
"Assalamualaikum," pintu rumah terbuka lebar.
Pandangan Farhan tertuju pada Galih kakaknya.
"Dari mana Mas, jam segini baru pulang?" tanya Farhan pada Galih.
"Biasalah, nongkrong-nongkrong sama teman. Ngopi-ngopi di rumah teman, ngilangin suntuk," ucap Galih sembari menutup pintunya kembali.
Galih kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dan duduk di dekat Farhan. Setelah itu Galih menatap Farhan lekat.
"Kenapa kamu, mukanya ditekuk gitu?" tanya Galih.
Farhan menghela nafas dalam.
"Besok Amira mau minta diantar ke rumah sakit," ucap Farhan.
"Ya udah antar saja. Kenapa , kamu sepertinya keberatan untuk ngantar dia."
"Bukannya begitu Mas, tapi aku lagi nggak pegang uang. Mas kan tahu, kalau rezeki aku lagi seret. Toko-toko yang biasa aku andalkan lagi sepi banget. Dan juga, aku kan belum gajian."
"Farhan Farhan, aku heran sama kamu ya. Kamu sudah tahu, kondisi keuangan kamu seperti ini. Beraninya kamu nikah lagi dan punya dua istri. Pusing kan sekarang."
Farhan menatap wajah Galih lekat. Entah apa yang sedang Farhan harapkan dari kakaknya. Galih sebagai seorang kakak tidak akan pernah berhenti untuk menasihati adiknya yang sudah salah jalan.
"Kenapa? kamu mau minjam duit ke aku? atau kamu mau nyuruh aku nganter Amira lagi? Farhan, seharusnya kamu mikir sebelum kamu mengambil keputusan untuk menikah lagi. Sekarang susah kan kamu,"
Farhan menghela nafas dalam. Dia tampaknya sangat bingung sekarang.
"Farhan, Amira itu bukan mahram aku. Kalau kamu, menyuruh aku atau lelaki lain untuk mengantar Amira ke rumah sakit, itu sama saja kamu memberikan kesempatan aku dan lelaki lain untuk menyentuh istri kamu, bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta beneran sama Amira? kamu mau tanggung jawab dengan perasaan aku? mikir Farhan mikirin...!"
Deg.
Farhan terkejut saat mendengar ucapan Galih. Farhan langsung menatap Galih tajam.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu Mas? kamu mencintai Amira?" Farhan sudah mengepalkan tangannya geram. Rahangnya sudah mulai mengeras.
Hatinya sudah mulai meradang mendengar ucapan Galih. Padahal Galih hanya mengetes Farhan saja, apakah dia masih punya rasa cemburu ke Amira atau tidak.
Tapi nampaknya Farhan masih sangat mencintai Amira. Buktinya, dia marah besar, dan hatinya mulai memanas saat mendengar ucapan Galih. Ya Farhan sepertinya cemburu.
Sejak tadi, Farhan masih mencoba untuk mengontrol emosinya. Nafasnya sudah naik turun tidak beraturan. Dia tidak mau berkelahi dengan Galih di tengah malam begini.
__ADS_1
Galih hanya tersenyum saat melihat ekspresi wajah Farhan.
Galih bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia mendekati Farhan dan berbisik.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan jadi orang ke tiga di antar kamu dan Amira. Tapi jangan salahkan Amira dan aku, jika suatu saat kami bisa saling jatuh cinta," ucap Galih tepat di dekat telinga Farhan.
Farhan memelototi wajah Galih. Ingin sekali dia mencengkeram kerah baju Galih. Namun Farhan masih bisa menjaga kewarasannya untuk tidak berkelahi dengan kakaknya.
Galih sama sekali tidak takut, dengan kemarahan adiknya. Dia tampak santai menanggapi kemarahan adiknya. Dia hanya berlalu pergi meninggalkan Farhan.
Dia merasa menang sekarang, karena sudah bisa membuat Farhan emosi. Galih yakin, pasti nanti malam Farhan tidak akan bisa tidur dan besoknya, dia akan semangat untuk ngantar Amira ke rumah sakit.
****
Azan subuh sudah berkumandang di mushola dekat rumah Farhan.
Farhan sudah mandi, dia sudah wangi dengan parfum non alkohol yang setiap hari biasa dia pakai.
Farhan saat ini sudah memakai koko putih dan sarung kotak-kotak, dia sudah siap untuk berangkat jamaah ke mushola.
Farhan berjalan ke luar dari kamarnya. Dia meninggalkan Zia yang masih terlelap di atas tempat tidurnya. Farhan keluar dari rumah dan berjalan ke arah mushola untuk melakukan sholat jamaah subuh di mesjid.
Setelah Farhan pergi, Zia mengerjapkan matanya. Dia meraba ke sampingnya tidur. Namun suaminya sudah tidak ada di sampingnya.
Zia turun dari tempat tidurnya. Dia mencium bau yang semerbak di dalam kamarnya.
Hoek...Hoek...Hoek...
Zia tiba-tiba saja mual-mual. Dia kemudian keluar dari kamarnya dan berlari menuju ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya di sana.
"Ih, Mas Farhan. Sudah aku bilang jangan pakai minyak wangi, tapi dia malah pakai minyak wangi. Mual banget aku," ucap Zia sembari memegangi perutnya yang masih mual.
Zia menyalakan keran. Setelah itu dia mengusap mulutnya dengan air.
Tok tok tok...
"Hei... siapa yang di kamar mandi, cepat buka pintunya..."seru Galih dari luar kamar mandi.
Zia buru-buru mengusap mulutnya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Di luar kamar mandi, sudah ada Galih berdiri dengan menatapnya tajam.
"Lama amat sih di kamar mandi, aku mau mandi tahu," ucap Galih dengan ketus.
__ADS_1
"Maaf Mas. Aku lagi mual. Lagian, kenapa Mas Galih tidak mandi di kamar mandi yang satunya. Kenapa mesti di sini."
"Ya terserah aku dong, rumah juga rumah ibu aku. Terserah aku mau mandi di mana. Lagian, di kamar mandi satunya, ada ibu."
"Oh. Maaf mas, aku nggak tahu. Silakan Mas, kalau mau mandi."
Zia kemudian pergi meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Ih, gini amat ya. Hidup bareng dengan ipar. Padahal Mas Galih kan ipar laki-laki. Seharusnya dia baik sama aku. Tapi dia malah ketus banget gitu. Bagaimana kalau ipar perempuan ya. Mungkin kita sudah berantem terus, setiap hari." ucap Zia sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Zia menutup hidungnya saat masuk ke dalam kamar. Wangi parfum Farhan itu, belum hilang juga walau Farhan sudah pergi lama dari kamarnya.
Zia yang merasakan mual diperutnya, hanya bisa berbaring santai menunggu suaminya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Farhan masuk ke dalam kamarnya.
"Zi, kamu udah bangun?" ucap Farhan sembari mendekat ke arah istrinya.
"Stop...! berhenti di situ. Jangan mendekat."
Farhan mengernyitkan alisnya.
"Kenapa Zi?"
"Kamu bau Mas. Dan aku nggak suka bau kamu," ucap Zia.
Farhan mencium bajunya.
"Sayang, bau apa?"
"Bau parfum kamu Mas. Tolong ganti baju kamu. Ganti baju yang nggak bau parfum."
"Iya iya iya. Aku akan ganti."
Farhan kemudian berjalan ke lemari dan mengambil bajunya.
"Sana keluar Mas. Masih bau. Aku nggak kuat baunya. Aku nggak bisa balik lagi ke kamar mandi. Karena ada ibu sama Mas Galih di sana."
"Iya iya. Aku ganti baju di luar aja."
Farhan kemudian keluar dari kamar istrinya dan ganti baju di depan kamar. Setelah itu, dia mencantolkan baju itu di cantelan yang ada di dekat kamar.
__ADS_1
Farhan tidak kembali ke kamar melainkan dia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
****