Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kekecewaan ibu mertua


__ADS_3

"Kamu dari rumah Zia kan?" ucap Bu Rahayu menatap Farhan nanar. Hatinya sudah menahan geram sejak tadi dengan sikap menantunya itu.


Farhan mengangguk.


"Iya Bu," jawab Farhan singkat.


"Untuk apa kamu ke sana? dasar lelaki tidak bertanggung jawab. Istri masih sakit seperti itu kamu tinggal pergi. Kamu enak-enak bersama istri baru kamu, dan kamu biarkan anak kamu dan adik ipar kamu yang kerepotan di sini ngurusin Amira. Seharusnya Amira itu tanggung jawab kamu. Bukan Novi. Karena kamu suaminya," cerocos Bu Rahayu.


"Maaf Bu, tapi aku sudah janji sama Zia kalau aku mau ke sana setelah Amira pulang dari rumah sakit."


"Amira itu masih sangat membutuhkan kamu Farhan. Seharusnya kamu jangan tinggalin dia. Kalau kamu mau tinggal-tinggal dia seperti itu, mending kamu ceraikan saja Amira. Dan kamu pergi dari sini. Karena rumah ini rumah Amira. Biarkan Amira kami saja yang ngurus," ucap Bu Rahayu menegaskan.


Sebenarnya Bu Rahayu tidak terima anaknya disakiti. Dia menginginkan perceraian di antara Farhan dan Amira.


Bu Rahayu ingin membujuk Amira agar dia mau bercerai dengan Farhan. Namun Bu Rahayu masih menunggu waktu yang tepat karena Amira saat ini masih sakit.


"Duh Bu, jangan begitu dong Bu. Saya minta maaf Bu, saya janji saya tidak akan meninggalkan Amira lagi. Saya janji," ucap Farhan.


"Janji, janji, saya sudah tidak percaya lagi Farhan sama kamu. Dulu kamu juga sudah berjanji, kalau kamu mau menjadikan Amira istri satu-satunya. Tapi nyatanya kamu ingkari janji kamu sendiri."


Farhan diam. Dia tidak berani lagi untuk bicara. Karena dia tahu, ibu mertuanya itu sangat cerewet dan tidak pernah mau kalah dalam hal debat.


"Saya dan suami saya menjodohkan kamu dengan anak saya, karena saya fikir kamu itu lelaki yang paham ilmu agama karena sama-sama lulusan pesantren seperti Amira. Saya fikir kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Amira dan kalian akan menjadi pasangan soleh-soleha, dan berjodoh dunia akhirat," ucap Bu Rahayu panjang lebar


"Tapi nyatanya saya sudah salah menilai kamu selama ini. Kamu sama saja seperti lelaki buaya darat lainnya, yang tidak bisa lihat cewek kinclong sedikit" lanjut Bu Rahayu.


Sebenarnya Bu Rahayu sudah sangat emosi saat ini. Namun dia masih bisa bicara datar saat bicara dengan Farhan. Karena Bu Rahayu sudah lelah ngomel-ngomel sejak tadi pagi ke Novi dan Laila.


Bu Rahayu pergi meninggalkan ruang makan untuk ke kamar Amira. Bu Rahayu membuka pintu kamar Amira. Tampak Amira masih berbaring di ranjangnya.


"Amira," ucap Bu Rahayu mendekati Amira anaknya.


"Bu, Laila nggak sekolah bu? ini udah jam tujuh. Kenapa dia belum mandi?" tanya Amira menatap lekat ke arah Bu Rahayu.


"Kamu sakit seperti ini, seharusnya Farhan yang ngurusin anaknya. Farhannya aja baru pulang. Siapa yang mau ngantar Laila sekolah."


"Laila biasa mandi sendiri, makan sendiri, dan berangkat naik sepeda sendiri kok Bu."


"Yah, tapi beda lah. Kalau ini kan nggak ada yang bangunin dia. Jadi dia kesiangan terus. Anak kamu dan tantenya itu sama saja. Lelet banget bangunnya. Kalau nggak dibangunin juga nggak bisa bangun sendiri."

__ADS_1


"Ibu ke sini, bawa makanan untuk kami?"


"Iya. Ibu yakin, setelah kamu sakit seperti ini, pasti kamu nggak akan ada yang ngurusin. Benarkan, setelah kamu sakit seperti ini, Farhan lebih memilih untuk ke rumah istri ke duanya. Karena kamu itu sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Farhan. Kamu itu sekarang cacat dan nggak bisa melayani Farhan lagi."


Deg.


Hati Amira begitu terpukul saat mendengar ucapan ibunya.


"Apa itu, yang dinamakan keadilan dalam berpoligami dengan membiarkan istri pertamanya sengsara?" Bu Rahayu masih tidak berhenti bicara. Karena sejak tadi dia masih emosi. Tahu kalau menantunya semalam nginap di rumah istri barunya.


Hiks...hiks ..hiks...


Arumi tiba-tiba saja menangis mendengar ucapan ibunya. Yang dikatakan ibunya memang nyata. Farhan sama sekali tidak perduli dengan Amira lagi. Apalagi jika Zia hamil, mungkin Farhan akan lebih banyak bersama wanita itu.


"Arumi, kalau Farhan seperti ini terus dan tidak mau berubah, ceraikan saja dia Arumi. Untuk apa kamu bertahan dengan lelaki seperti dia. Kelihatannya aja dia alim. Tapi sama aja dia seperti lelaki lainnya."


*


Setelah ibu mertuanya pergi ke kamar Amira, Farhan duduk di dekat Laila yang saat ini masih makan di ruang makan.


Sementara Novi, setelah selesai sarapan langsung pulang ke rumahnya. Dia akan siap-siap untuk pergi ke kampus. Karena baju-bajunya masih ada di rumah Bu Rahayu.


"Baru aja Bi. Dia ngasih makanan ini untuk kami," ucap Laila di sela-sela kunyahannya.


"Oh, maafin Abi ya, karena Abi kesiangan. Seharusnya Abi sudah pulang dari subuh," ucap Farhan.


"Nggak apa-apa Bi. Aku juga kesiangan. Ini aku baru makan. Dan belum mandi."


"Kamu bangun jam berapa?"


"Jam setengah tujuh waktu nenek ke sini Bi."


"Oh." Farhan manggut-manggut.


"Abi mau makan? nanti aku ambilkan piring ya?"


"Nggak usah La. Abi udah kenyang."


"Abi udah sarapan ya?"

__ADS_1


"Iya, tadi di rumah Zia."


Laila diam. Dia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Sebenarnya Laila juga kesal sama ayahnya.


Tapi Laila harus berbuat apa sekarang. Dia tidak mungkin ngomelin ayahnya karena ayahnya jauh lebih tua darinya. Walau bagaimanapun juga, seorang ayah itu harus tetap dihormati apapun kesalahannya.


"Ibu kamu udah makan belum?" tanya Farhan.


Laila menggeleng. "Belum."


"Abi mau berangkat kerja kan? kenapa nggak siap-siap?" tanya Laila.


"Abi sepertinya nggak mau kerja dulu. Abi capek banget La. Ini juga udah jam tujuh lebih. Kamu juga nggak mau ke sekolah La?"


Laila menggeleng.


"Nggak. Udah siang. Bangun aja udah jam setengah tujuh, mau sampai jam berapa nanti sampai sekolah. Malah kena hukuman nanti kalau telat masuk."


"Iya. Abi juga setelah ini, mau mandiin Umi kamu. Dia kan sejak di rumah sakit belum mandi. Abi juga mau nyuapin Umi kamu, dan mau ngajak Umi kamu berjemur. Kamu mau kan bantuin Abi untuk merawat Umi kamu? Biar Umi kamu bisa cepat sembuh."


"Iya Abi. Aku mau kok bantu Abi merawat Umi sampai dia sembuh. Umi kan tanggung jawab kita."


"Iya Laila."


Ring ring ring...


Deringan ponsel Farhan mengejutkan Farhan.


Pasti Zia nih. Kenapa dia harus nelpon sih, saat ibu mertuaku ada di sini. Bisa dimarahin lagi aku.


Laila menatap ayah lekat.


"Abi, itu hapenya bunyi. Kok di diamin aja. Di angkat dong."


"Iya La."


"Abi ke belakang dulu ya. Mau angkat telpon dulu."


Farhan kemudian melangkah untuk ke halaman yang ada di belakang rumah. Dia tidak mau Laila dan Bu Rahayu mendengar pembicaraannya dengan Zia.

__ADS_1


***


__ADS_2