
Beberapa saat kemudian, Novi menghampiri ruang tengah dengan membawa minuman untuk Galih dan Bu Aminah.
"Ini Bu, Mas, minumannya," ucap Novi sembari meletakan minuman teh manis hangat di atas meja ruang tengah.
"Makasih ya Nov, repot-repot banget," ucap Bu Aminah.
"Nggak kok, sama sekali nggak ngerepotin," ucap Novi.
"Makasih ya Nov," ucap Galih.
"Iya Mas. Sama-sama."
Setelah meletakkan dua cangkir minuman teh manis hangat di atas meja, Novi berjalan pergi meninggalkan ruang tengah.
"Nenek, Pade, aku mau ke kamar dulu ya. Mau siap-siap ke mesjid," pamit Laila.
"Oh iya. Mau jama'ah maghrib ya?" tanya Bu Aminah.
Laila hanya mengangguk.
"Iya."
Laila kemudian pergi meninggalkan ruang tengah. Dia akan bersiap-siap untuk berjamaah di masjid dekat rumahnya.
"Calon wanita saleha. Masih jam lima saja sudah mau siap-siap jamaah. Maghrib kan masih lama," ucap Galih.
Amira tersenyum.
"Udah biasa Mas Laila seperti itu. Dia mau ambil mukena, dan dia mau main dulu di mesjid. Teman-temannya kan banyak kalau sore di mesjid," jelas Amira.
"Farhan masih ngajar ngaji Amira?" tanya Bu Aminah.
"Udah nggak Bu, sejak aku pulang dari rumah sakit, Mas Farhan berhenti ngajar. Karena nggak ada anak yang mau ngaji sama Mas Farhan lagi. Kalau sekarang masjid sudah ramai lagi, karena ada ustadz baru yang ngajar di mesjid. Dan Laila kalau jam segini juga sekalian mau ngaji."
"Kenapa nggak ada anak yang mau ngaji lagi sama Farhan Mir?" tanya Bu Aminah.
"Nggak tahu Bu. Mungkin Mas Farhan kelamaan berhenti ngajarnya. Karena dia harus ngurusin aku bolak-balik ke rumah sakit."
__ADS_1
"Oh. Begitu?"
"Mas Galih, ibu, ayo di minum tehnya. Mumpung masih hangat," ucap Amira.
"Iya Amira," ucap Galih.
Galih dan ibunya kemudian bersamaan mengambil cangkir yang ada di atas meja. Setelah itu mereka menyeruput teh manis hangat itu. Merasa kemudian meletakannya kembali di atas meja.
"Waktu di rumah sakit, Zia pingsan ya katanya? terus kondisinya bagaimana sekarang?" tanya Amira membuka kembali percakapan dengan ibu dan kakak iparnya.
"Zia pingsan mungkin karena syok dan kecapean. Dan kata Farhan tadi, Zia itu lagi hamil. Mungkin dia pingsan karena itu," ucap Galih.
Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih.
"Apa! Zia hamil?" ucap Amira. Dia masih belum bisa percaya kalau Zia sekarang hamil anak suaminya.
"Iya Amira. Farhan yang udah ngasih tahu kita kalau Zia hamil. Dan dia meminta izin pada ibu untuk mengajak Zia tinggal bersama kami," ucap Galih melanjutkan
Zia hamil.Secepat ini kah dia hamil, batin Amira.
"Benarkah begitu Bu? apa benar Zia hamil?" tanya Amira.
"Terus ibu ngizinin Zia tinggal bersama ibu?" tanya Amira penasaran.
"Iya Amira. Tidak ada pilihan lain, selain mengizinkan Zia untuk tinggal di rumah ibu. Zia itu sekarang sedang mengandung anaknya Farhan. Dan ibu sebagai keluarga Farhan, punya tanggung jawab yang besar pada Zia."
Galih sejak tadi tidak berhenti menatap Amira. Entah apa yang lagi dia fikirkan saat ini.
Amira, kasihan sekali kamu Amira. Aku yakin, setelah Farhan mengajak Zia tinggal di rumah aku, dia akan perlahan melupakan kamu, tapi semoga adik aku itu akan menepati janjinya untuk selalu bersikap adil pada kalian berdua, batin Galih.
****
Malam ini, Zia dan Farhan masih berada di dalam kamarnya.
Farhan sejak tadi masih mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke rumah Bu Aminah. Termasuk baju-bajunya dan baju-baju Zia.
Sementara Zia, dia masih berbaring di atas ranjang kecilnya. Dia masih tampak sedih atas kematian kakeknya.
__ADS_1
"Zia, kamu sekarang lagi hamil sayang. Kamu jangan banyak fikiran ya. Besok pagi, kita pindah ke rumah ibu. Ini mas lagi mau nyiapin baju-baju kamu untuk dibawa ke sana," ucap Farhan sembari mengambil baju-baju yang ada di dalam lemari Zia.
Zia menatap Farhan lekat. Setelah itu dia beringsut duduk.
"Kamu yakin, mau ngajak aku pindah ke rumah ibu kamu?" tanya Zia menatap Farhan lekat.
"Aku yakin sayang. Kita akan pindah ke sana," ucap Farhan sembari mengambil tas baju yang akan dia gunakan untuk membawa baju-baju Zia.
"Mas, tapi bagaimana dengan Mas Galih. Dia sepertinya tidak setuju aku tinggal di sana," ucap Zia tampak sedih.
"Sudahlah, untuk apa kamu ngurusin kakak aku. Kakak aku aja nggak pernah di rumah. Dia kalau siang kerja, dan ibu sendirian. Kamu bisa jadi temannya ibu di sana."
"Iya Mas."
"Nggak usah ngurusin Mas Galih. Dia itu memang begitu sikapnya. Dia beda sama aku. Dari dulu, Mas Galih itu tidak pernah sependapat dan sepemikiran denganku. Tapi kalau ada percekcokan di antara aku dan Mas Galih itu wajar, karena kami kakak adik."
"Iya sih. Tapi sepertinya kakak kamu itu nggak pernah suka sama aku."
"Sudahlah, aku sudah bilang. Nggak usah ngurusin Mas Galih. Dia punya kehidupan sendiri. Dan kita juga punya kehidupan sendiri. Yang penting sekarang itu ibu. Kamu harus bisa mengambil hatinya ibu Zi, kalau kamu pengin di sayang seperti Amira."
"Iya Mas. Insya Allah."
"Pokoknya kamu sekarang harus nurut sama aku. Kamu harus tinggal di rumah ibu aku. Biar kamu ada temannya. Sekarang aku juga kan ngajar dekat desa ibu. Kalau kamu ada di rumah ibu, aku pulangnya dekat," ucap Farhan sembari memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
"Iya Mas. Aku sih mau aja tinggal di mana pun, yang penting sama kamu."
"Seandainya rumah yang Amira tempati itu milik aku, aku pasti sudah mengajak kamu untuk tinggal bersama Amira Zi. Tapi sayangnya rumah itu, bukan milik aku. Tapi itu milik orang tuanya Amira. Aku dan Amira cuma menempati rumah itu saja. Jika aku dan Amira tidak ada jodoh lagi, mungkin aku yang harus pergi dari rumah itu."
"Oh..."
Zia baru tahu kalau selama ini, suaminya itu cuma numpang tinggal di rumah Amira.
"Toko-toko kamu?" tanya Zia.
"Kalau toko sih masih ada. Aku cuma punya lima cabang toko elektronik. Dan yang dua sudah gulung tikar. Semoga toko aku yang tiga, masih bisa berjalan walau semakiin ke sini, pelanggan ku semakin berkurang. Tapi setidaknya toko itu masih jalan, dan masih ada keuntungan. Buat aku kasih nafkah ke kamu dan Amira."
"Iya Mas."
__ADS_1
"Doain saja ya sayang, semoga usaha ku lancar. Aku tidak mungkin kan hanya mengandalkan gaji bulanan dari kerjaan ku yang sekarang. Gaji ku dari sekolah untuk menafkahi satu istri aja nggak cukup. Cuma ketiga toko ku, yang masih bisa diandalkan untuk saat ini."
Zia manggut-manggut mengerti. Walau di hatinya ada perasaan kecewa. Karena toko Farhan sudah tidak sesukses dulu. Tapi Zia harap, toko yang tiga itu tidak akan bangkrut. Karena cuma itu yang lagi Farhan andalkan untuk saat ini.