
"Farhan... Laila...! kalian lagi ngapain di kamar? ini nenek udah siapin makan malam untuk kalian," seru Bu Aminah dari luar kamar Farhan.
Farhan dan Laila saling menatap.
"Laila, dipanggil nenek tuh. Ayo Laila, kita keluar," ucap Farhan
"Iya Bi."
Laila dan Farhan kemudian keluar dari kamarnya. Di depan kamar Farhan, Bu Aminah sudah berdiri dan tersenyum pada mereka.
"Kalian belum makan kan? tuh Pade kamu udah belikan makanan tadi di luar. Sekarang kita makan ya,"
Laila tersenyum dan mengangguk.
"Iya nenek."
Laila dan Farhan kemudian mengikuti Bu Aminah berjalan ke ruang makan. Dia ruang makan, sudah ada Galih yang sedang duduk sembari bermain ponselnya.
Laila dan Farhan kemudian duduk berbaur bersama Galih di ruang makan.
"Kalian dari mana aja sih, kenapa di tungguin lama sekali," ucap Galih.
"Maaf ya Pade, udah buat Pade nunggu lama."
"Iya nggak apa-apa. Ya udah, sekarang kita makan ya," ucap Galih.
Laila mengangguk. Setelah itu Laila, Farhan, Bu Aminah, dan Galih makan bersama dia ruang makan.
Bu Aminah sejak tadi masih menatap Laila.
"Laila, bagaimana kabar Umi kamu?" tanya Bu Aminah di sela-sela kunyahannya.
"Umi baik kok Nek," jawab Laila.
"Syukurlah, nenek dengar dari Pade kamu, sekarang Umi kamu sudah punya toko sendiri ya?"
"Iya Nek. Alhamdulillah. Tokonya juga ramai terus Nek."
"Syukurlah, nenek jadi ikut senang dengarnya."
"Nenek kalau mau main, main aja Nek."
"Iya. Insya Allah."
Sejak perceraian Farhan dengan Amira, Bu Aminah memang tidak pernah lagi bertemu dengan Amira. Sebenarnya Bu Aminah kangen sama Amira. Namun Bu Aminah juga tidak enak, jika dia harus bertamu ke rumahnya Amira. Karena hubungan Amira dengan Farhan sudah bukan suami istri lagi.
***
Waktu saat ini, sudah menunjukkan jam sembilan malam. Amira sudah menutup tokonya. Setelah karyawan-karyawannya pulang, Amira kemudian ikut pulang.
Namun malam ini, Amira pulang tanpa Laila. Karena Laila tadi sore sudah dibawa Galih pergi.
Amira masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Dia masih menyetir motornya.
__ADS_1
"Laila udah sampai belum ya ke rumah Mas Farhan. Kenapa dia nggak hubungin aku," ucap Amira.
Ternyata sejak tadi Amira masih menunggu telpon dari Laila. Amira ingin menanyakan apakah Laila akan menginap atau tidak di rumah Abinya.
Beberapa saat kemudian, Amira sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Amira menghentikan laju motornya setelah dia sampai di depan rumah orang tuanya.
Baru saja Amira turun dari motornya , ponsel yang ada di tas Amira berbunyi.
Amira merogoh tas untuk mengambil ponselnya.
"Akhirnya Laila nelpon juga," ucap Amira.
Amira kemudian mengangkat panggilan dari Laila.
"Halo, Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Mi. Umi masih di toko atau udah pulang ke rumah Mi?"
"Umi udah nyampe rumah ini La. Kamu udah ada di rumah Abi kamu ya?"
"Iya Mi. Aku lagi makan malam sama nenek, Pade dan Abi."
"Oh. Ya syukurlah. Nenek kamu gimana kabarnya?"
"Dia baik Mi. Apa Umi mau bicara dengan nenek?"
"Iya La."
Beberapa saat kemudian, suara Bu Aminah sudah terdengar dari balik telpon.
"Wa'alakiumsalam. Ibu, apa kabar Bu."
"Kabar ibu baik, bagaimana kabar kamu Nak."
"Aku juga baik Bu. Aku dengar dari Mas Galih kemarin ibu lagi sakit ya? ibu udah sembuh belum Bu?"
"Iya. Ibu udah sehat lagi kok. Dan ibu lagi makan malam sama Laila."
"Oh iya. Alhamdulillah kalau begitu."
"Iya Amira. Biarkan Laila nginap di sini dulu ya Amira."
"Tapi Laila kan besok mau sekolah bu."
"Iya nanti besok Galih yang akan ngantar dia pulang sekalian berangkat kerja. Ibu nggak ngizinin Laila pulang malam-malam. Soalnya dia juga kan baru nyampe ke sini masa mau langsung pulang. Ibu kan masih kangen."
"Iya Bu. Aku udah ngizinin Laila nginap di situ kok."
Setelah bertelponan dengan Bu Aminah dan Laila, Amira kemudian menyimpan kembali ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Setelah itu Amira pun berjalan ke teras depan rumah. Dia mengetuk pintu rumah itu sebelum masuk.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bu Rahayu membuka pintu.
"Wa'alakiumsalam."
"Lho, Amira. Kamu kok pulang sendiri. Mana Laila?" tanya Bu Rahayu menatap ke sekeliling. Namun di sekeliling tidak nampak ada Laila.
"Laila, lagi ada di rumah Abinya bu."
Bu Rahayu terkejut saat mendengar ucapan Amira.
"Apa! di rumah Abinya? kok bisa sih dia ada di sana? kamu yang ngantar dia ke sana?" tanya Bu Rahayu..
Amira berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bu Rahayu menutup pintu rumahnya kembali.
"Bukan aku yang ngantar ke sana Bu, tapi tadi Mas Galih yang jemput dia di toko. Karena katanya Laila kangen sama Abinya."
"Oh, jadi Galih yang udah membawa Laila ke rumahnya."
"Iya Bu. Lagian, Laila itu kan sudah lama sekali nggak ketemu sama Abinya. Biarkan sajalah dia main ke sana sekali-kali."
Sesampainya di ruang tengah Amira menghempaskan tubuhnya. Begitu juga dengan Bu Rahayu. Dia pun ikut menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Mereka berdua kemudian duduk di ruang tengah.
Amira menatap ke sekeliling.
"Lho, jam segini kok udah sepi. Pada kemana?"
"Novi udah masuk kamar, sementara bapak kamu baru saja pergi tadi."
"Bapak mau ke mana?"
"Nggak tahu, katanya mau ada urusan di luar."
"Iya Bu."
Sesaat Bu Rahayu dan Amira saling diam. Bu Rahayu kemudian menatap Amira lekat.
"Amira, apa Galih masih sering menemui kamu di toko?" tanya Bu Aminah.
"Jarang sih Bu. Paling kalau dia pengin ketemu Laila doang ke tokonya."
"Ibu nggak suka ya Amira, sama Galih. Pokoknya kamu jangan dekat-dekat dia lagi."
"Loh, kenapa Bu? kan dia Padenya Laila, dan dia juga udah dekat banget sama Laila."
"Nah itu, ibu yakin dia dekatin Laila pasti karena ada maunya. Ibu yakin, dia itu selama ini pasti suka sama kamu Amira."
Ya, Bu Rahayu tidak tahu saja, kalau kemarin-kemarin Galih memang sempat mengatakan cinta pada Amira. Karena Amira tidak pernah cerita-cerita masalah itu pada siapapun.
Seandainya Bu Rahayu tahu soal itu, mungkin dia akan sangat marah, dan tidak membolehkan Amira untuk ketemu Galih lagi. Karena Bu Rahayu tidak suka dengan Galih. Dia lebih setuju jika Amira berjodoh dengan lelaki lain. Sepertinya Dion atau Gus Farid.
"Bu, ibu ini mikir apa sih. Mana mungkin Mas Galih itu suka sama aku. Dia baik sama aku karena dia sayang sama ponakannya. Dan dia memang orang yang baik. Dia kan tidak punya anak Bu, anaknya itu jauh ada di kota. Wajar saja kalau dia sering menemui Laila dan sering memberikan Laila sesuatu. Karena dia sudah menganggap Laila anak kandungnya sendiri. Kalau soal perasaan, aku rasa Mas Galih nggak mungkin lah suka sama aku."
"Iya. Syukurlah kalau Galih tidak punya perasaan lebih ke kamu. Soalnya yang ibu lihat selama ini, dia seperti sayang banget gitu sama kamu."
__ADS_1
Amira tersenyum. Dia tidak mau mengatakan apapun pada ibunya, karena takut ibunya akan marah pada Galih atau pada Amira.