
Beberapa bulan kemudian, Amira sudah resmi bercerai dengan Farhan. Sementara Farhan hidup sendiri tanpa anak dan istrinya.
Setelah kepergian bayinya beberapa bulan yang lalu, Zia mengalami gangguan jiwa yang sangat berat. Karena Farhan tidak mau membuat resah warga, akhirnya dengan terpaksa Farhan membawa Zia dan menempatkannya di rumah sakit jiwa.
Minggu pagi, Galih sudah tampak rapi. Setelah menyisir rambutnya, dia keluar dari kamarnya dan berjalan sampai ke ruang tengah. Sesampainya di ruang tengah, Galih melihat Farhan sudah duduk di depan tivi sembari menikmati secangkir kopi.
"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Farhan pada Galih saat Galih lewat di depannya.
"Ah, bete aku di rumah terus Farhan. Aku mau pergi. Ibu lagi sakit. Tolong jagain ibu, dan jangan tinggal ibu kemana-mana," ucap Galih berpesan sebelum pergi.
"Iya Mas. Kamu mau pergi ke mana Mas?" tanya Farhan.
"Kalau itu bukan urusan kamu Farhan," ucap Galih.
Galih kemudian pergi keluar dari rumah meninggalkan Farhan.Sebelum naik ke atas motor, Galih menelpon Amira.
"Halo. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
"Kamu lagi di mana Amira?"
"Aku lagi di toko Mas."
"Kamu di toko? sama Laila juga?
"Iya."
"Aku mau ke toko kamu boleh nggak? Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Oh boleh Mas. Silahkan aja kalau kamu mau ke sini "
"Iya Amira. Ini aku mau meluncur ke sana."
Setelah menelpon Amira, Galih kemudian meluncur pergi untuk ke toko Amira.
Setelah sembuh dari lumpuhnya, Amira di modali ayahnya untuk membangun toko di dekat pasar. Dia menjual fashion wanita seperti hijab dan gamis- gamis. Toko Laila fashion nama toko itu.
Sejak Amira resmi bercerai dengan Farhan, Bu Rahayu dan Pak Husen meminta Amira untuk tinggal di rumah mereka. Sementara rumah Amira yang berada di dekat mesjid, mereka kontrakan.
Amira tidak mau lagi tinggal di rumah itu karena rumah itu terlalu banyak kenangan bersama Farhan. Sudah sepuluh tahun lebih Farhan dan Amira tinggal di rumah itu.
Beberapa saat kemudian, motor Galih sudah sampai di depan ruko. Galih turun dari motornya dan masuk ke dalam toko Amira.
"Assalamualaikum," ucap Galih saat memasuki toko Amira .
Amira tersenyum.
__ADS_1
"Wa'alakiumsalam Mas," ucap Amira saat menyambut kedatangan Galih.
Galih menatap ke sekeliling.
"Wah, toko kamu sudah mulai berkembang ya sekarang," ucap Galih.
"Iya Mas. Alhamdulillah."
Galih memang sudah lama tidak berkunjung ke toko ataupun ke rumah Amira. Karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini, Galih sering pulang malam karena banyak lemburan.
Galih juga menatap satu persatu wanita yang ada di dalam toko itu.
"Mereka karyawan kamu Mir?" tanya Galih lagi.
"Iya Mas. Ayo Mas, kita ke ngobrol-ngobrol di dalam."
Amira mengajak Galih masuk ke dalam toko.
"Iya Amira." Amira dan Galih kemudian masuk sampai ke belakang toko.
Di belakang toko itu tampak ada sofa dan meja. Amira kemudian mempersilahkan Galih duduk.
"Duduk Mas," ucap Amira.
Galih dan Amira kemudian duduk bersama di sofa itu.
"Laila lagi beli makanan di luar."
"Sudah dari tadi?"
"Barusan aja mereka pergi Mas. Belum ada lima menit. Dia juga perginya sama Novi. Jadi mungkin lama,"
Oh, syukurlah. Memang ini yang lagi aku tunggu-tunggu. Aku pengin ngobrol berdua saja dengan Amira, tanpa ada yang merecoki, batin Galih.
"Oh iya Mas. Katanya kamu mau bicara penting? bicara apa?" tanya Amira.
Galih menatap Amira lekat. Dia gugup saat menatap Amira. Dia bingung untuk membuka percakapan ini.
"Se-sebenarnya, aku mau bicara ini dari dulu. Tapi aku belum berani Amira untuk bicara ini sama kamu."
Amira mengerutkan keningnya.
"Kamu mau bicara apa? bicara aja."
"Amira, sebenarnya aku..."
Amira bingung dengan Galih. Galih terlihat gugup, entah apa yang akan dia bicarakan.
__ADS_1
"Aku suka sama kamu Amira." Akhirnya ucapan itu terlontar juga dari mulut Galih.
Amira terkejut sekaligus belum mengerti apa maksud Galih.
"Maksud kamu Mas?" tanya Amira.
"Aku sayang sama kamu Amira. Rasa sayangku sama kamu bukan seperti rasa sayang aku ke adik aku sendiri. Tapi lebih dari itu Amira."
Amira sekarang tahu apa maksud Galih.
"Kamu suka sama aku? yang benar aja Mas." Amira masih tidak percaya dengan semua ini.
"Amira, udah lama aku itu memendam perasaan ini sama kamu. Aku udah suka sama kamu, sejak kamu masih jadi istri Farhan.Dan aku baru bisa mengungkapkannya sekarang. Maafkan aku Amira, karena aku sudah lancang bicara seperti ini sama kamu. Tapi aku pun tidak bisa memendamnya terlalu lama. Aku akan ikhlas menerima jawaban apapun dari kamu Amira," ucap Galih.
Galih menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak enak harus bicara ini sama Amira. Namun dia pun tidak akan mungkin memendam terus menerus perasaannya itu. Seandainya Amira menolak cinta Galih, Galih pun akan ikhlas menerimanya. Karena Galih bukan orang yang suka memaksa.
Amira menghela nafas panjang.
"Maaf Mas, kalau untuk soal perasaan, sejauh ini aku belum bisa menerima lelaki lain di hati aku. Aku sudah cukup kecewa dengan adik kamu Mas. Aku jadi trauma untuk menerima lelaki lain di kehidupan aku. Mas Farhan lelaki yang pandai agama saja, bisa selingkuh, berkhianat, dan berpoligami. Bagaimana dengan lelaki yang lain."
"Amira, jangan bandingkan aku dengan Farhan Amira. Karena aku dan Farhan itu berbeda. Walau kami satu ibu dan satu ayah, tapi sifat kami jauh berbeda. Kamu pun seharusnya sudah bisa menilainya Amira. Karena kita dekat juga sudah lama."
"Iya Mas. Aku tahu. Tapi untuk saat ini, aku mau sendiri dulu Mas. Aku pun belum lama cerai dari Mas Farhan. Dan kamu juga kan kakaknya Mas Farhan. Untuk menerima kamu, aku harus berfikir ribuan kali untuk itu."
"Terus, jawaban kamu apa ? kamu mau menerima aku, atau tidak. Bagaimana sebenarnya perasaan kamu ke aku Amira?" tanya Galih.
Amira tersenyum. Sebenarnya dia juga tidak mau mengecewakan Galih. Karena Galih sudah sangat baik padanya. Tapi untuk masalah perasaan, selama ini Amira hanya menganggap Galih itu hanya sebagai seorang kakak. Tidak lebih dari itu.
"Aku sangat berterima kasih sama kamu Mas, karena kamu selalu ada di saat-saat aku susah dan selalu mau membantu aku. Tapi aku tidak pernah punya perasaan yang lebih ke kamu. Aku fikir kamu itu Padenya Laila. Dan selama ini aku cuma nganggap kamu kakak. Tidak lebih dari itu.
" Aku sayang sama kamu pun itu karena aku sudah menganggap kamu kakak kandung aku sendiri. Kamu kan tahu, kalau selama ini aku nggak punya Kakak. Nggak ada orang yang bisa aku ajak bertukar pikir. Jadi aku udah menganggap kamu seperti kakak kandung aku sendiri," ucap Amira panjang lebar.
Galih terkejut saat mendengar jawaban Amira.
"Jadi kamu nolak aku? kamu nggak mau membuka hati kamu untuk aku? apa karena aku kakaknya Farhan kamu jadi nolak aku?"
"Bukan begitu Mas. Untuk saat ini aku memang ingin sendiri dulu. Aku belum ada niat untuk berumah tangga lagi. Entah dengan siapapun itu. Tapi entahlah besok-besok. Mungkin saja aku bisa berubah fikiran. Untuk saat ini aku mau fokus ke karir aku aja dulu . Aku mau fokus membesarkan Laila."
Sebenarnya cukup sesak hati Galih saat mendengar penolakan Amira. Namun itulah yang harus dia terima. Dia tidak akan mungkin memaksa Amira untuk menerima cintanya.
"Tapi namanya jodoh nggak ada yang tahu ya Mas.Jika kita berjodoh, mungkin Allah akan mempersatukan kita suatu saat nanti. Tapi, jika kita tidak berjodoh, aku yakin kamu akan menemukan jodoh kamu, wanita yang lebih baik dari aku."
Galih tersenyum. Dia akan selalu menghargai semua keputusan Amira. Dia akan mencoba untuk mengerti Amira. Sudah bisa dekat dengan Amira saja sudah cukup bagi Galih. Galih tidak mau memaksa Amira untuk mempunyai perasaan yang sama juga sepertinya.
Namun, dari kata-kata terakhir Amira, Galih sepertinya masih punya harapan untuk memiliki Amira. Bisa saja, setelah ini Amira akan berubah fikiran dan mau membuka hati untuk Galih dan mau menerima cintanya Galih.
Maafkan aku ya Mas, aku sebenarnya tidak mau membuat kamu kecewa. Tapi aku memang belum siap untuk menerima lelaki di kehidupan aku, batin Amira.
__ADS_1