
Setelah menempuh tiga jam perjalanan dari rumah sakit jiwa sampai ke desanya, Farhan kemudian menghentikan laju motornya setelah dia sampai di depan toko Laila Fashion.
Farhan menatap lekat toko Amira dan tersenyum.
"Kalau aku masuk ke sana, Laila ada nggak ya di dalam. Aku punya sedikit uang lebihan ongkos tadi. Aku pengin ngasih uang ke dia. Buat dia jajan," ucap Farhan.
Farhan sebenarnya ingin menemui Amira dan Laila. Galih sering cerita, kalau Amira dan Laila itu setiap hari ada di toko.
Toko Amira itu selalu ramai. Walau banyak pesaing, tapi tetap saja toko Amira yang paling ramai. Mungkin karena letaknya strategis berada di dekat pasar. Jadi setiap waktu toko itu tidak pernah sepi pembeli. Apalagi hijab dan gamis- gamis itu juga Amira jual Online. Dan selalu dia iklankan di media sosialnya.
Farhan hanya bisa memperhatikan toko itu dari kejauhan. Karena dari tadi masih banyak orang berlalu lalang keluar masuk ke dalam toko itu. Farhan sejak tadi masih ragu untuk menemui Laila dan Amira di dalam.
"Masuk nggak ya, aku sebenarnya pengin masuk ke dalam. Aku kangen sama Laila. Tapi apa mereka masih mau menemuiku," ucap Farhan. Sejak tadi dia masih ragu untuk mendekat ke depan toko itu.
"Mumpung masih di sini, aku masuk aja deh. Masalah mereka mau ketemu aku atau nggak itu belakangan," ucap Farhan.
Farhan kemudian menyebrang jalan untuk mendekat ke arah toko Amira. Sesampainya di depan toko, Farhan memarkirkan motornya dan turun dari motornya. Dia kemudian berjalan sampai ke teras depan toko.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya seorang wanita pada Farhan. Wanita itu sepertinya pelayan di toko Amira.
"Saya ke sini, mau ketemu sama Laila. Apa dia ada di sini?" tanya Farhan pada pelayan itu.
"Bapak siapa ya?" tanya wanita itu. Sepertinya dia tidak kenal dengan Farhan. Mungkin dia tidak sekampung dengan Farhan atau Amira.
"Saya ayahnya Laila," jawab Farhan singkat.
"Tunggu sebentar ya Pak. Saya panggilkan dulu Lailanya."
"Iya. Saya tunggu di sini saja ya Mbak. Kalau ada, Laila di suruh keluar ya. Bilang sama dia, kalau ayahnya kangen sama dia, dan sekarang ayahnya menunggunya di luar," ucap Farhan.
"Baik Pak. Tunggu di sini ya Pak."
Pelayan itu kemudian pergi masuk ke dalam toko itu. Dia menghentikan langkahnya setelah sampai di dekat Amira.
"Bu Amira, ada yang nyariin Laila di depan," ucap Yeni pelayan itu.
Amira menoleh ke arah Yeni.
"Siapa?" tanya Amira.
"Katanya ayahnya Laila."
Amira terkejut saat mendengar ucapan Yeni.
"Apa! ayahnya Laila. Mau ngapain dia ke sini," ucap Amira
"Saya juga nggak tahu Bu Amira. Tapi dia bilang katanya dia kangen sama Laila."
__ADS_1
"Ya udah, sekarang dia di mana?"
"Dia lagi ada di depan Bu."
"Baik, aku yang akan temui dia."
Amira kemudian buru-buru berjalan ke depan untuk melihat Farhan.
Farhan tersenyum saat melihat Amira. Sementara Amira, dia hanya diam. Bingung saja, saat melihat Farhan yang tiba-tiba ada di depan tokonya. Padahal sudah hampir satu tahun mereka tidak pernah bertemu.
"Kamu mau ngapain ke sini Mas?" tanya Amira menatap tajam ke arah mantan suaminya.
"Em, Amira. Em... aku .." ucap Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku mau... aku mau ketemu Laila Amira."
"Mau ketemu Laila? Tapi Lailanya lagi tidur Mas. Dari sepulang sekolah, dia tidur. Dan aku nggak enak untuk bangunin dia."
"Kalau nggak ada Laila, apa aku bisa bicara dengan kamu?" tanya Farhan.
"Kamu mau bicara apa? aku nggak punya banyak waktu untuk bicara. Aku lagi sibuk banget Mas."
"Ya kita bicara di sini saja nggak apa-apa Amira," ucap Farhan.
Amira mengangguk.
"Aku mau minta maaf sama kamu Amira. Atas semua kesalahan-kesalahan aku selama ini. Aku menyesal Amira karena dulu aku sudah pernah melukai hati kamu," ucap Farhan.
Amira tersenyum.
"Aku udah memaafkan kamu dari dulu Mas. Bahkan jauh sebelum kamu minta maaf ke aku, aku udah maafin kamu."
"Makasih ya Amira. Kamu memang wanita yang baik yang pernah aku kenal. Aku menyesal kenapa aku bisa berbuat jahat sama kamu. Aku juga udah jahat sama Laila. Sekarang aku udah mendapatkan balasannya Amira. Aku sudah bangkrut, aku sudah kehilangan bayiku dan sekarang Zia juga sudah gila. Mungkin itu semua karma untuk aku dan Zia karena sudah pernah menzolimi kamu."
Setelah satu tahun perceraian kami, apa Mas Farhan baru menyadari kesalahannya. Kenapa dia baru minta maaf sekarang. Kemana dia dari kemarin-kemarin, batin Amira.
Amira menatap motor Farhan.
"Kamu pakai motornya Mas Galih?" tanya Amira.
Farhan mengangguk.
"Kamu dari mana? sepertinya kamu habis pergi jauh."
"Iya. Aku dari kota. Dari rumah sakit jiwa. Jengukin Zia."
"Zia, bagaimana kondisinya sekarang?"
__ADS_1
"Dia masih sama Amira. Nggak ada perubahan. Biarkan sajalah dia di sana. Aku tidak bisa membawa Zia pulang, karena aku nggak bisa ngurusin istri gila seperti dia."
"Iya. Aku turut prihatin ya Mas, dengan semua cobaan yang sudah menimpa kamu. Oh iya, kata Mas Galih kemarin ibu sakit ya, apa dia sudah sembuh?" tanya Amira.
"Namanya orang sudah tua, kalau sudah sembuh pasti beberapa hari lagi, akan mengeluh lagi. Biasalah, penyakitnya orang tua."
"Oh ya. Ngomong-ngomong, kamu mau ketemu Laila mau ngapain?" tanya Amira.
Farhan mengambil dompet yang ada di saku celananya. Setelah itu dia mengambil uang dua puluh ribuan lima lembar.
"Ini, aku punya uang seratus ribu. Siapa tahu, Laila butuh uang untuk jajan. Aku cuma punya segini, lebihan beli bensin tadi."
Amira kembali tersenyum. Dia merasa lucu sekaligus kasihan melihat Farhan yang sekarang. Seumur-umur, Farhan baru pernah mau ngasih uang jajan ke Laila. Itu pun cuma seratus ribu.
Sementara Padenya Laila, sudah beratus-ratus ribu mengeluarkan uang untuk membantu Laila dan Amira. Bahkan sampai beberapa juta, saat kemarin Amira dan Laila kesusahan.
"Tidak usah Mas. Laila sudah punya banyak uang kok, kamu simpan aja uang itu untuk kamu sendiri. Untuk biaya bolak-balik kamu kerja."
Amira sudah mendengar banyak cerita dari Galih, kalau sekarang Farhan itu cuma mengandalkan uang gaji dari guru honorer saja. Dari dulu, Farhan belum di angkat-angkat juga jadi PNS. Mungkin belum rezekinya Farhan punya gaji gede.
"Amira, tidak apa-apa Amira. Aku masih ada uang lagi kok. Kamu tenang aja. Aku ikhlas kok ngasih uang ini untuk anak aku."
Amira akhirnya menerima juga pemberian uang dari Farhan itu. Karena Farhan memaksa. Walau sebenarnya Amira kasihan sama Farhan. Yang tadi Amira lihat, di dompet Farhan kosong, sudah tidak ada uang lagi.
"Kamu yakin, masih punya uang lagi. Kamu nggak usah memaksakan diri untuk memberikan uang pada Laila. Aku sudah tahu semua kondisi kamu Mas. Kamu masih lama kan gajiannya?"
"Nggak apa-apa Amira. Aku masih punya simpanan kok di rumah. Ambil aja, itu untuk Laila. Siapa tahu Laila mau jajan."
"Ya udah, makasih ya Mas.".
"Oh iya Amira. Aku mau pulang dulu ya. Kapan-kapan aku ke sini lagi, sebenarnya aku ke sini mau ketemu Laila. Aku mau minta maaf juga sama dia."
"Apa mau aku bangunin Laila Mas."
"Nggak usah Amira. Kasihan dia. Lain kali aja aku ke sini lagi. Kalau begitu, aku pergi dulu ya Amira."
Amira mengangguk.
"Assalamualaikum," ucap Farhan sebelum pergi.
"Wa'alakiumsalam," ucap Amira membalas salam dari Farhan.
Farhan kemudian kembali ke motornya. Dia memakai helmnya dan naik ke atas motor. Sebelum pergi, dia tersenyum pada Amira.
"Aku pergi dulu ya Amira," ucap Farhan.
"Iya. Hati-hati di jalan ya Mas."
__ADS_1
Farhan mengangguk. Setelah itu Farhan pun meluncur pergi meninggalkan toko Amira.