Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kemarahan ibu mertua


__ADS_3

"Aku nggak ada yang bangunin. Biasanya Umi dan Abi yang bangunin aku. Semalam aku juga harus jagain Umi, ngasih makan dan minum Umi," ucap Laila menuturkan.


"Lho, kenapa kamu harus repot-repot. Itu kan bukan tugas kamu. Tapi tugas ayah kamu."


Laila menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan. Setelah itu dia menundukan kepalanya tampak sedih.


"Ada apa La? kenapa kamu jadi sedih seperti ini?" tanya Bu Rahayu. Dia kemudian ikut menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan dan duduk di sisi cucunya.


"Abi pergi Nek. Dia udah pergi dari semalam," ucap Laila menuturkan.


"Pergi? pergi ke mana?" tanya Bu Rahayu menatap lekat cucunya.


"Nenek lupa ya, kalau Abi sekarang punya dua istri. Jadi dia pulang lah ke rumah istri ke duanya," ucap Laila dengan polosnya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi dari neneknya.


"Apa! Farhan ke rumah wanita itu dan nginap di sana?" ucap Bu Rahayu dengan nada tinggi.


Laila mengangguk."Iya Nek."


"Kurang ajar. Dasar menantu kurang ajar. Bisa-bisanya di saat-saat anak saya sakit, dia malah pergi ke rumah istri ke duanya. Awas aja nanti kalau Abi kamu sampai ketemu sama nenek. Nenek remuk-remuk tuh tulang-tulang Abi kamu yang kurus itu," ucap Bu Rahayu yang sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


Laila terkejut saat mendengar ucapan Bu Rahayu.


"Duh Nek. Jangan gitu dong bicaranya. Kasihan kan Abi kalau harus di remuk-remuk oleh nenek. Nenek gemuk, Abi aku kurus. Pasti Abi kalah lah, sama nenek."


Ya, ustadz Farhan memang mempunyai tubuh jangkung dan badannya juga kurang berisi. Beda dari Galih yang punya tubuh tinggi dan padat berisi. Galih kelihatan lebih tampan dan lebih muda dari Farhan, walau Galih itu kakaknya.


Mungkin karena Galih sudah lama tinggal di kota sehingga dia lebih bisa merawat diri. Usia mereka pun tidak terpaut jauh. Hanya berbeda dua tahun saja.


Tapi dari segi wajah, mereka sama-sama mempunyai wajah tampan dengan kulit putih dan wajah oval.


Pekerjaan Farhan saat ini menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta yang ada di kampungnya. Sementara Galih, dia kerja menjadi staf kantor di salah satu PT yang ada di kampungnya.


Mungkin pengalaman Galih beberapa tahun kerja di Jakarta, membawa keberuntungan tersendiri setelah dia tinggal di kampung. Dia langsung di terima saat melamar kerja di PT besar yang ada di kampungnya.


Novi yang merasa terganggu dengan keributan yang ada di luar kamarnya, mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ke sekeliling.


"Ya ampun, udah siang ternyata. Aku kesiangan. Bagaimana dengan Mbak Amira dan Laila," ucap Novi.

__ADS_1


Novi buru-buru beringsut duduk. Dia kemudian turun dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamarnya.


Dia kemudian berjalan sampai ke ruang makan. Dia terkejut saat melihat ibunya sedang marah-marah di ruang makan.


"Ibu, ada apa sih Bu, pagi-pagi gini udah ngomel-ngomel," tanya Novi sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Mana Farhan? benarkah kalau dia pulang ke rumah istri ke duanya?" ucap Bu Rahayu.


"Iya Bu. Semalam dia nggak pulang ke rumah," jawab Novi.


"Kok kamu izinkan Farhan pergi sih Novi. Seharusnya kamu bilang dong sama Farhan. Kalau istrinya sekarang sudah tidak bisa apa-apa. Bilang ke Farhan kalau istrinya masih sangat membutuhkan dia. Kalau Farhan pergi, kamu nanti sama Laila yang repot. Gimana sih," ucap Bu Rahayu yang masih tampak kesal.


"Aku juga nggak tahu kalau Mas Farhan mau pergi ke rumahnya Zia. Kan dia cuma izin sama Laila. Dia nggak bilang apa-apa sama aku waktu dia mau pergi. Ya mana aku tahu kalau ternyata Mas Farhan itu mau pergi ke rumah Zia. Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti akan marahin Mas Farhan dan larang di untuk pergi lah Bu,"


Bu Rahayu menatap Laila lekat.


"Laila, kamu kenapa sih izinin Abi kamu pergi. Gimana nanti kalau ibu kamu, tiba-tiba ingin ke kamar mandi, ingin makan, ingin minum. Kamu mau gotong-gotong ibu kamu terus? kamu juga kan nanti yang repot."


"Ya nggaklah. Semalam Abi bilang, kalau ada apa-apa sama Umi, aku di suruh telpon Abi dan Abi mau langsung pulang ke sini."


Di sisi lain, Farhan sudah mandi, dia juga sudah sarapan bersama Pak Ramli dan Zia. Saat ini, Farhan sudah ada di teras depan rumah Zia.


"Zi, Mas pulang dulu ya. Jaga diri


"Terserah kamu saja Mas, mau kerja atau tidak. Aku mah tidak mau maksa kamu."


"Iya Zi. Mas pergi dulu ya. Jaga diri kamu."


"Iya Mas. Hati-hati ya di jalan."


Farhan mengangguk.


Sebelum Farhan pergi, Zia mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu Farhan mendekati motornya.


Farhan kemudian menyalakan mesin motornya setelah dia naik ke atas motornya. Sebelum pergi, Farhan melambaikan tangannya ke arah Zia.


"Hati-hati ya Mas. Kalau udah nyampe nelpon ya."

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu nggak usah khawatir Mas nggak ke sini. Karena mas akan sering-sering ke sini."


"Iya Mas. Hati-hati di jalan ya Mas "


Farhan kemudian meluncur pergi dengan motornya untuk ke rumah Amira.


Beberapa saat kemudian, Farhan sudah sampai di depan rumah Amira. Dia menghentikan motornya dan memarkirkan motornya di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah Amira.


Farhan turun dari motornya. Setelah itu dia melangkah untuk ke teras depan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.


Tak ada jawaban dari dalam rumah.


Farhan kemudian mengucapkan salam satu kali lagi.


"Assalamualaikum."


Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Sepertinya, Bu Rahayu, Novi dan Laila tidak mendengar ucapan salam dari Farhan.


"Ya Allah, aku lupa kalau hari ini Laila sekolah. Novi mungkin juga pulang ke rumah ibu. Pasti Amira sendirian sekarang."


Farhan buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Farhan menghentikan langkahnya saat dia mendengar samar-samar suara obrolan di ruang makan.


Farhan segera menghampiri ruang makan.


"Assalamualaikum," ucap Farhan setelah sampai di ruang makan.


"Wa'alaikumsalam," ucap Bu Rahayu, Novi, dan Laila bersamaan.


"Nah, ini dia orangnya. Kebetulan banget dia ketemu ibu di sini," ucap Bu Rahayu.


"Ada apa Bu?"


"Dari mana aja kamu?" tanya Bu Rahayu yang sudah menatap Farhan nanar.


"Saya dari..." Farhan tampak ragu untuk mengatakan kalau dia semalam dari rumahnya Zia. Karena dia melihat ibu mertuanya itu sangat marah padanya. Pasti Farhan akan kena semprot oleh ibu mertuanya pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2