Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Keikhlasan


__ADS_3

Satu hari setelah kematian Farhan. Gus Farid mengajak Amira  untuk ngobrol-ngobrol di teras depan rumah. 


Hari ini, Gus Farid dan keluarga besarnya masih berada di rumah Amira yang ada di dekat mesjid. Mereka belum pulang ke rumahnya karena pernikahan yang sempat tertunda kemarin. 


"Kamu mau bicara apa Gus?" tanya Amira menatap Gus Farid lekat. 


"Amira, aku sudah bicara kan ini sama Umi Zahra. Dan dia sudah setuju dengan keinginan aku," ucap Gus Farid.


"Keinginan kamu? Apa keinginan kamu?" tanya Amira. 


"Sebelum itu aku mau minta maaf Amira, jika ucapan aku ini akan sedikit mengecewakan untuk kamu."


"Kamu mau bicara apa sih Gus? bicara saja yang jelas Gus?"


"Satu minggu yang lalu, Laila mendatangiku. Dan dia meminta aku untuk menggagalkan pernikahan kita. Tapi waktu itu aku tidak mau menggagalkannya karena ini wasiat terakhir dari kakek aku. Tapi setelah aku pikir-pikir, kita tidak boleh egois Amira."


"Maksud kamu?"


"Sepertinya, Laila belum menginginkan seorang ayah dalam kehidupannya. Dan aku tidak mungkin menikah dengan seorang wanita, yang anaknya saja tidak mau menerimaku menjadi ayahnya. Dan jika kita melanjutkan pernikahan ini, aku dan Laila pasti akan merasa tidak nyaman Amira."


"Terus maksud kamu?"


"Pernikahan kita kemarin sempat tertunda karena tragedi Farhan. Dan sepertinya aku nggak bisa Amira melanjutkan pernikahan ini lagi."


Amira terkejut saat mendengar ucapan Gus Farid.


"Kenapa Gus? apa karena Laila kamu mau menggagalkan pernikahan ini?"


"Nggak Amira. Masih banyak yang aku pertimbangkan juga."


"Sebenarnya sudah dari dulu Laila itu nggak setuju aku nikah lagi. Bahkan, sebelum kamu datang ke sini, dia sudah tidak setuju Gus aku punya suami baru.  Tapi aku yang selalu egois memaksakan diri aku untuk menikah lagi."


"Aku harap kamu mau mencontoh Umi Zahra ibu ku.Ning Husna tidak menginginkan kehadiran ayah baru dalam hidupnya. Dan sampai sekarang Umi ku tidak pernah mempunyai ambisi untuk nikah lagi. Dia selalu setia sama Abah dan anak-anaknya."


Amira menghela nafas dalam. 


"Aku sadar Gus. Bukan Laila yang egois. Tapi aku yang berambisi besar untuk menikah lagi. Aku dan ke dua orang tuaku yang sudah egois karena tidak memikirkan perasaan Laila.  Seharusnya aku nggak usah terburu-buru. Karena Laila masih butuh perhatianku.  Dan aku nggak mau menyiksa batin Laila. Dia baru saja kehilangan seorang ayah."


"Apa kamu setuju untuk gagalkan saja pernikahan dan perjodohan ini? atau kamu masih mau egois dan berambisi untuk menikah denganku. Tapi kalau aku, aku sepertinya sudah tidak bisa menikah dengan mu." 


Amira sejenak terdiam. Dia kemudian menghela nafas dalam. 


"Aku lebih pilih Laila Gus. Sepertinya kita memang belum berjodoh." 


"Kemarin Laila sempat bilang, kalau ada lelaki yang sedang menunggu kamu, dan dia sangat mencintai kamu. Dan Laila setuju kamu bersamanya. Kenapa kamu tidak pertimbangkan saja untuk menerima lelaki itu?" 

__ADS_1


"Siapa Gus? Mas Dion?"


"Kok Dion sih? kamu lupa dengan Mas Galih. Apa kamu sudah melupakan pengorbanan dia."


"Tapi aku sudah menolaknya Gus. Aku tidak mungkin menerimanya. Malu Gus."


"Coba saja Amira. Siapa tahu, akan ada kebahagiaan untuk kamu dan Laila jika kamu menerima Galih." 


"Aku akan fikirkan lagi Gus, untuk menerima Mas Galih."


"Aku rasa, cuma Galih lelaki yang benar-benar tulus menyayangi anak mu Laila. Aku belum tentu bisa menyayangi Laila seperti Galih dan Farhan yang menyayangi dia." 


"Gus, bagaimana dengan hatimu."


Gus Farid tersenyum. 


"Kamu tanyakan hati aku? jujur aku belum punya rasa untuk kamu. Tapi berkat kamu, aku sudah bisa melupakan cinta masa laluku." 


"Sebenarnya aku cukup kecewa Gus, dengan keputusan kamu. Karena aku sudah mulai mencintai kamu. Tapi, sepertinya aku sudah tidak mau egois lagi Gus sekarang. Laila putriku satu-satunya, dia sudah menjadi yatim. Dan aku tidak mau kehilangan Laila."


"Besok aku mau pulang ke pesantren bersama Umi Zahra, Ning Husna  dan keluarga besarku. Aku harap, kamu mau menerima keputusanku ini.  Janganlah jadi ibu yang egois Amira. Pikirkan lagi kebahagiaan putrimu Laila. Dia sudah menjadi korban perceraian ke dua orang tuanya, dan sekarang dia sudah kehilangan ayahnya. Apakah kamu mau mengorbankan hati Laila lagi."


"Iya Gus. Makasih ya Gus, selama ini kamu sudah mau menjadi temanku. Dari kamu, aku sudah banyak mendapatkan ilmu.  Walau kamu masih muda, tapi pemikiran kamu sangat dewasa Gus. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik Gus."


"Iya Amira. Aku akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu dan Laila."


Setelah kematian ayahnya, Laila lebih banyak diam.  Setelah pingsan untuk waktu yang lama, Laila seperti sudah tidak punya semangat hidup lagi. Dia sejak kemarin masih mengurung diri di dalam kamarnya. 


Dia sepertinya sangat kehilangan sosok ayah yang selama ini sudah sangat baik padanya. 


Sudah banyak kenangan Laila  bersama Farhan sebelum kepergian Farhan. Karena sebelum Farhan pergi, Farhan sudah meninggalkan banyak kenangan yang indah untuk anaknya. 


"Laila, kamu nggak mau makan? dari kemarin kamu belum makan. Sekarang kita makan yuk? Tante Novi, nenek, kakek, sudah ada di ruang makan sekarang. Dia sedang menunggu kamu Nak."


Laila menatap ibunya lekat. Dia meneteskan air matanya dan menangis. Di sela-sela menangis, Laila meraih tangan ibunya dan menggenggamnya dengan erat.  


"Umi, maafkan Laila ya. Karena selama ini Laila nggak pernah memikirkan kebahagiaan Umi. Laila sekarang setuju Umi nikah sama Gus Farid. Tapi maafkan Laila, Laila nggak bisa ikut Umi," ucap Laila. 


"Maksud Laila apa?" tanya Amira tidak mengerti. 


"Jika Umi mau mencari kebahagiaan bersama Gus Farid. Laila sudah ikhlaskan Umi ikut suami baru Umi. Silahkan Umi menikah dengan Gus dan ikut bersama Gus. Silahkan Umi bahagia bersama Gus. Tapi Laila mau ikut bersama Pade. Laila mau tinggal di rumah nenek Aminah. Karena cuma mereka yang membuat Laila merasa nyaman."


"Apa! kamu mau ninggalin Umi?"


"Mi, Laila pengin Umi bahagia. Laila tidak mau menjadi pengganggu hubungan Umi dan Gus." 

__ADS_1


"Tapi Umi nggak mau nikah sama Gus Laila."


"Kenapa Mi? Laila udah gede kok, Laila nggak mau menghalang-halangi Umi lagi."


"Umi nggak mau bahagia di atas penderitaan kamu Laila. Jika kamu tidak setuju Umi nikah sama Gus, Umi pun tidak mau memaksakan diri untuk menikah dengan Gus. Umi sudah bilang ini sama kakek dan nenek kamu. Dan mereka pun tidak mau memaksakan perjodohan ini."


Laila menghentikan tangisannya. Dia kemudian menatap Uminya lekat. 


"Tapi… Laila pengin ikut Pade. Karena Laila kangen sama Abi . Cuma Pade yang bisa mengobati rasa rindu Laila ke Abi." 


"Umi nggak mau kehilangan Laila. Kalau Laila ikut Pade, Umi mau sama siapa? cuma kamu semangat hidup Umi Nak."


"Tapi Umi. Bagaimana dengan pernikahan Umi dengan Gus yang sempat tertunda?" 


"Gus dan Umi sepakat untuk menggagalkannya. Dan sepertinya, Gus juga belum bisa mencintai Umi."


"Kalau Umi nggak mau nikah lagi dengan Gus, Terus Umi mau apa sekarang?" 


"Ya Umi mau mempertimbangkan lagi keinginan kamu?" 


"Keinginan apa?"


"Ya Umi, mau nyoba aja dekat sama Pade kamu. Bukankah kamu setuju Umi sama Pade."


"Apa! Umi yakin? Umi serius? Umi nggak malu? Pade kan mantan kakak ipar Umi?"


"Untuk apa Umi malu, lagian, Abi kamu sudah meninggal. Tidak ada penghalang untuk Umi dan Pade untuk bersama." 


"Tapi… Umi sadar kan dengan apa yang Umi ucapkan?"


"Sadar. Apa kamu mau bukti? sekarang kamu telpon Pade kamu. Biar Umi yang bicara."


"Nggak usah Umi."


Amira meraih wajah anaknya. 


"Umi sayang sama Laila. Umi mau melakukan apapun asal Laila bahagia. Umi tidak mau menjadi ibu yang egois. Umi nggak mau seperti Abi mu. Dia orang yang paling egois yang pernah Umi kenal. Kalau Abi dan Umi sama-sama egois, kasihan kamu sayang. Kamu sudah terluka oleh Abi mu, dan Umi nggak mau kamu terluka lagi karena keegoisan Umi."


"Sekarang Abi sudah meninggal. Dia pun sudah mendapatkan hukuman yang pantas karena sudah menyakiti Umi," ucap Laila. 


Setelah itu Laila menatap ibunya lekat. 


"Makasih ya Umi. Umi ibu yang terbaik untuk Laila. Laila sayang banget sama Umi. Umi sudah mau berkorban untuk Laila." 


Laila kemudian memeluk Uminya dengan erat. 

__ADS_1


Aku ikhlas, melepaskan Gus Farid dari hatiku. Tapi aku nggak ikhlas, anak satu-satunya yang aku punya pergi dari kehidupanku dan membenciku, batin Amira. 


Tamat


__ADS_2