Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Jebakan Zia


__ADS_3

Waktu saat ini sudah menunjukkan jam empat pagi. Sebentar lagi suara azan subuh berkumandang.


Amira masih menatap ke atas langit-langit kamar. Amira sejak tadi masih menunggu suaminya pulang.


"Mas Farhan kemana ya. Apa dia udah pergi ke rumah sakit, mengantar kakeknya Zia," ucap Amira di dalam kesendiriannya.


"Kalau Mas Farhan ke rumah sakit, terus aku besok gimana dong. Aku mau sama siapa berangkat kontrolnya." Amira tampak sedih.


Sejak suaminya pergi, Amira tidak bisa tidur lagi. Dia menunggu suaminya pulang. Karena kata Farhan, dia mau sebentar perginya. Tidak tahunya sampai jam empat pagi dia belum pulang.


Amira tidak tahu apa yang sedang suaminya lakukan bersama wanita itu. Amira fikir, Kakeknya Zia sakit beneran dan saat ini Farhan sudah mengantarkan Zia dan kakeknya ke rumah sakit.


Amira meneteskan air matanya. Untuk mengambil hape yang ada di atas nakas saja dia belum bisa, karena lehernya masih sakit untuk di gerakin. Begitu juga dengan bahunya. Amira hanya bisa menangis sedih. Dia tidak bisa menelpon suaminya karena keadaannya saat ini.


Laila merasa terganggu dengan tangisan ibunya. Laila tiba-tiba saja mengerjapkan matanya dan terbangun. Dia kemudian menatap Amira lekat.


"Umi, umi nangis?" tanya Laila.


Amira menatap Laila dan langsung mengusap air matanya.


"Umi nggak apa-apa, " jawab Amira.


Laila beringsut duduk. Dia kemudian menatap jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam 04.10.


"Udah jam empat. Abi belum pulang Mi?" tanya Laila.


"Belum La," jawab Amira singkat.


"Abi kemana sih? dan pergi jam berapa tadi Abi?"


"Abi kamu pergi waktu jam setengah satu."


"Tapi katanya Abi cuma sebentar. Kok lama sih sampai hampir subuh."


"Umi juga nggak tahu. Mungkin Abi lagi ke rumah sakit."


"Mau ngapain malam-malam gini Abi ke rumah sakit. Emang ada yang sakit Mi?" tanya Laila.


"Tadi Abi minta izin pergi ke rumah istrinya. Katanya Pak Ramli kakeknya Zia itu semalam kena muntaber. Dan Abi kamu mau nolong Zia membawa Pak Ramli ke rumah sakit," ucap Amira menjelaskan.


"Oh. Abi pergi pakai motor ya Mi."


"Iya."


"Umi kenapa nggak tidur lagi. Gimana kalau besoknya ngantuk. Kan Umi mau kontrol ke rumah sakit."


"Umi nggak bisa tidur," ucap Amira sembari mengusap sisa-sisa air matanya.


"Kenapa? Umi mikirin Abi ya. Umi tenang aja. Nanti Laila yang akan telpon Abi. Kalau Abi nggak mau pulang, nanti Laila samperin Abi ke rumahnya Mbak Zia."


"Makasih ya La."


"Iya. Tapi Umi tidur ya."


"Iya La. Umi akan tidur."


Laila mengusap pipi Amira yang masih basah karena air matanya. Sementara Amira mencoba untuk memejamkan matanya. Dia ingin tidur walau hanya sebentar.


Setelah Amira tidur, Laila mengangkat selimut dan menutupi tubuh ibunya dengan selimut itu.


Setelah Amira lelap, Laila mengambil ponsel Amira yang ada di atas nakas.

__ADS_1


"Aku telpon Abi aja deh, siapa tahu diangkat. Kalau nggak, ya udah besok aja telponnya."


Laila kemudian mencoba untuk menelpon ayahnya.


****


Ring ring ring...


Suara ponsel Farhan berdering. Farhan dan Zia saat ini masih berada di bawah selimut yang sama, dalam keadaan tubuh polos tanpa busana.


Zia mengerjapkan matanya saat mendengar deringan ponsel Farhan.


"Ih, siapa yang nelpon. Ganggu orang aja," gerutu Zia sembari mengambil ponsel Farhan yang ada di atas meja.


"Huh, Mbak Amira. Mau ngapain sih dia nelpon. Matiin aja lah," gerutu Zia lagi yang tidak suka Amira mengganggunya. Zia tidak tahu saja kalau yang menelpon itu Laila dengan hape ibunya.


Zia kemudian mematikan panggilan dari Laila. Setelah itu, Zia pun menonaktifkan ponsel Farhan. Dia kemudian berbaring kembali dan memeluk tubuh suaminya.


"Kenapa ya, aku jadi pengin punya anak. Kalau aku hamil, pasti Mas Farhan akan lebih sayang sama aku ketimbang sama Mbak Amira. Aku harus bisa hamil, aku harus ngajakin Mas Farhan tidur bareng terus seperti ini," ucap Zia sembari mengeratkan pelukannya.


Zia yang masih mengantuk, mencoba untuk memejamkan matanya kembali.


"Allahuakbar Allahuakbar..."


Suara azan dari mushola terdengar. Farhan mengerjapkan matanya saat mendengar suara azan di mushola.


Farhan menyingkirkan tangan Zia yang sejak tadi masih melingkar di perutnya.


"Mas, kamu mau ke mana? masih subuh" ucap Zia.


"Aku mau mandi. Hari ini kan jadwal Amira kontrol ke rumah sakit. Jadi aku harus cepat-cepat pulang. Pasti Amira lagi nungguin aku," ucap Farhan.


"Ih. Mas. Nanti aja pulangnya. Mau kontrol jam berapa sih. Ini masih subuh."


Zia tersenyum.


"Iya deh. Aku mau ikut ke kamar mandi."


Farhan dan Zia kemudian mengambil handuk. Mereka memakai handuknya masing-masing dan melangkah ke kamar mandi.


Selesai mandi, Farhan dan Zia sholat subuh berjamaah di rumah Zia.


"Assalamualaikum warahmatullahi..."


Setelah salam, Farhan berdoa dan berdzikir. Setelah itu dia menghadapkan tubuhnya ke arah Zia.


Zia tersenyum dan langsung mencium punggung tangan suaminya


"Kamu cantik banget Zi. Masih muda lagi," ucap Farhan saat menatap wajah Zia yang masih pakai mukena.


Zia tersenyum bahagia saat mendapatkan pujian dari suaminya. Farhan memang sering sekali menatap dan memuji istri barunya itu. Apalagi Zia pandai berdandan.


"Sama Mbak Amira, cantik mana?" tanya Zia.


Farhan diam. Dia tidak bisa membandingkan Zia dengan Amira. Karena Amira juga cantik. Waktu mudanya, Amira juga sangat cantik dan anggun. Perbedaannya sekarang, hanya ada pada usia saja.


"Kalau sekarang sih cantik kamu. Tapi waktu Amira masih muda, dia juga cantik. "


Farhan bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Zia. Dia melepaskan mukenanya. Setelah itu Zia melangkah ke dapur untuk siap-siap memasak.


Setelah sholat, Farhan ganti baju. Dia melepaskan sarung dan baju koko nya. Setelah itu dia ganti celana dan kaos yang dia pakai semalam. Farhan akan beranjak pergi dari kamar, namun Zia menghadangnya di pintu kamar.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Zia.


"Aku mau pulang ke rumah Amira."


"Kamu nggak mau, minum teh manis buatan aku yang semalam?"


"Hehe... aku lupa sayang. Kalau boleh buatin lagi dong yang hangat."


Zia menggeleng.


"Kamu harus habiskan teh manis yang semalam dulu. Baru aku buatin lagi yang hangat."


"Tapi kan udah dingin sayang."


"Tapi aku nggak mau tahu. Mas pokoknya harus minum teh yang aku buatin semalam. Kalau nggak, nanti aku ngambek karena Mas nggak menghargai aku."


Farhan menatap teh hangat yang sama sekali belum dia sentuh atau minum dari semalam.


"Baiklah aku minum."


Zia tersenyum.


Farhan kemudian mengambil gelas yang ada di meja kecil kamar Zia. Dia kemudian minum teh manis yang semalam.


Zia hanya senyum-senyum sendiri saat melihat Farhan menghabiskan teh manis yang semalam.


Minum Mas sampai habis. Biar hari ini, aku bisa bersenang-senang dengan kamu sampai siang, karena aku nggak ngizinin kamu untuk mengantar Mbak Amira ke rumah sakit, batin Zia.


Setelah Farhan menghabiskan teh manis yang semalam, dia kemudian meletakkan gelas itu kembali di atas meja.


Tiba-tiba saja, Farhan memegangi kepalanya.


"Duh, kenapa kepala aku jadi muter-muter gini ya Zi."


"Kamu kenapa Mas? kamu nggak apa-apa kan ?" tanya Zia sembari mendekati suaminya.


Hoaaammm...


"Ngantuk banget aku Zi. Padahal aku kan harus pulang dan ngantar Amira ke rumah sakit," ucap Farhan.


Zia mengajak suaminya untuk duduk di sisi ranjang.


"Aku yakin, pasti sekarang kamu sakit Mas. Kasihan kamu Mas, harus ngurusin istri lumpuh seperti Mbak Amira. Pasti kamu capek. Istirahat aja di sini Mas sampai besok, atau sampai lusa," ucap Zia sembari memijat-mijat bahu Farhan.


"Kalau aku nggak pulang, siapa yang akan ngantar Amira ke rumah sakit. Ini waktunya Amira kontrol. Keluarga Amira juga lagi jauh."


"Gimana kalau aku telponin Mas Galih. Biar dia yang ngantar Mbak Amira ke rumah sakit."


Farhan tersenyum.


"Boleh deh. Sana kalau kamu mau telpon Mas Galih. Mas ngantuk banget rasanya. Nggak karu-karuan. "


Farhan kemudian naik ke atas ranjang dan kembali tidur. Sepertinya obat tidur yang Zia berikan sudah bereaksi.


Dan Zia akhirnya berhasil dengan niat busuknya itu. Sebenarnya Zia tidak mau Farhan mengantar Amira ke rumah sakit.


Yang Zia inginkan saat ini, Amira lumpuh selama-lamanya. Agar Farhan bisa jatuh ke tangannya. Dan Zia bisa memiliki ustaz idolanya itu seutuhnya.


****


Efek lagi bosen nulis cerita tentang CEO perkotaan. Jadi nulis lah sesuka hati. Jadilah cerita ini. 😁

__ADS_1


Tapi kok, othor ikut gregetan ya nulisnya. Padahal cuma ustaz halu. Mudah-mudahan di dunia nyata, nggak ada orang yang kaya Farhan ya. Cukup di ceritaku saja.


Yang mau komen, komenin aja biar semakin rame. Tunggu saja happy endingnya.


__ADS_2