Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Bersama Galih


__ADS_3

Jam saat ini, sudah menunjukan jam setengah sembilan malam. Galih sejak tadi masih berada di ruangan Amira. Namun sampai dua jam lebih, Farhan belum kelihatan juga batang hidungnya.


"Mir, sebenarnya suami kamu kemana? kenapa lama sekali. Sudah hampir dua jam lho, kita nungguin dia di sini," ucap Galih.


"Mungkin dia masih dzikiran Mas."


"Dzikiran sampai dua jam. Sholeh banget ya suami kamu. Sampai-sampai membuat istrinya kelaparan,"ucap Galih tampak kesal.


"Aku nggak lapar kok Mas."


Kriuk..


Tiba-tiba saja suara cacing di perut Amira berbunyi. Membuat Galih tersenyum kecil.


"Jangan bohong kamu Mir. Kamu lapar kan? Buktinya cacing kamu udah nyanyi tadi."


Amira tersenyum.


"Lapar sedikit Mas," ucap Amira.


"Mungkin suami kamu udah pulang ke rumah Mir. Biar aku yang suapin kamu ya Mir."


"Pulang? nggak mungkin lah Mas, suami aku pulang. Kalau dia pulang, pasti dia pamit dulu sama aku. Dia nggak mungkin ninggalin aku sendirian di sini. Nggak usah deh Mas, aku nunggu Mas Farhan aja makan dan minum obatnya."


"Mau nunggu suami kamu sampai kapan. Kita juga tidak tahu di mana suami kamu sekarang. Mending kalau di mushola. Bagaimana kalau saat ini dia ada di tempat lain. Apa dia nggak memikirkan istrinya. Kenapa keluar lama sekali."


"Biarkan ajalah Mas. Nanti dia juga datang sendiri."


"Mir, dari pada kamu nunggu


suami kamu lama, aku suapin aja ya. Dari tadi kamu nggak makan dan minum apa-apa. Bibir kamu aja sampai kering begitu. Nggak usah malu-malu sama aku Mir.Anggap aja aku ini kakak kandung kamu sendiri."


Amira memang belum terlalu dekat dengan Galih. Makanya dia masih punya rasa malu jika dia dekat dengan Galih.


Ya, walaupun Galih sudah sering mengajaknya ngobrol, namun Amira tetap saja merasa tidak nyaman. Apalagi Galih itu kakak ipar dan seorang lelaki.


"Kamu mau makan apa Mir? buah-buahan, atau mau makan bubur?" tanya Galih sembari menatap ke atas meja.


Amira diam. Dia tidak langsung mengiyakan ucapan Galih. Dia masih tampak berfikir.


"Mir. Gimana Mir? mau ya, aku suapin. Dari pada kamu menunggu Farhan lama."


"Eh, gimana Mas?"


"Kamu mau apel? aku kupasin ya."


"Nggak usah Mas."

__ADS_1


Duh, kenapa aku jadi nggak enak begini sih sama Mas Galih. Dia perhatiannya sangat berlebihan. Mas Farhan aja nggak bawel banget begini. Kenapa ya dengan Mas Galih. Dia kok jadi beda banget begitu. Apa dia sekarang lagi ngerasa bersalah aja sama aku, karena sudah membuat aku seperti ini,batin Amira.


"Amira. Apa yang kamu fikirkan? kamu mau tetap nungguin suami kamu pulang?" tanya Galih.


"Ya udah deh. Aku mau makan sekarang."


Galih tersenyum.


"Nah gitu dong. Mumpung aku masih ada di sini."


Galih kemudian mengambil mangkuk bubur yang ada di atas meja. Dia kemudian mulai menyuapkan bubur itu ke Amira.


"Mas Farhan kemana ya, sampai buburnya dingin dia nggak datang-datang," ucap Amira di sela-sela kunyahannya.


"Sudahlah, nggak usah mikirin dia. Kalau di luar dia nggak punya urusan lain, mungkin saja dia itu lagi telpon-telponan dengan istri barunya," ucap Galih menduga-duga.


Deg,


Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih.


Benarkah, kalau saat ini Mas Farhan lagi telpon-telponan dengan istri barunya di luar . Kalau benar begitu, keterlaluan sekali dia. Dia bilangnya mau shalat. Tapi sampai jam segini dia belum pulang juga,batin Amira.


Setelah satu mangkuk bubur itu habis, Galih meletakan mangkuk itu di atas meja. Setelah itu dia mengambil gelas yang berisi air putih. Galih mengambil satu sendok air putih dan menyuapkannya pada Amira.


"Makasih ya Mas, aku udah kenyang."


****


Setelah berteleponan cukup lama dengan Zia, Farhan tertidur di dalam mushola rumah sakit.


Farhan mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat ke sekeliling. Karena di mushola itu sudah tampak sepi. Hanya ada segelintir orang saja yang lewat di depan mushola itu.


Farhan beringsut duduk dan menatap jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukan jam sembilan malam.


"Duh, ternyata aku ketiduran di sini," ucap Farhan sembari mengucek matanya mencoba untuk menghilang ngantuknya.


Farhan berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Pasti Amira udah nungguin aku nih. Kenapa aku bisa ketiduran di sini sih," ucap Farhan.


Tanpa butuh waktu lama, Farhan mengambil ponselnya dan melangkah meninggalkan mushola.


Farhan kemudian menuju ke ruangan istrinya. Dia terkejut saat melihat ada Galih di ruangan Amira.


"Mas Galih, kamu ada di sini?" tanya Farhan.


Galih menoleh ke arah Farhan.

__ADS_1


"Farhan, kamu dari mana aja? dari tadi Amira nungguin kamu."


"Maaf Mas, aku ketiduran tadi di mushola."


"Kenapa bisa ketiduran sih. Kasihan Amira. Dia nungguin kamu. Sampai-sampai buburnya dingin."


Farhan menatap wajah istrinya yang sudah terlelap.


Maafkan aku Amira. Aku tadi ketiduran setelah telponan dengan Zia. Pasti kamu belum makan dan minum obat ya.


"Jadi Amira belum makan Mas?" tanya Farhan.


"Udah. Tadi aku udah suapi dia. Aku udah bantu istri kamu minum obat."


"Kalau gitu makasih ya Mas. Maaf kalau aku udah ngerepotin Mas Galih. Mas Galih udah lama di sini?"


"Udah. Dari sebelum adzan isya aku sampai sini. Sekarang aku mau pulang. Udah malam."


"Oh. Nggak mau temani aku di sini Mas?"


"Nggak. Kapan-kapan aja kalau aku udah sehat. Aku juga belum pulih benar. Tadi aku cuma mau jengukin istri kamu aja sekalian bawa buah-buahan untuk dia."


Galih bangkit dari duduknya. Dia kemudian menghadap ke arah Farhan.


"Aku ke sini pinjam motornya teman tadi. Jadi aku nggak bisa lama-lama di sini. Motor aku masih ada di bengkel."


"Motornya belum jadi ya Mas?"


"Belum lah. Kan baru aku bawa ke bengkel kemarin. Paling nggak satu minggu Farhan untuk memperbaikinya."


"Ya udah, kalau Mas Galih mau pulang. Hati-hati ya Mas di jalan. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya."


"Iya. Amira udah makan, dan udah minum obat. Sekarang dia udah tidur. Tolong jagain dia dan jangan ditinggal kemana-mana. Ingat, sekarang Amira nggak bisa apa-apa sendiri. Tolong jagain dia dan jangan di tinggal kemana-mana," pesan Galih sebelum pergi.


"Iya Mas."


Setelah berpamitan dengan Farhan, Galih kemudian pergi keluar dari ruangan Amira. Dia menuju ke parkiran di mana motornya dia parkir kan di sana.


Sebelum naik ke atas motor, ponsel Galih berdering.


Galih buru-buru mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya.


"Halo Bu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Kamu di mana Galih? sampai malam begini kenapa belum pulang? tadi ibu nelpon Yudi di bengkel. Katanya kamu pergi ke rumah sakit. Benar kamu lagi di rumah sakit?"


"

__ADS_1


__ADS_2