Amira, kenapa hidup aku jadi hancur begini Amira. Kenapa Allah selalu ngasih cobaan padaku dengan cobaan yang bertubi-tubi. Rasanya, aku sudah tidak sanggup Amira. Jika ibu meninggal, bagaimana dengan aku Amira, aku nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Hiks…hiks." ucap Farhan di sela-sela tangisannya.


"Mas, jika Allah memberikan kamu cobaan yang bertubi-tubi, itu tandanya Allah itu masih sayang sama kamu. Kamu doakan saja semoga ibu kamu diberikan umur panjang dan di berikan kesembuhan."


Farhan menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Dia sebenarnya malu,harus menangis di depan Amira. Tapi dia  seperti sudah tidak sanggup untuk menjalani kehidupannya yang sekarang. 


Kehidupannya yang dulu dengan yang sekarang sangat  jauh berbeda. Dulu Farhan tidak pernah hidup susah dan berkekurangan. Sementara sekarang kebalikannya, dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Istri barunya pun sekarang sudah meninggal. 


Dan hidupnya pun sekarang  pas-pasan bahkan bisa di bilang susah karena Farhan jarang pegang uang. 


"Kenapa Amira, kenapa dulu aku harus menyakitimu. Maafkan aku Amira, aku menyesal, aku sudah membuat keluarga kita hancur, seandainya waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan pernah menikah dengan wanita lain. Aku ingin bertahan dengan kamu dan Laila saja," gumam Farhan di dalam tangisannya. 


Farhan sejak tadi masih meratapi nasibnya yang berubah drastis setelah dia menikah lagi dengan Zia. Entah apa yang salah, Allah sepertinya saat  ini sedang menghukum Farhan karena kelalaian Farhan dalam mengingat nikmat yang Allah berikan itu. 


Farhan menangis sembari sesekali dia mengusap air matanya. 


"Mas, jangan seperti ini Mas. Mana Mas Farhan yang dulu aku kenal. Mas Farhan yang selalu tegar dalam menghadapi semua cobaan, bukan Mas Farhan yang rapuh seperti ini. Apakah kamu sudah tidak percaya dengan takdir?" ucap Amira yang membuat Farhan menghentikan tangisannya. 


Farhan kemudian mengusap air matanya dan menatap Amira lekat.


"Aku percaya Amira. Dan aku selalu berharap, kalau takdir aku itu dipersatukan lagi dengan kamu. Aku masih mengharapkan kamu kembali lagi sama aku. Dan kita memulai kehidupan kita yang baru," ucap Farhan..


Amira terdiam. Sepertinya saat ini Farhan masih menginginkan kembali bersama Amira. Namun belum tentu Amira mau menerimanya.  Dan belum tentu orang tua Amira setuju dan mau menerima Farhan jadi menantunya, setelah apa yang sudah Farhan perbuat pada Amira.  


"Amira, sebenarnya aku ke sini, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Farhan menatap Amira lekat. 


"Bicara apa Mas?" tanya Amira. 


"Amira, bagaimana kalau kita rujuk.  Aku mau kita memperbaiki hubungan kita yang dulu Amira. Bagaimana kalau kita menikah lagi demi Laila. Aku janji Amira, aku tidak akan pernah mengecewakan kamu dan menyakiti hati kamu lagi."


Amira terkejut saat mendengar ucapan Farhan. Tidak pernah terbersit  sedikit pun di hati Amira  untuk rujuk dengan Farhan. 


Amira hanya tersenyum. 


"Maaf Mas. Kalau itu sepertinya aku nggak bisa," ucap Amira. 


"Kenapa Amira? apakah kamu belum memaafkan aku? atau kamu masih membenciku?" tanya Farhan. 

__ADS_1


"Bukan itu Mas. Aku udah maafin kamu kok dan aku sama sekali tidak pernah membenci kamu.  Tapi aku sudah punya calon suami."


Farhan terkejut saat mendengar ucapan Amira. 


"Apa! punya calon suami? siapa?" tanya Farhan. 


"Namanya Farid Abdurahman. Dia cucunya  kyai Hanafi, kyainya bapak waktu bapak mondok dulu," jelas Amira. 


Farhan menghela nafas dalam. Dia kemudian mengusap wajahnya kasar. 


"Ja-jadi, kamu sudah mau nikah sama dia?" tanya Farhan serius. 


"Belum sih Mas. Tapi kami lagi ta'arufan."


"Dia sudah melamar mu?"


"Belum juga Mas. Aku dan dia baru kenal setengah bulanan ini. Dan kami lagi mencoba untuk dekat."


Farhan kembali lagi meneteskan air matanya. Namun dia segera mengusapnya kasar. 


"Tapi kamu belum punya rasa kan sama dia?" tanya Farhan. 


Farhan berharap, Amira masih mau memberikan kesempatan ke dua untuknya. 


"Entahlah Mas. Aku nggak tahu. Aku saja baru mengenalnya."


"Dia duda?"


"Bukan Mas. Dia masih bujangan."


"Kenapa kamu nggak  gagalin saja Amira perjodohan itu dan rujuklah kembali dengan ku. Kita buka lagi lembaran baru di kehidupan kita yang baru. Masih ada kesempatan kan Amira untuk aku balik lagi sama kamu?" tanya Farhan. 


"Sepertinya kita sudah nggak akan bisa bersama lagi Mas. Ibu dan bapak aku juga sepertinya tidak akan pernah merestui hubungan kita. Dan aku tidak akan menikah dengan seorang lelaki tanpa restu orang tua."


Farhan menghela nafas dan mengusap kembali  air mata yang ada di pojok  matanya. 


"Baiklah, jika kamu tidak mau rujuk lagi denganku, nggak apa-apa. Aku ikhlas kamu bersama lelaki lain. Aku ini memang nggak pantas buat kamu. Karena aku sudah  sering sekali menyakiti kamu."


"Sudahlah Mas. Yang berlalu biarlah berlalu. Kita jalani saja kehidupan kita yang baru. Sekarang kita sudah bukan suami istri lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Tapi tidak apa-apa jika kita berteman. Kamu masih aku izinkan untuk bertemu Laila dan dekat dengannya. Karena Laila itu anak kita."


"Iya Amira. Aku akan doakan yang terbaik untuk kamu. Entah siapa itu jodoh kamu nanti, aku doakan agar kamu bahagia bersama lelaki pilihan hati kamu. Aku doakan agar pernikahan kamu dengan lelaki itu sakinah mawadah warahmah."


"Makasih ya Mas. Aku juga akan doakan semoga kamu cepat dapat jodoh. Dan kamu bisa mendapatkan jodoh yang baik."

__ADS_1


Farhan diam. Seperti ada sesuatu yang sedang dia rasakan. 


"Mas, kamu kenapa?" tanya Amira menatap mantan suaminya lekat. 


Farhan tiba-tiba saja memegangi kepalanya. 


"Aku tidak apa-apa. Cuma sakit kepala aja," ucap Farhan. 


"Kamu lagi sakit Mas? kamu  sering sakit kepala begini Mas?"


"Nggak Amira. Aku nggak apa-apa. Udah biasa ini."


"Kalau sering sakit kepala, kamu periksa ke dokter Mas. Jangan dibiarkan aja."


"Aku udah periksa kok. Kata dokter, aku nggak apa-apa."


"Kamu yakin?"


"Iya."


Farhan bangkit dari duduknya. 


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Amira. 


"Aku mau pulang Amira."


"Tapi, kamu masih bisa bawa motor?"


"Masih."


"Ya udah, kamu hati-hati ya Mas."


Farhan tersenyum. 


"Iya Amira."


Setelah berpamitan pada Amira, Farhan pun kemudian pergi keluar dari toko Amira. 


Dia kemudian berjalan ke arah di mana motornya di parkirkan. Sebelum pergi, Farhan menatap ke arah Amira. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. 


"Hati-hati ya Mas."


"Iya Amira."

__ADS_1


Sebelum ada janur kuningan melengkung, aku masih punya kesempatan untuk mengajak Amira rujuk, batin Farhan di sela-sela dia mengendarai motornya.


__ADS_2