Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Obrolan Galih dan ibunya


__ADS_3

Setelah menyuapi Amira, Farhan kemudian membantu Amira untuk duduk.


"Umi bisa duduk kan?" tanya Farhan pada Amira.


"Bisa Bi," jawab Amira singkat.


"Abi bantuin Umi duduk ya!"


"Iya Bi. Makasih."


Farhan kemudian mengangkat tubuh Amira untuk membantunya duduk. Setelah Amira duduk, Farhan kemudian kembali duduk di depan Amira.


"Mi, dari kemarin Umi belum mandi kan. Abi bantuin Umi mandi ya," ucap Farhan yang membuat wajah Amira memerah.


Sepertinya dia malu, jika Farhan harus ikut terjun untuk membantunya mandi. Yah, walaupun mereka suami istri, tetap saja Amira merasa malu, karena semenjak mereka menikah, mereka tidak pernah sekalipun mandi bareng.


"Gimana caranya Abi bantuin Umi mandi? Umi kan nggak bisa ke kamar mandi sendiri? apa Abi mau gotong Umi ke kamar mandi? atau Abi mau mandiin Umi di sini?" tanya Amira


Farhan tersenyum.


"Masa Abi harus mandiin Umi di sini sih. Basah semua dong kasurnya. Tentu Abi mau gotong Umi sampai ke kamar mandi. Abi mau panggil Laila dulu ya."


"Untuk apa?" tanya Amira.


"Untuk bantuin Abi mandiin Umi lah."


"Ya udah Bi. Terserah kamu aja sekarang mah. Umi sekarang udah nggak bisa apa-apa sendiri Bi. Maafkan Umi ya, harus selalu ngerepotin Abi."


Farhan tersenyum.


"Nggak apa-apa Mi. Ini sudah menjadi kewajiban Abi sebagai suami kamu. Harus ngurusin istrinya yang sakit."


Farhan kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar Amira untuk memanggil Laila.


Maafkan aku Mas Farhan, aku sudah menjadi istri yang tidak berguna untuk kamu. Aku sudah selalu merepotkan kamu terus Mas, batin Amira sembari menatap kepergian suaminya.


****


Sore ini, Galih sudah sampai di depan rumahnya. Galih turun dari motornya dan melangkah ke teras depan rumahnya.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Galih.


"Wa'alaikumsalam," terdengar ucapan salam Bu Aminah dari dalam rumah.


Galih membuka pintu rumahnya. Dia masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Galih menghentikan langkahnya setelah dia sampai di ruang tengah.


Galih buru-buru mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ibunya.


"Bu, lagi ngapain?" tanya Galih yang melihat ibunya tampak sibuk dengan handphonnya.


"Ini. Ibu mau telpon si Farhan. Tapi dari kemarin dia nggak angkat-angkat telpon dari ibu. Ini juga belum di angkat Galih," ucap Bu Aminah.


Sejak tadi tampaknya Bu Aminah sedang sibuk menelpon Farhan anak bungsunya.


"Mau ngapain ibu telpon Farhan?" tanya Galih menatap ibunya lekat.


"Ibu mau tanya, Amira itu udah pulang apa belum," jawab Bu Aminah.


"Katanya Amira udah pulang hari kemarin Bu," ucap Galih.


"Kamu yakin?" Bu Aminah menatap Galih lekat.


"Yakin dong Bu. Kan aku juga udah di kasih tahu Lalia kemarin."


"Aku juga sebenarnya penasaran dengan kondisi Amira. Aku cuma bisa menjenguknya sekali waktu di rumah sakit. Setelah aku kembali kerja, aku cuma sibuk dengan kerjaan aku saja." Galih tampak sedih, karena dia tidak bisa menjenguk adik iparnya lagi setelah dia aktif kembali di kantornya.


"Galih, gimana kalau nanti kamu antar ibu main ke rumah Farhan." Bu Aminah mengusulkan.


"Tapi aku kan harus kerja Bu."


"Kamu liburnya kapan Lih?" tanya Bu Aminah.


"Minggu doang Bu."


"Ya udah, gimana kalau nanti hari minggu kamu antar ibu ke rumah Farhan."


"Iya deh. Kalau hari minggu ini aku nggak ada acara, aku mau antar ibu ke rumah Amira. Aku sebenarnya juga kasihan sama Amira. Coba deh bayangin Bu. Amira sekarang udah cacat, di tinggal anaknya, di poligami lagi."


"Huh, ibu juga kasihan Galih sama Amira. Wanita mana sih, yang mau takdirnya seperti itu. Menjadi wanita cacat yang harus berbagi suami dengan wanita lain," ucap Bu Aminah.


"Aku yang seorang lelaki saja, bisa merasakan bagaimana penderitaan Amira saat ini. Andai Farhan bisa memikirkan perasaan istrinya, pasti dia lebih memilih untuk mengurus Amira saja dari pada pergi ke rumah istri ke duanya," ucap Galih.

__ADS_1


Bu Aminah mengernyitkan alisnya bingung.


"Emang apa yang kamu tahu Galih? sepertinya kamu tahu banyak tentang keluarga adik kamu?"


"Ya tahulah Bu. Aku kan sering nelpon Laila untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan Amira. Dan semalam, ternyata Farhan lebih memilih untuk nginap di rumah Zia dari pada menemani Amira di rumah."


Bu Aminah terkejut saat mendengar ucapan Galih


"Kamu serius? tapi kan Amira baru pulang dari rumah sakit. Seharusnya, kalau Farhan mau meninggalkan Amira, itu kalau Amira sudah satu minggu di rumah. Gimana sih Farhan itu." Bu Aminah juga ikut kesal dengan sikap anaknya yang lebih mementingkan istri ke duanya dari pada istri pertamanya yang sedang sakit.


"Makanya Bu. Ibu harus bicara lagi dengan Farhan. Ibu kan yang waktu itu ikut andil menyetujui pernikahan Farhan. Ibu harus tanggung jawab dong "


"Lalu ibu harus berbuat apa Galih."


"Ya ibu bilang sama Farhan, Ceraikan aja istri barunya kalau dia merasa kerepotan mengurus dua istri. Lagian mereka juga cuma nikah siri kan. Tinggal talak aja selesai," ucap Galih.


Bu Aminah hanya bisa tersenyum kecut.


"Galih, kamu sih iya, enak bicara. Tapi apa Farhan mau mendengarkan ucapan ibu. Kemarin aja ibu nggak menyetujuinya untuk menikah lagi. Tapi, dia masih tetap ngotot kan ingin menikah lagi."


"Begini nih, orang kalau sudah di mabuk cinta. Aku yakin, lama-lama si Farhan akan benar-benar meninggalkan Amira," ucap Galih.


Bu Aminah menatap Galih.


"Galih, kamu dan adik kamu itu sangat berbeda pemikirannya. Dan susah Galih untuk menasihati adik kamu."


"Susah gimana sih Bu. Ibu kan ibunya. Seharusnya anak lelaki itu menurut dengan ibunya. Karena surga itu ada di telapak kaki ibu."


"Tapi Farhan itu sudah merasa paling pintar dalam ilmu agamanya. Makanya, dia itu tidak akan mempan dinasehati oleh orang awam seperti kita. Yang ada dia pasti akan mengeluarkan dalil-dalil Rasulullah dan membacakan ayat-ayat yang membolehkan lelaki itu boleh menikahi satu dua tiga dan empat istri."


Hahaha...


Galih tiba-tiba saja tertawa. Merasa lucu dengan ucapan ibunya.


"Jarang ada Bu, ustadz yang poligami. Karena mereka takut dosa seandainya dia nggak bisa adil dengan salah satu istrinya. Biasanya, yang poligami itu sekelas Ceo, direktur, atau pejabat negri yang uangnya nggak bisa dihitung. Karena mereka yakin, istrinya akan bahagia dengan harta mereka yang nggak akan habis tujuh turunan."


Galih bangkit dari duduknya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Bu Aminah.


"Mau mandi Bu. Gerah aku Bu."

__ADS_1


"Ya udah. Mandi dulu sana."


Galih kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang tengah. Dia menuju ke kamarnya untuk mandi, dan ganti baju.


__ADS_2