Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Uang dari Abi


__ADS_3

Malam ini, Laila masih berada di dalam kamar. Laila sejak tadi masih belajar di kamarnya.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Laila terbuka lebar. Amira masuk ke dalam kamar dan berjalan menghampiri Laila.


"Wah, anak Umi. Rajin banget ya sekarang," ucap Amira sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Laila menatap ke arah Amira yang sudah duduk di sisi tempat tidurnya.


"Ada apa Mi?" tanya Laila menatap ibunya lekat.


"Nggak ada apa-apa. Umi cuma mau ngasih kamu sesuatu," ucap Amira.


Laila menggeser kursinya dan menghadapkan tubuhnya menghadap ke arah ibunya.


"Umi mau ngasih apa?" tanya Laila.


Amira mengambil dompetnya dari saku gamisnya. Setelah itu dia mengambil uang dari Farhan kemarin.


"Ini, uang dari Abi kamu," ucap Amira sembari menyodorkan uang itu.


Laila terkejut saat melihat uang itu. Dia kemudian mengambil uang itu dari tangan Amira.


"Uang dari Abi? kapan Abi ke sini?" tanya Laila.


"Iya. Kemarin sore Abi kamu datang ke toko. Dan Abi ngasih uang itu untuk kamu jajan."


"Kok Umi nggak bilang sama Laila kalau Abi datang ke toko."


"Mau bilang gimana, kamu nyenyak banget tidurnya. Kalau Umi bilang pun, kamu nggak akan mau kan menemui Abi kamu."


Selama ini, Laila memang membenci Farhan. Tapi sebenarnya Laila itu kangen dengan ayahnya. Apalagi sudah hampir setahun mereka tidak pernah bertemu.


Laila pun sekarang sadar, walau bagaimanapun juga, sejahat apapun Farhan, dia tetap ayah kandung Laila. Dan Laila salah jika harus membenci Farhan terus menerus.


"Laila, sebenarnya Abi kamu ke sini itu ingin ketemu kamu. Dia kemarin udah minta maaf sama Umi. Dan dia ingin minta maaf sama kamu juga."


"Abi datang ke toko mau ketemu Laila dan mau minta maaf sama Laila? kenapa Umi nggak bangunin Laila. Seharusnya Umi bangunin Laila. Biar Laila ketemu sama Abi."


"Kalau Umi bangunin kamu, apa kamu mau ketemu sama Abi kamu?"


"Ya mau dong Umi. Laila sekarang sadar, benar apa yang pernah Umi katakan dulu, kalau Laila nggak boleh membenci Abi. Walau bagaimanapun juga, Abi itu ayah kandungnya Laila. Walau Abi sudah pernah jahatin kita, tapi dia tetap kan ayah Laila. Laila nggak boleh membenci dan harus tetap sayang sama Abi."


Amira mengusap rambut Laila dengan sayang.

__ADS_1


"Nah, ini baru anak Umi. Laila nggak boleh punya dendam sama orang. Apalagi itu ayah kandung Laila sendiri. Sejahat apapun Abi kamu, Laila nggak boleh membencinya. Laila harus tetap sayang sama Abi. Seperti Laila yang sayang sama Umi."


Laila tersenyum.


"Sebenarnya Laila juga udah kangen sama Abi. Udah lama kan Mi, Laila nggak ketemu Abi. Gimana caranya ya Mi, agar Laila ketemu Abi."


Amira tersenyum.


"Lho gimana caranya, kan ada Pade. Kamu bisa kan minta Pade ke sini jemput kamu, dan kamu bisa ke rumahnya Pade kalau kamu mau ketemu Abi kamu."


"Oh iya Mi. Pade kan sering ke sini. Kalau Laila kangen sama Abi, Laila kan bisa ya ikut ama Pade ke rumah Pade."


"Iya sayang."


Amira dan Laila sejenak saling diam.


"Laila, Umi sebenarnya mau bicara sesuatu," ucap Amira.


Laila menatap ibunya lekat.


"Umi mau bicara apa?" tanya Amira.


"Seandainya ada jodoh lagi untuk Umi, apa Laila ngizinin Umi nikah lagi?" tanya Amira pada anaknya.


"Apa! nikah lagi? Umi mau nikah lagi?" pekik Laila.


"Em, nggak sayang. Itu seumpama aja."


"Laila nggak setuju Umi nikah lagi."


"Kenapa?"


"Umi kan baru satu tahun pisah sama Abi. Masa Umi mau nikah lagi sih "


"Ya kan kalau ada jodoh. Dan Umi bicara seumpama sayang. Umi nggak akan nikah sekarang kok. Dan Umi juga nggak akan nikah tanpa persetujuan Laila."


"Kalau sekarang Laila nggak setuju kalau Umi nikah lagi. Lagian, Umi mau nikah sama siapa sih? Umi kan baru setahun pisah sama Abi. Umi nggak trauma apa sama pernikahan Umi yang kemarin."


Amira diam. Amira memang masih trauma dengan pernikahannya dengan Farhan kemarin. Tapi banyak orang yang mendukung Amira untuk cari suami baru. Mereka selalu bilang ke Amira, "janganlah menengok lagi ke belakang. Karena di depan, masih ada masa depan yang lebih cerah yang sedang menunggumu Amira"


Banyak orang yang mau mencarikan jodoh untuk Amira. Dari mulai orang tuanya, kerabatnya, sampai teman-temannya. Namun Amira masih ingin sendiri. Karena Amira tahu, Laila belum membolehkannya untuk cari suami baru. Mungkin Laila belum siap untuk punya ayah tiri.


"Bagaimana nanti kalau suami Umi itu galak. Bagaimana nanti kalau dia selingkuhin Umi seperti Abi yang udah duain Umi. Bagaimana kalau Umi dipoligami lagi."

__ADS_1


"Kalau Umi nikah lagi, Laila yakin Umi pasti akan berubah sama Laila. Pasti nanti Umi akan lebih sayang sama ayah barunya Laila dari pada sama Laila."


Amira menghela nafas dalam. Tadinya Amira ingin membahas perjodohannya dengan Gus Farid dengan Laila.


Dia ingin mendengar pendapat Laila tentang Gus Farid. Tapi, mendengar jawaban dari Laila, Amira harus berfikir ribuan kali, untuk menerima perjodohan itu.


Akhirnya, Amira urungkan niatnya juga, untuk membahas hal itu dengan Laila.


Aku yakin, Laila pasti tidak akan setuju aku nikah lagi. Apalagi dengan Gus Farid. Calon yang dipilihkan bapak untuk aku. Laila dan aku juga kan nggak kenal sama lelaki itu. Pasti Laila nggak akan setuju dengan perjodohan ini. Laila juga sepertinya masih trauma dengan Abinya kemarin, batin Amira.


Amira tersenyum.


"Ya udah, Laila lanjutkan lagi aja belajarnya," ucap Amira.


"Umi mau ke mana?" tanya Laila


"Umi mau ke luar dulu "


"Mau ngapain? Umi nggak mau temani Laila belajar?"


Amira tersenyum.


"Tadi kamu juga berani sendirian. Kenapa sekarang minta di temani Umi. Umi kan mau bantu-bantu nenek di dapur."


"Yah, Umi. Temani Laila ya. Ajarin Laila belajar. Soalnya tahun ini Laila mau ujian kelulusan. Laila pengin dapatin peringkat lagi Umi. Setidaknya biar Laila peringkat dua atau tiga."


"Baiklah. Umi akan ajarin Laila. Emang kamu lagi belajar apa sih?" tanya Amira. Dia bangkit dari duduknya. Amira kemudian mendekat ke arah Laila.


Laila menghadapkan tubuhnya ke meja belajarnya lagi. Dia kemudian menatap buku tulisnya.


"Ini Umi. Aku lagi ngerjain PR matematika. Apa Umi tahu rumusnya?" tanya Laila.


"Coba sini lihat. Biasanya kan ada di LKS kamu rumusnya. Emang guru kamu nggak memberikan contohnya," ucap Amira.


"Nggak tahu Mi. Laila lupa."


"Biasanya juga kamu pintar. Masa juara kelas nggak pinter ngerjain matematika," ucap Amira.


Laila hanya menyeringai.


"Yah, beginilah Mi, kalau otak lagi eror," ucap Laila sembari mengetuk-ngetuk kepalanya dengan pensilnya.


"Makanya jangan kebanyakan main hape."

__ADS_1


__ADS_2