Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kedatangan ibu dan kakak


__ADS_3

Pagi ini Galih tampak sudah rapi. Di dalam kamarnya, dia masih tampak menyisir rambutnya


"Galih...! Galih...!" seru Bu Aminah dari luar kamar Galih.


Galih menghentikan aktifitasnya. Dia kemudian meletakan sisirnya dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Bu, ada apa?" tanya Galih.


"Katanya mau ke rumah Amira. Jadi nggak?" tanya Bu Aminah.


"Jadi dong bu. Nggak lihat apa kalau aku udah rapi begini."


"Ya udah. Ayo dong kita berangkat. Lama amat sih lagi ngapain di dalam."


"Iya Bu. Aku mau ambil dompet sama hape aku dulu ya."


"Iya. Ibu tunggu di depan ya."


"Iya."


Bu Aminah pergi meninggalkan kamar Galih. Sementara Galih masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil hape sama dompetnya. Setelah itu dia pun pergi keluar untuk menyusul ibunya.


Galih naik ke atas motornya. Setelah itu dia menyuruh ibunya untuk naik ke motornya.


"Ayo Bu. Naik!" pinta Galih.


"Iya." Bu Aminah kemudian naik ke atas motor. Setelah itu Galih dan Bu Aminah meluncur ke rumah Amira.


Di sisi lain, Amira masih berada di teras depan rumahnya. Setelah mandi, Farhan membawa Amira ke teras untuk berjemur. Hari ini adalah hari minggu. Dan setiap hari minggu, Farhan dan Laila libur ke sekolah.


Beberapa saat kemudian, deru motor terdengar di halaman depan rumah Amira. Amira menatap ke arah Galih dan Bu Aminah.


Amira tersenyum saat melihat kedatangan kakak ipar dan mertuanya.


"Mas Galih, ibu," ucap Amira.


Galih dan Bu Aminah turun dari motornya. Setelah itu mereka pun mendekat ke arah Amira yang saat ini masih berada di teras depan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Galih dan Bu Aminah bersamaan.


"Waalaikum salam," ucap Amira membalas salam dari ibu mertua dan kakak iparnya.


Amira kemudian mencium punggung tangan Bu Aminah


"Amira. Kok kamu sendirian aja sih di sini? Mana Laila dan Farhan?" tanya Galih pada Amira


"Mas Farhan dan Laila ada di dalam."


"Lagi ngapain?" tanya Bu Aminah.


"Lagi masak."


"Apa! masak? Emang Farhan bisa masak?"


Amira tersenyum.


"Lagi belajar bu."


Bu Aminah yang penasaran buru-buru masuk ke dalam rumah Amira. Dia ingin melihat Farhan di dapur.


"Assalamualaikum."


Farhan dan Laila menoleh ke belakang. Mereka tersenyum saat melihat Bu Aminah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." ucap Farhan dan Laila bersamaan.


Farhan dan Laila buru-buru mencium punggung tangan Bu Aminah.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Bu Aminah.


"Masak Nek. Nenek mau bantuin kami?"


Bu Aminah tersenyum dan mengangguk.


"Iya. Nenek akan bantuin kalian."


"Ibu ke sini sama siapa?" tanya Farhan.


"Sama Galih," jawab Bu Aminah.


"Mas Galihnya mana?"


"Tuh, sama Amira di depan."


Di sisi lain, Galih mendekati Amira. Dia kemudian berjongkok di depan kursi roda Amira.


"Amira, bagaimana kondisi kamu?" tanya Galih menatap Amira lekat.


"Alhamdulilah. Aku udah baikan Mas."


"Syukurlah kalau begitu. Leher kamu gimana?"


"Udah mendingan Mas. Mas Galih nggak mau masuk ke dalam?" tanya Amira.


"Aku mau temani kamu aja di sini."


"Aku juga mau masuk kok Mas ke dalam. Tapi dari tadi nunggu Mas Farhan nggak keluar-keluar."


"Iya Mas."


Galih bangkit dari jongkoknya. Setelah itu dia mendorong kursi roda Amira sampai masuk ke dalam rumah. Sesampainya Galih dan Amira di ruang tamu, Galih kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumah Amira.


****


"Mas Galih mau minum apa?" tanya Safia.


Galih tersenyum.


"Nggak usah repot-repot Amira. Kamu nawarin aku minum emang kamu bisa buatin aku minum?"


"Ya nggak lah Mas. Mas Galih kan tahu kondisi aku sekarang. Tapi kalau Mas Galih mau minum, nanti aku suruh Laila untuk buatin minum untuk Mas Galih."


"Nggak usah repot-repot Amira. Aku juga tadi baru sarapan dan masih kenyang."


Di sela-sela Amira dan Galih ngobrol, Farhan tiba-tiba saja datang dan menghampiri Galih dan Amira yang saat ini ada di ruang tamu.


Farhan langsung menjabat tangan Galih. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk berbaur bersama Galih dan Amira.


"Mas, mau ke sini kenapa nggak bilang-bilang?" ucap Farhan.


"Untuk apa harus bilang. Sebenarnya aku juga malas ke sini. Berhubung ibu yang maksa aku untuk ngantar dia ke sini, ya udah aku ke sini nganterin ibu," ucap Galih sinis.


"Kebetulan kalau gitu Mas. Saya mau bicara penting sama Mas."


"Bicara apa Farhan?" tanya Galih penasaran..


"Kita bicara di luar aja yuk!" ajak Farhan.

__ADS_1


"Kenapa harus bicara di luar. Kenapa ngga di sini saja."


"Saya mau bicara empat mata dengan Mas Galih."


"Ya udah, ayo!" ajak Galih.


Galih dan Farhan kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah. Sesampainya di teras depan rumah, mereka menghentikan langkahnya.


"Kita duduk di situ yuk Mas." Farhan mengajak Galih untuk duduk.


"Iya."


Farhan kemudian duduk di teras depan rumah bersama Galih.


"Farhan, kamu mau bicara apa?" tanya Galih menatap Farhan lekat.


"Besok, istriku mau ke rumah sakit Mas. Dia mau kontrol. Kan jadwalnya hari Senin," ucap Farhan menjelaskan.


"Ya terus?"


"Aku lagi butuh uang Mas."


"Uang untuk apa?" tanya Galih.


"Uang untuk kontrol Amira besok," jawab Farhan.


"Iya terus?"


"Kalau ada, aku mau pinjam uang ke Mas Galih. Selama ini kan aku nggak pernah pinjam ke Mas Galih. Siapa tahu Mas mau pinjamin aku uang untuk kontrol Amira besok Senin."


"Kamu butuh berapa?"


"Satu juta kalau ada Mas," jawab Farhan.


Galih terkejut saat mendengar ucapan Farhan.


"Satu juta? banyak amat. Apa kontrol akan menghabiskan uang sebanyak itu?"


"Ya nggak tahu Mas. Ini kan, kontrol pertama. Nggak tahu uangnya akan habis berapa. Sekalian aku pinjam untuk pegangan Amira dan Laila. Mereka juga lagi butuh uang sekarang."


"Lah, gaji kamu? atau uang tabungan kamu? apa nggak ada?"


Farhan menggeleng.


"Nggak ada Mas. Aku nggak punya uang sepeser pun untuk saat ini. Mas kan tahu, uang tabungan aku udah habis untuk pemakaman Fauzan, bolak-balik nungguin Amira di rumah sakit. Dan gajian aku bulan ini juga, udah nggak ada."


Galih menghela nafas dalam. Sebenarnya tabungan Galih juga sudah menipis. Dia sudah mengeluarkan biaya banyak untuk memperbaiki kerusakan motornya. Tapi jika sudah menyangkut Amira, Galih tidak tega jika dia tidak memberikan pinjaman untuk Farhan.


Galih sejak tadi masih diam. Dia masih tampak berfikir. Apakah dia akan memberikan pinjaman untuk adiknya atau tidak. Setelah lama berfikir, akhirnya Galih pun mau meminjami adiknya itu uang.


"Baiklah. Aku akan berikan pinjaman ke kamu uang satu juta. Tapi nanti sore ya, aku ambil di ATM. Soalnya aku nggak bawa uang cash."


"Iya Mas. Makasih banyak Mas."


Farhan bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana Farhan?" tanya Galih.


"Aku mau masuk ke dalam Mas."


"Kita belum selesai bicara."


Farhan mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


__ADS_2