Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Sebuah kebohongan


__ADS_3

Dua hari setelah operasi, Amira sudah mulai lancar bicara. Mungkin rasa sakit yang dia rasakan tidak seperti kemarin-kemarin.


Sore ini di ruangannya, Amira masih bersama Farhan suaminya. Saat ini Farhan masih menyuapi istrinya dengan semangkuk bubur.


"Sayang, makan yang banyak ya, biar kamu cepat pulih dan kita bisa cepat pulang," ucap Farhan.


"Bi, mana Laila? udah satu hari aku nggak lihat dia?" tanya Amira di sela-sela kunyahannya.


"Laila kan udah mulai sekolah. Masa iya, Laila harus jagain Umi terus di sini."


"Bi, Fauzan sama siapa di rumah?" tanya Amira.


Nampaknya dia masih belum tahu kalau Fauzan anaknya itu sudah meninggal setelah kecelakaan itu.


Amira tidak tahu kalau Fauzan sudah meninggal, karena Farhan dan semua keluarga sudah sepakat tidak akan memberi tahu ke Amira tentang Fauzan. Mereka tidak mau membuat Amira semakin sedih.


"Seperti biasa sayang. Fauzan itu kan nurut. Dia sama siapa aja mau. Jadi kamu nggak perlu khawatirkan Fauzan ya," bohong Farhan.


"Aku kangen sama Fauzan. ASI aku bengkak, sudah empat hari aku nggak kasih ASI ke Fauzan."


"Ya udah, nanti kalau di rumah ya kamu kasih ASI ke Fauzan. Sekarang kamu makan dulu yang banyak ya."


"Iya Bi."


"Sekarang sih, susu formula juga banyak di toko. Kamu tidak usah khawatir dengan Fauzan ya. Dia baik-baik aja di rumah."


"Iya."


Farhan menatap Amira lekat.


Maafkan Abi ya Mi, Abi harus bohongi Umi. Abi nggak mau Umi semakin sedih. Kata dokter umi nggak boleh banyak fikiran. Abi nggak mau Umi sedih dan mikirin Fauzan. Ya Allah, ampuni semua dosa-dosa hamba Mu ini Ya Allah, batin Farhan.


Farhan kembali mengambil satu sendok bubur dan mendekatkan bubur itu ke mulut Amira.


"Udah Mas. Aku udah kenyang."


"Kamu yakin udah kenyang?"


"Iya."


"Setelah ini kamu minum obat ya sayang?"


"Iya Mas."


Farhan kemudian meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja. Setelah itu dia mengambil satu gelas air putih dan menyuapkan satu sendok air putih ke dalam mulut Amira.


Setelah itu, Farhan mengambil tisu dan mengelap bibir Amira dengan tisu.


"Maaf kan aku ya Mas. Aku udah jadi istri yang nggak berguna untuk kamu. Aku sudah cacat sekarang, dan pasti aku akan terus merepotkan kamu," ucap Amira dengan mata yang berkaca-kaca.


Farhan tersenyum.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu sayang. Aku ini suami kamu. Sudah kewajiban seorang suami untuk merawat istrinya yang sakit."


Tak terasa air mata Amira menetes dari pelupuk matanya. Farhan langsung mengusap air mata istrinya itu.


"Jangan nangis sayang. Aku nggak suka melihat kamu nangis. Kamu Amira. Kamu bukan wanita yang lemah. Kamu pasti kuat sayang menerima semua cobaan ini."


"Kamu belum pulang ke rumah ya Mas?" tanya Amira.


"Aku bolak-balik terus kok ke rumah. Kadang aku jemput ibu dan nyuruh ibu ke sini. Tapi kalau sekarang ibu aku, sudah ada di rumah. Dia lagi merawat Mas Galih di rumah."


"Bagaimana kondisi Mas Galih?"


"Dia tidak apa-apa. Kamu nggak usah mikirin dia. Dia yang udah menyebabkan kamu seperti ini Amira. Aku benar-benar muak sama dia."


"Jangan bilang begitu Mas. Walau bagaimanapun juga dia kakak kamu. Kamu harus hormati dia. Mungkin malam itu, Mas Galih ngantuk. Makanya dia tidak melihat ada lobang di depannya. Dan rem motor Mas Galih juga blong."


"Tetap aja dia ceroboh. Tahu motor remnya blong, masih aja di pakai."


"Terus motornya ada di mana sekarang Mas?" tanya Amira.


"Udah aku ambil kemarin di kantor polisi."


"Kalau Zia. Bagaimana kabar dia?" tanya Amira yang membuat Farhan terkejut.


Farhan terdiam saat Amira menyebut nama Zia. Ya, Farhan baru ingat kalau dia juga punya istri lain selain Amira. Istri yang belum dia sentuh sama sekali.


Kenapa kamu harus mengingatkan aku pada Zia Mir. Hampir saja aku melupakan dia dan pernikahan kami, batin Farhan


"Zia ada di rumah kakeknya. Sejak kamu sakit, aku nggak pernah nemuin dia lagi,"


"Kenapa kamu nggak nemuin dia. Seharusnya kamu temui dia Mas. Dia juga kan istri kamu."


"Iya sih. Tapi bagaimana dengan kamu. Kamu yang lebih membutuhkan aku dari pada Zia."


"Itu sekarang Mas. Ada saatnya, keadaan akan berubah dan terbalik. Dan Zia yang akan lebih membutuhkan kamu dari pada aku."


"Sudahlah sayang. Aku nggak mau mikirin apa-apa. Aku cuma mau mikirin kesembuhan kamu aja. Jujur, hati aku hancur sayang, melihat kamu seperti ini. Aku seperti ikut merasakan sakit yang kamu rasakan."


****


Sore ini, Galih sudah berada di bengkel motor. Galih masih mantap motornya yang rusak penyok karena kecelakaan itu.


Galih akan memperbaiki semua kerusakan yang terjadi akibat kecelakaan kemarin. Sekalian mau memperbaiki rem motornya yang kemarin sempat blong.


Galih sudah mengambil beberapa uang tabungannya untuk memperbaiki motornya kembali.


"Yud, gimana Yud dengan motorku?" tanya Galih pada Yudi pemilik bengkel motor itu.


"Motornya rusak parah ini Mas. Harus di perbaiki semua. Lihatlah, bagian samping dan depan juga penyok begitu," ucap Yudi menjelaskan.


"Ini motor aku satu-satunya Yud. Dan mau aku bawa kerja. Masa aku kerja harus pinjam motor orang. Farhan juga cuma punya motor satu."

__ADS_1


"Kredit motor lagi aja lah Mas." Yudi memberi saran.


"Emang kredit motor nggak pakai uang muka. Aku aja sekarang lagi nggak pegang duit sama sekali. Ada duit juga ambil tabungan untuk perbaikan motor."


"Sabar Mas. Ini semua ujian. Semua manusia pasti punya ujiannya masing-masing."


"Entahlah, aku bingung banget sekarang. Baru saja aku cerai dengan istriku, udah dapat kerjaan mapan di kampung, malah celaka seperti ini."


"Makanya aku bilang apa tadi. Sabar. Kita itu harus sabar. Setiap cobaan pasti akan ada hikmahnya. Percayalah, di balik perceraian Mas Galih dengan istri, aku yakin sebentar lagi, Mas Galih akan mendapatkan wanita yang baik."


"Iya ya ya. Udah nggak usah ceramah. Cepat perbaiki motor aku. Mau aku bawa kerja soalnya besok."


"Kalau besok kayaknya nggak bisa Mas. Pasti lama kalau motor seperti ini."


"Ya terserah lah. Berapa lama emang?" tanya Galih.


"Satu minggu Mas."


"Satu minggu? lama amat?"


"Ini kan harus ganti baru semua onderdil nya. Orang penyok begini."


"Ya udahlah terserah kamu aja."


Yudi diam. Dia masih fokus memperbaiki motor Galih.


"Yud, kamu kan punya banyak motor tuh, boleh nggak aku pinjam salah satu nya? Sebentar aja kok nggak lama."


"Kalau mau bawa, bawa aja Mas. Yang penting bensinnya Mas."


"Tenang aja. Nanti aku isi."


"Mau ke mana sih Mas?"


"Aku mau ke rumah sakit. Mau jengukin adik ipar."


"Oh. Mbak Amira. Emang dia belum pulang ke rumah?"


"Belum. Aku juga merasa bersalah. Sudah membuat Amira cacat. Andai saja aku bisa menebus semua kesalahanku padanya. Andai saja aku bisa menggantikan sakitnya Amira."


"Cacat gimana Mas?" tanya Yudi penasaran.


"Dia patah tulang di kakinya. Dan retak di bagian lehernya."


"Duh, kasihan banget ya."


"Makanya, aku jadi merasa bersalah sama dia."


"Kalau Mbak Amira yang sakit, pasti akan banyak yang ikut merawat Mas. Dia kan saudaranya banyak. Ada pamannya, bibinya, sepupunya, lah kalau Mas Galih yang seperti itu, kasihan Bu Aminah. Sudah tua, harus ngerawat Mas Galih sendirian."


"Ya, semua ini tidak lepas dari campur tangan Allah Yud. Mungkin di balik ini semua, Allah punya rencana lain,"ucap Galih.

__ADS_1


__ADS_2