Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Berkemas


__ADS_3

"Kamu di mana Galih? sampai malam begini kenapa kamu belum pulang? tadi ibu nelpon Yudi ke bengkel. Katanya kamu pergi ke rumah sakit. Benar kamu lagi di rumah sakit Galih?"


"Iya Bu. Aku lagi di rumah sakit sekarang. Aku lagi jengukin Amira."


"Ya ampun, kondisi kamu kan masih belum pulih Nak. Kenapa tidak nanti aja jengukin Amiranya."


"Bu, aku udah sembuh kok."


"Tapi luka-luka kamu kan belum kering Nak."


"Nggak apa-apa Bu. Luka-luka kecil begini nggak akan ada masalah kok. Ibu tenang aja. Galih nggak apa-apa kok."


"Ya udah, cepat kamu pulang. Ibu khawatir Galih sama kamu"


"Iya Bu. Ini aku mau pulang."


"Iya. Ibu tunggu ya."


"Iya Bu. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Galih kemudian menutup saluran telponnya.


Setelah Farhan masuk ke dalam ruangan Amira, Galih sudah bisa tenang untuk meninggalkan Amira sekarang. Galih pun kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumahnya.


Galih mengemudikan motornya sampai ke rumah Yudi. Karena motor itu, motor Yudi, jadi dia harus mengembalikan motor itu pada Yudi dulu sebelum pulang ke rumahnya.


Kebetulan bengkel Yudi dekat dengan rumah Galih. Jadi, setelah dia mengembalikan motornya, Galih pun bisa pulang dengan jalan kaki sampai ke rumahnya.


Malam ini, Galih sudah sampai di depan rumah Yudi. Bengkel Yudi sudah tutup namun Galih yakin kalau Yudi ada di dalam rumahnya.


Galih turun dari motornya. Setelah itu dia berjalan untuk ke teras depan rumah Yudi. Galih kemudian mengetuk pintu rumah Yudi.


Beberapa saat kemudian, bapak Yudi membuka pintu.


"Kamu Galih. Aku fikir siapa tadi."


"Saya ke sini mau mengembalikan motornya Yudi Pak. Yudi nya ada di dalam Pak?"


"Yudi nya baru saja keluar."


"Keluar kemana?"


"Biasalah. Namanya anak muda. Pasti nongkrong-nongkrong sama temannya."


"Ya udah, saya mau langsung pulang Pak. Ini saya titip kuncinya ya sama bapak."


"Oh, iya Galih. Hati-hati ya Galih."


"Iya Pak."


Setelah mengembalikan motornya Yudi, Galih kemudian berjalan pergi meninggalkan rumah Yudi. Dia berjalan untuk sampai ke rumahnya.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumahnya, Galih mengetuk pintu.


Beberapa saat kemudian, Bu Aminah membuka pintu.


"Galih, lama sekali kamu pulangnya. Dari mana aja? ke rumah sakit kenapa lama sekali?" tanya Bu Aminah khawatir.


"Seharusnya, ibu jangan tanya itu ke aku. Harusnya ibu tanya langsung aja ke Farhan, kenapa aku bisa lama ada di ruangan Amira," ucap Galih sembari berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Kok begitu?" tanya Bu Aminah sembari mengunci pintunya kembali.


Setelah itu Bu Aminah melangkah ke ruang tengah. Galih sudah tampak duduk di sofa ruang tengah sembari menyandarkan dirinya di sofa.


"Tadi aku ke rumah sakit. Dan Farhan nggak ada di ruangan Amira. Dia pergi meninggalkan Amira sendirian di ruangannya," jelas Galih.


"Mungkin dia lagi sholat atau dia lagi beli makanan di luar."


"Nggak Bu. Dia itu ketiduran di mushala rumah sakit. Sampai dua jam dia meninggalkan Amira sendirian. Sampai Amira kelaparan. Untung tadi ada aku. Aku suapin Amira dan bantu dia minum obat. Setelah Amira tidur, baru si Farhan datang."


"Duh, kasihan Farhan. Dia nggak ada yang gantiin jagain. Kalau saja ibu bisa bawa motor dan bisa bolak-balik ke rumah sakit sendiri, pasti ibu udah di sana nungguin Amira. Tapi Farhan malah melarang ibu untuk nungguin Amira di sana."


"Mungkin Farhan takut ibu kecapean."


"Iya. Mungkin."


"Aku juga udah ngantuk Bu. Aku masuk ke kamar dulu ya Bu. Ibu nggak usah banyak fikiran. Amira menantu ibu baik-baik saja."


"Benarkah?"


"Syukurlah kalau begitu."


****


Hari ini, Amira sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Hari ini tepat dua minggu Amira berada di rumah sakit.


Dan dalam waktu selama itu, hanya keluarga Amira yang bergantian menjaga Amira di rumah sakit. Mulai dari Pak Husen, Bu Rahayu, Novi, dan Farhan suaminya.


"Alhamdulillah ya sayang Akhirnya kamu sudah di perbolehkan pulang," ucap Farhan menatap istrinya lekat.


Amira tersenyum pada suaminya yang saat ini masih duduk di sisinya.


"Iya Mas."


"Oh ya. Aku mau kemasin baju-baju kamu dulu. Aku mau masukan baju-baju kamu ke dalam tas."


"Emang kita mau pulang sekarang?"


"Iya. Kita mau pulang sekarang. Lagian, leher kamu juga sudah mendingan kan? kamu juga sudah bisa duduk sekarang."


Amira tersenyum.


"Iya Mas. Aku juga udah kangen banget sama Fauzan dan Laila."


Farhan terkejut saat mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Duh, gimana ya kalau Amira pulang ke rumah, Fauzan nggak ada. Pasti Amira bakal nyariin Fauzan, batin Farhan.


"Mas, kita mau pulang, apa kamu sudah melunasi semua biaya rumah sakit aku?"


Farhan menatap istrinya lekat.


"Kamu tenang aja ya Mir. Semua biaya rumah sakit kamu udah lunas."


"Kamu punya uang banyak begitu dari mana Mas? aku di sini sampai dua minggu. Dan aku juga operasi di leher dan kaki. Pasti itu akan membutuhkan biaya yang sangat banyak."


Farhan menghela nafas dalam.


"Sayang, biaya rumah sakit kamu udah ada yang nanggung."


"Siapa?"


"Pemerintah. Jadi aku nggak perlu ngeluarin biaya sayang. Cuma biaya bolak-balik aja nungguin kamu di sini. Biaya beli bensin dan makanan."


"Oh. Begitu ya Mas."


"Iya."


"Kalau tahu gitu, kenapa nggak sampai sebulan sekalian ya Mas aku di sini. Biar aku dapat perhatian kamu terus di sini," ucap Amira.


"Kamu betah di sini, aku aja nggak betah di sini."


"Aku cuma bercanda Mas, serius amat sih menanggapinnya," ucap Amira tersenyum saat melihat ekspresi wajah suaminya..


Aku yakin, setelah aku pulang nanti, Mas Farhan pasti akan nemuin Zia. Bisa jadi, setelah itu dia nggak mau ngurusin aku. Ih, kenapa sih aku harus patah tulang segala, aku merasa sudah jadi orang paling tidak berguna di dunia ini,


Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mengambil tas baju milik Amira.


Farhan kemudian mengemasi semua barang-barangnya yang akan dia bawa pulang. Dia juga memasukkan baju-baju istrinya ke dalam tas itu.


"Bi, kita mau pulang naik apa?" tanya Amira.


Farhan menatap Amira lekat.


"Naik mobil lah masa mau naik motor."


"Mobil siapa?"


"Mobil. Nyewa ke tetangga dekat rumah. Mungkin sebentar lagi mobil itu akan datang ke sini Mi. Makanya kita harus siap-siap dari sekarang."


"Iya Bi."


Setelah Farhan mengemasi semua barang-barangnya, dia kemudian membantu istrinya untuk duduk.


"Abi, maafin Umi ya. Umi udah selalu ngerepotin Abi. Coba kalau Umi nggak sampai patah tulang, pasti Umi nggak akan terlalu ngerepotin Abi ya," ucap Amira setelah dia duduk.


Farhan menatap Amira lekat.


"Sayang, itulah gunanya aku punya dua istri," ucap Farhan sembari merapikan kerudung Amira.

__ADS_1


__ADS_2