
Di sela-sela Laila ngobrol dengan Amira, tiba-tiba suara ketukan pintu dari depan rumah terdengar.
"Assalamualaikum," ucap Farhan dari luar rumah.
"Wa'alakiumsalam," ucap Laila dan Amira bersamaan.
"Itu pasti Abi Mi," ucap Laila.
"Iya. Coba sana kamu lihat Abi kamu di depan."
"Iya Mi."
Laila bangkit dari duduknya.
Setelah itu dia pun melangkah pergi untuk membuka pintu depan.
Laila tersenyum saat melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Dia kemudian langsung mencium punggung tangan Farhan.
"Abi, Abi kok baru pulang. Laila dan Umi sudah nungguin Abi dari tadi lho," ucap Laila.
"Maaf ya, Abi telat pulang. Umi kamu mana?" tanya Farhan pada Laila.
"Itu ada di dalam. Kami lagi makan Bi."
"Oh, boleh Abi ikut makan?"
"Boleh dong Bi. Ayo Bi," ajak Laila.
Farhan dan Laila kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang makan, Farhan dan Laila menghentikan langkahnya.
"Amira," ucap Farhan saat melihat Amira masih berada di ruang makan.
Amira hanya melirik sekilas ke arah suaminya. Tatapannya saat ini begitu dingin. Biasanya dia selalu tersenyum saat menyambut kepulangan suaminya. Dan biasanya Amira langsung mencium tangan suaminya. Namun kali ini, Amira diam. Dia sama sekali tidak mau menatap Farhan.
Farhan menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan. Dia duduk di dekat Amira duduk.
"La, Abi lelah banget La. Laila mau nggak ambilkan piring untuk Abi?" tanya Farhan pada Laila.
"Abi mau piring? tunggu ya Bi," ucap Laila.
Laila kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring. Setelah itu dia kembali dengan membawa piring untuk ayahnya makan.
"Ini Bi. Piring buat Abi," ucap Laila sembari meletakan piring itu di atas meja makan. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya dan duduk bersama ke dua orang tuanya di ruang makan.
"Makasih ya La," ucap Farhan.
Farhan mengambil nasi dan mencedokan lauk ke atas piring. Setelah itu dia pun makan bersama Amira dan Laila.
Laila tersenyum saat melihat ayahnya sangat lahap makan. Farhan memang sudah sangat lapar. Karena dia hanya makan tadi pagi saja. Sementara tadi di rumah Zia, Farhan tidak makan.
"Abi lahap banget Bi. Abi lapar ya?" tanya Laila.
Farhan hanya menganggukan kepalanya. Dia memang sudah lapar sejak tadi.
Amira yang masih makan , hanya melirik suaminya sekilas. Setelah itu dia melanjutkan untuk menghabiskan makanannya.
Setelah Laila menghabiskan makanannya, Laila kemudian bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana La?" tanya Amira saat melihat Laila berdiri.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar dulu Mi. Ada tugas yang belum aku kerjaan," ucap Laila.
"Mau ngerjain tugas sekarang?" tanya Amira.
"Nggak lah Mi. Mau ngecek aja. Nanti malam aja ngerjain PR nya."
"Oh, ya udah. Kalau kamu mau istirahat ya istirahat La. Tapi jangan lupa mandi sholat zuhur dulu. Terus itu ganti baju seragamnya. Jangan dipakai terus," ucap Amira mengingatkan.
"Iya Mi."
Laila kemudian pergi meninggalkan ruang makan. Dia berjalan menuju kamarnya.
Saat ini, hanya ada Farhan dan Amira yang masih berada di ruang makan. Amira dan Farhan sama-sama masih makan.
"Dari mana aja kamu Mas jam segini baru pulang? kamu pulang ke rumah Zia ya?" tanya Amira di sela-sela kunyahannya.
"Iya. Aku cuma ke sana sebentar," jawab Farhan jujur.
"Kenapa cuma sebentar. Kenapa kamu nggak nginap lagi di sana?"
"Aku ke sana cuma mau tanya uang yang semalam."
"Terus apa katanya?"
"Dia nggak lihat uang aku yang semalam."
"Mungkin kamu lupa naruhnya Mas."
"Mungkin Amira. Nanti aku cari lagi."
Farhan kembali melanjutkan makanannya. Begitu juga dengan Amira. Setelah Amira menghabiskan makanannya, Amira beranjak pergi dari ruang makan, dengan mendorong kursi rodanya sendiri.
Farhan tersenyum.
"Amira, kamu udah bisa gerak?" tanya Farhan.
Amira menatap Farhan lekat.
"Iya Mas. Alhamdulillah setelah aku periksa kemarin sudah ada kemajuan dengan leherku. Aku sedikit-sedikit sudah bisa gerak."
"Oh. Alhamdulillah, syukurlah. Aku seneng dengarnya Amira."
Amira hanya tersenyum kecil. Setelah itu dia mendorong kursi rodanya sendiri untuk ke kamar.
Selesai makan, Farhan membereskan semua piring-piring kotor yang ada di meja makan. Setelah itu dia membawa piring-piring kotor itu ke dapur.
Farhan langsung mencuci piring-piring itu. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar.
Farhan menatap Amira. Saat ini, Amira masih berada di dekat jendela kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela kamarnya.
"Amira, kamu lagi ngapain?" tanya Farhan sembari mendekat kearah Amira.
"Kenapa dari tadi kamu diam aja? kamu masih marah sama aku?"
"Nggak kok Mas. Aku cuma lagi malas aja bicara."
Farhan membuka baju seragam coklatnya. Sekarang Farhan hanya memakai kaos dalam saja. Sepertinya sejak tadi dia kegerahan.
"Amira," ucap Farhan.
__ADS_1
"Aku mau bicara sesuatu."
Amira menghadapkan kursi rodanya ke arah suaminya yang saat ini sudah duduk di sisi ranjang.
"Ada apa Mas?" tanya Amira.
"Mulai minggu depan, aku akan ngajar di sekolah lain."
Amira mengernyitkan alisnya.
"Maksud kamu?"
"Tadi pagi, kepala sekolah ngundang aku ke ruangannya. Dia ngasih aku surat kepindahan aku," ucap Farhan. Dia kemudian mengambil surat yang dia simpan di dalam saku celananya.
Farhan kemudian menyodorkan surat itu pada Amira.
Amira menerima surat itu dan membacanya.
"Mutasi? kamu mau dimutasi? bukankah ini dekat rumah ibu?"
"Iya Amira. Kalau dari rumah ibu sih dekat. Tapi kalau dari sini kan jauh. Setengah jam an."
"Brati minggu depan kamu harus lebih cepat dong berangkatnya."
"Iya Amira."
***
Satu minggu Farhan tidak pulang ke rumah Zia. Nampaknya dia kecewa dengan Zia. Farhan sudah merasa dibohongi oleh Zia. Dan Farhan juga ingin mengembalikan kepercayaan Amira padanya. Farhan akan membuktikan pada Amira dan orang lain, kalau dia bisa adil dengan ke dua istrinya tanpa membeda-bedakan mereka.
Sore ini, Farhan masih berada di teras rumah mereka. Farhan masih tampak membaca-baca buku.
"Mas, kamu nggak ke rumah Zia? aku lihat beberapa hari ini, kamu lebih banyak di rumah aku."
"Mau ngapain aku ke rumah Zia"
Amira mengernyitkan alisnya.
"Kok mau ngapain? dia kan istri kamu. Jangan bilang kamu udah bosen ya sama dia, setelah kalian sudah melakukan malam pertama."
Farhan terkejut saat mendengar ucapan Amira.
"Sebenarnya bukan begitu Amira masalahnya. Aku ini memang lagi marah dan kecewa sama dia. Dia udah berani membohongi aku Amira."
"Membohongi gimana?" tanya Amira.
"Waktu kamu mau kontrol, dia kan telpon malam-malam dan dia nangis-nangis nyuruh aku ke sana. Karena kata dia kakeknya itu sakit."
"Terus?"
"Ternyata dia cuma bohongin aku Amira. Pak Ramli itu ternyata nggak sakit."
"Oh.." Amira menanggapi ucapan Farhan hanya dengan ber'oh ria.
Farhan menatap Amira lekat.
"Kok Oh doang. Kamu nggak ikut prihatin? gara-gara Zia bohongin aku, aku nggak bisa antar kamu ke dokter."
"Yah, udahlah. Aku juga udah nggak marah kan, karena itu udah berlalu."
__ADS_1