
Zia, Farhan dan Bu Aminah saat ini sudah berada di dalam sebuah ruang rawat. Setelah siuman, Zia langsung dipindahkan ke ruang rawat.
Farhan sudah pulang dari pesantren, satu jam yang lalu.
Farhan tidak mau berlama-lama berada di pesantren. Saat Bu Aminah menelpon Farhan dan mengabarkan pada Farhan kalau Zia sudah siuman, Farhan langsung bergegas untuk pulang ke kampungnya.
"Mas, aku pengin ketemu bayi aku Mas," ucap Zia menatap Farhan lekat.
Farhan tersenyum.
"Iya sayang. Nanti ya, suster lagi ambil bayi kamu," ucap Farhan.
Zia sudah tidak sabar menunggu bayinya. Dia ingin melihat bayinya untuk yang pertama kalinya. Zia sangat bahagia, karena sudah dikaruniai bayi lelaki. Karena Farhan selama ini menginginkan anak lelaki. Farhan pasti akan lebih sayang sama Zia, setelah Zia bisa memberikan anak lelaki untuknya.
Beberapa saat kemudian, seorang suster melangkah masuk ke ruangan Zia.
Dia tersenyum sembari membawa bayi Zia.
"Suster, aku pengin gendong anak aku," ucap Zia sembari mengulurkan ke dua tangannya. Dia ingin sekali menggendong bayinya.
"Iya. Silahkan Bu," ucap suster.
Suster kemudian memberikan bayi itu ke tangan Zia.
"Kamu bisa gendongnya Zi?" tanya Farhan khawatir Zia tidak akan bisa menggendong anaknya.
"Bisa Mas."
Setelah bayi itu berada di dalam gendongan Zia, suster menatap Zia lekat.
"Ibu bisa kasih asi ke bayi itu. Untuk merangsang Asi ibu supaya cepat keluar," ucap suster.
Zia hanya mengangguk. Dia kemudian mencoba untuk menyusui bayi itu. Farhan dan Bu Aminah tersenyum saat melihat bayi itu menyusu pada ibunya.
"Zia, ibu mau pulang ke rumah. Dari kemarin ibu belum pulang ke rumah. Nggak apa-apa kan kalau kamu sendiri di sini? soalnya Farhan mau ngantar ibu pulang."
Zia tersenyum.
"Nggak apa-apa Bu. Lagian di sini kan banyak suster. Kalau ada apa-apa, aku bisa panggil suster."
"Ya udah Zi, kamu udah bisa kan gendong bayi kamu. Mas antar ibu pulang dulu ya," ucap Farhan sebelum pergi meninggalkan Zia.
__ADS_1
Zia mengangguk. Setelah itu Farhan dan Bu Aminah pun pergi meninggalkan ruangan Zia.
Beberapa menit kemudian.
"Dek, bangun dek. Kenapa kamu diam aja," ucap Zia sembari menoel-noel pipi bayinya.
Namun bayi itu sama sekali tidak mau bergerak. Wajah bayi itu juga semakin pucat. Dan tubuhnya berubah menjadi kebiru-biruan.
"Adek, anak mama. Kenapa kamu diam aja," ucap Zia. Dia seperti sedang bicara dengan sebuah boneka. Dia tidak merasakan kalau bayinya itu sudah meninggal.
"Adek..." ucap Zia mencoba untuk membangunkan bayi itu.
Hiks...hiks...hiks...
Zia tiba-tiba saja menangis, saat anaknya diam saja. Bayi itu tidak menangis dan tidak ada gerak sama sekali pada tubuh bayi itu.
"Kamu kenapa dek," ucap Zia sembari menatap bayi yang ada di dalam pangkuannya.
Beberapa saat kemudian, seorang suster masuk ke ruangan Zia.
"Ada apa Bu Zia?" tanya suster.
Zia menatap suster dengan berlinangan air mata.
Suster diam. Dia kemudian mengambil bayi itu dari tangan Zia. Suster mencoba untuk memeriksa denyut jantung bayi itu. Ternyata bayi itu sudah tidak bernyawa.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun, bayi anda sudah meninggal dunia Bu Zia," ucap suster.
Suster terkejut saat mendengar ucapan Suster.
"Apa! bayiku meninggal? nggak mungkin itu Sus. Nggak mungkin bayi aku meninggal. Suster pasti bohong. Aku baru saja menggendong dan menyusuinya. Mana mungkin bayi aku langsung meninggal begitu saja."
"Bu, yang sabar ya. Ada banyak kemungkinan bayi ibu bisa mendadak meninggal. Karena bayi itu, lahir prematur, dia dari kemarin juga nggak mendapatkan ASI dari ibu, dan juga bayi ibu punya kelainan jantung," ucap suster menjelaskan.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin bayi aku meninggal," ucap Zia histeris.
Zia turun dari ranjangnya dan akan mengambil bayi itu dari tangan suster. Namun suster dengan sigap langsung mendekap bayi itu dengan sangat erat. Suster takut Zia akan mengambil bayi itu dan akan melakukan sesuatu pada bayi itu.
"Berikan anak aku Sus. Anak aku nggak mungkin meninggal," ucap Zia mencoba untuk merebut bayi itu dari tangan suster.
"Maaf Bu, bayi ibu sudah meninggal. Biarkan kami yang mengurusnya. Ibu yang sabar ya. Tetaplah tenang."
__ADS_1
Suter itu kemudian pergi meninggalkan Zia dan membawa jenazah bayi itu. Sementara Zia, hanya bisa meraung-raung menangis di dalam ruangan. Farhan dan Bu Aminah sepertinya juga masih ada di jalan sekarang.
***
Setelah sampai di depan rumah, Farhan menghentikan laju motornya. Farhan dan Bu Aminah kemudian turun dari motornya.
Beberapa saat kemudian, ponsel yang ada di saku Farhan berbunyi. Farhan kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat sebuah panggilan dari sebuah nomer baru.
"Halo..."
"Halo, dengan Pak Farhan."
"Iya. Saya sendiri."
"Pak Farhan bisa kembali ke rumah sakit Pak?"
"Ke rumah sakit? ada apa ya memang?"
"Bayinya Bu Zia sudah meninggal dunia Pak. Bu Zia histeris dan tidak bisa ditenangkan. Tapi sekarang dia sudah di suntikan obat penenang."
"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Bayi aku udah meninggal. Dan Zia histeris?"
"Iya Pak. Apa bapak bisa langsung ke sini sekarang?'
"Iya iya. Saya akan langsung ke sana."
Setelah saluran telpon itu terputus, Farhan menatap ibunya lekat.
"Bayiku sudah meninggal dunia Bu. Dan Zia histeris."
"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Tapi tadi sepertinya bayi kamu sehat."
"Iya. Nggak tahu Bu. Bayi aku kan bukan bayi normal. Melainkan bayi prematur dan mempunyai kelainan jantung. Aku juga sudah punya firasat buruk dari kemarin."
Setelah pulang dari pesantren, Farhan tampaknya jauh lebih tegar dari kemarin. Sepertinya, dia mau mendengarkan nasihat-nasihat kyainya.
"Ya udah, sekarang kamu ke sana. Tapi ibu nggak bisa ikut Farhan. Ibu capek. Ibu mau tunggu di rumah saja. Dari pada kelamaan di rumah sakit dan buang-buang biaya. Lebih baik kamu bawa pulang saja Zia," ucap Bu Aminah.
"Iya Bu "
Farhan kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
****