
Farhan menatap Zia lekat.
"Zi, kamu udah makan belum Zi?" tanya Farhan pada Zia.
Zia menggelengkan kepalanya.
"Aku belum makan Mas," jawab Zia.
"Kamu mau makan di sini Zi?" tanya Farhan lagi.
Zia diam. Dia menatap Amira sekilas. Amira masih menatap layar tivinya. Amira tidak mau memperhatikan suami dan madunya yang saat ini ada di dekatnya duduk.
"Em, nggak usah deh Mas. Aku mau makan di rumah aja."
"Nggak apa-apa kalau mau makan. Kita makan bareng aja sama Amira di ruang makan. Bagaimana Amira?" tanya Farhan pada Amira.
Amira diam. Dia tidak mengatakan apapun pada Farhan. Dia memang malas sebenarnya melihat kedatangan suami dan madunya. Andai saja Amira sudah bisa jalan, dia pasti akan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Amira, kamu dengar aku bicara kan?" ucap Farhan dengan meninggikan nada suaranya.
Amira menatap Farhan lekat.
"Terserah kamu Mas. Kalau kalian mau makan, ya sudah makan aja sana di ruang makan. Kalau aku sih nggak mau makan bareng kalian. Aku lagi nungguin Laila soalnya dari tadi."
"Emang Laila kemana?" tanya Farhan.
"Dia lagi beli bakso," jawab Amira singkat.
"Ya udah Zi, ayo kita makan. Aku takut kamu sudah lapar. Biar Amira nanti makan sama anaknya saja," ajak Farhan.
Zia mengangguk.
Farhan bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Zia. Farhan kemudian meraih tangan Zia dan menggandeng Zia sampai ke ruang makan.
"Duduk Zi. Aku akan siapkan makanan buat kita makan," ucap Farhan.
Zia mengangguk.
Dia kemudian duduk di ruang makan. Menunggu suaminya menyiapkan makanannya.
Tes.
Setetes air mata Amira jatuh dari pelupuk matanya. Dia kemudian mengusapnya kasar. Dia tidak ingin menangis di depan orang lain. Apalagi di depan madu dan suaminya. Walau saat ini hatinya merasakan sakit namun dia masih bisa untuk tegar menghadapi situasi seperti ini.
Beberapa saat kemudian, deru motor dari luar rumah Amira terdengar.
Novi dan Laila pulang dari beli bakso. Sesampainya di teras depan rumah, Laila turun dari motor. Setelah Novi memarkirkan motornya di teras depan rumah, Novi kemudian turun dari motor mengikuti Laila turun.
__ADS_1
Novi dan Laila masuk ke dalam rumah sembari memberi salam.
Sesampainya di ruang tengah, mereka menghentikan langkahnya.
"Kalian sudah pulang. Cepat amat," ucap Amira.
"Iya dong Mi. Tumben Mi, tukang baksonya lagi sepi. Biasanya ngantri banget. Tumben malam ini, cuma aku doang yang beli. Iya kan Tan."
Novi mengangguk."Iya."
Laila kemudian meletakkan bakso itu di meja ruang tengah. Setelah itu Laila duduk. Begitu juga dengan Novi yang mengikuti Laila duduk. Amira menatap lekat plastik itu.
"Kalian beli bakso berapa? kok kelihatannya banyak gitu ya," ucap Amira.
"Belinya sih cuma tiga bungkus Mbak. Tapi tukang baksonya ngasih dua bungkus. Katanya yang dua bungkus untuk Mbak Amira," ucap Novi menjelaskan.
"Kalian beli di mana sebenarnya. Baik benar tuh tukang bakso," tanya Amira.
Novi tersenyum.
"Mas Dion Mbak."
Amira mengernyitkan alisnya.
"Dion siapa?" tanya Amira.
Novi sejak tadi masih senyam-senyum sendiri.
"Sssstttt jangan keras-keras bicaranya. Ada Mas Farhan di ruang makan. Mbak kan jadi nggak enak. Kalau dia denger gimana," bisik Amira.
"Ups." Novi buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.
"Abi udah pulang ya Mi?" tanya Laila.
Amira mengangguk.
"Ya udah, kalau begitu aku mau siapkan piring untuk makan baksonya," ucap Laila.
Laila kemudian berjalan ke dapur dengan membawa plastik baksonya.
Laila terkejut saat melihat ayahnya sedang makan berdua dengan Zia. Amira memang sengaja tidak mau memberi tahu Laila dan Novi, kalau Zia ada di sini. Karena Amira mau membiarkan Laila dan Novi melihat sendiri Farhan ada di ruang makan bersama Zia.
"Abi, Mbak Zia ada di sini," ucap Laila. Dia kemudian mendekat ke arah Farhan dan Zia.
"La, kamu dari mana?" tanya Farhan.
"Beli bakso Bi," ucap Laila.
__ADS_1
"Kenapa Mbak Zia ada di sini?"
"Iya. Tadi dia baru jamaah di mesjid. Dan Abi sengaja suruh dia mampir, karena katanya dia mau sekalian jengukin Umi kamu," jelas Farhan pada anaknya.
"Oh..." Laila hanya bisa ber'oh ria.
"La, salim dulu sama ibu kamu," ucap Farhan yang membuat Laila melongo.
"Apa! Abi nyuruh aku salim sama Mbak Zia? aku nggak mau," ucap Laila.
"Laila, jangan seperti itu. Walau bagaimanapun juga, Zia ini ibu kamu sekarang. Kamu harus menghormatinya dan kamu juga jangan panggil Mbak, Mbak terus. Kamu panggil ibu kek, Mama kek," pinta Farhan.
Laila menatap Zia sinis. Bukannya salaman, Laila malah membawa baksonya kembali ke ruang tengah.
"Kamu bicara sama siapa La di ruang makan?" tanya Novi. "Zia sama Abi kamu ada di sana."
Laila menganggukan kepalanya dengan tampang cemberut. Dia kemudian kembali duduk di ruang tengah.
"Laila, kok kamu balik lagi. Kenapa?" tanya Amira. "Kenapa nggak jadi ambil piring?"
"Kenapa Umi nggak bilang sih kalau ada Mbak Zia di belakang. Aku nggak suka tahu nggak dia ada di sini,"
"Ssstttt. Laila. Jangan begitu. Kita harus menghormati tamu. Nggak boleh bersikap seperti ini," ucap Amira menasihati anaknya.
"Biar aku aja deh, yang ngambil piring. Kita makan di sini aja ya. Biarkan saja mereka makan di ruang makan."
Novi kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring. Novi berjalan begitu saja tanpa melirik Zia dan Farhan yang ada di ruang makan.
****
Laila, Novi dan Amira makan di ruang tengah. Sementara Farhan dan Zia makan di ruang makan. Mereka masih menikmati makanannya.
"Huh hah... pedes banget baksonya," ucap Laila. Matanya sudah mengeluarkan air mata karena menahan pedas.
Laila menatap ke atas meja. Di atas meja ruang tengah, tidak ada air untuk minum. Sepertinya saat Novi mengambil piring, dia lupa mengambil air minum juga.
"Makanya, jangan di makan juga sambelnya. Udah tahu pedas. Masih aja di makan tuh sambel," ucap Novi.
Laila menatap Novi tajam.
"Mbak Novi kenapa nggak ambil air minum sekalian sih untuk kita," gerutu Laila. Keningnya sudah berkeringat saat makan bakso pedas dan nasi panas.
"La, sana ambil minum La, untuk Umi juga," ucap Amira menyuruh Laila untuk mengambil minum.
Laila menganggukan kepalanya. "Iya Mi."
Laila bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum yang ada di dapur.
__ADS_1
"Mana tekonya ya. Biasanya ada di sini," ucap Laila sembari menatap ke sekeliling mencari teko yang biasa ada di dapur.
Namun teko itu tak nampak ada di dapur.