Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Telpon dari ibu


__ADS_3

Sore ini, Galih masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Galih masih mengendarai motornya.


Tiba-tiba, ponsel yang ada di saku bajunya berdering.


"Siapa sih yang nelpon," ucap Galih sembari mengambil ponsel yang ada di saku bajunya.


Galih menghentikan laju motornya. Setelah itu dia mengangkat panggilan dari nomer Farhan.


"Halo. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam. Kamu lagi di mana Nak, sekarang?"


"Aku lagi ada di jalan Bu."


"Bisa jemput ibu nggak di rumah sakit. Ibu mau pulang."


"Lho kok pulang. Nggak mau nginap nemenin Farhan dulu di rumah sakit?"


"Ibu lupa bawa baju ganti Galih. Ibu mau pulang sebentar. Sekalian mau bawa baju-baju kotornya bayi juga."


"Zia udah lahiran Bu?"


"Iya. Zia udah lahiran. Bayinya laki-laki. Tapi..."


"Tapi Zia sekarang kritis Galih. Tadi siang dia sudah dinyatakan koma oleh dokter."


"Apa! koma."


"Iya Galih. Kata dokter Zia Hbnya rendah. Dan dia membutuhkan transfusi darah."


"Duh, kok bisa seperti itu sih. Kalau ibunya koma, lalu bagaimana dengan bayinya. Siapa yang akan menyusuinya."


"Entahlah Galih. Bayinya juga sangat lemah. Karena kata dokter ada kelainan jantung pada bayi itu."


"Terus, apa yang harus kita lakukan pada bayi itu? apa ibu mau cari ibu susu untuk bayi itu? atau kita mau susui dia pakai susu formula?"

__ADS_1


"Ibu susu? apa maksud kamu?"


"Ya kita cari wanita yang ASI nya masih lancar. Terus kita minta dia menyusui bayinya Farhan. Kasihan bayi itu kalau nggak menyusu pada ibunya. Zia kan koma sekarang, kita nggak tahu kapan Zia akan bangun."


"Jangan ngaco kamu Galih. Mencari ibu susu itu nggak gampang Galih. Jarang ada orang yang mau menyusui anak orang. Karena nantinya bayi itu akan menjadi hubungan sedarah dengan orang itu. Nanti kita tunggu Zia bangun aja. Kalau Zia nggak bangun-bangun, nanti kita kasih susu formula aja. Atau kita tunggu keputusan dokter."


"Mudah-mudahan sih, si Zia nggak bantas sampai ke alam kubur."


"Hush, bicara apa lagi kamu Galih. Sembarangan aja. Bukannya doain yang baik-baik malah begitu."


"Ya, maaf Bu. Habisnya aku masih kesal aja sama menantu ibu yang satu itu. Di rumah, dia nggak mau bantuin ibu apa-apa. Harusnya kan orang hamil itu banyak gerak, bantu-bantu nyapu, nyuci piring. Nah si Zia cuma bisa ngandelin ibu aja."


"Sudahlah, kamu doain aja istri adik kamu itu. Sekarang kamu cepat ke rumah sakit. Kasihan Farhan, hatinya lagi terguncang sekarang. Istri dan bayinya sakit."


"Iya Bu, aku akan ke sana sekarang."


Galih kemudian mematikan saluran ponselnya. Setelah itu dia pun memasukan ponselnya kembali ke dalam saku dan meluncur pergi untuk ke rumah sakit.


***


Novi, Pak Husen dan Bu Rahayu saat ini masih berada di ruang tengah. Mereka masih bercakap-cakap mengenai kondisi kesehatan Amira.


"Iya. Mbak Amira sekarang juga udah bisa melakukan aktifitasnya lagi. Yah walaupun geraknya masih terbatas sih. Tapi tetap aja, sebagai adik yang selalu menemaninya, aku merasa bahagia," ucap Novi menimpali.


"Ibu akan lebih bahagia lagi kalau Amira benar-benar resmi bercerai dengan Farhan. Amira pasti akan sangat bahagia terlepas dari lelaki itu," ucap Bu Rahayu menyahuti pembicaraan suami dan anaknya.


"Iya. Mbak Amira sembuh, juga berkat bantuan dan dukungan Mas Galih juga. Selama ini, yang sering menemani Mbak Amira kan Mas Galih. Sudah banyak pengorbanan Mas Galih untuk Mbak Amira selama ini, " ucap Novi.


Tampaknya Novi tahu betul bagaimana Galih, yang selalu mendukung dan memberikan semangat untuk Amira selama Farhan tidak ada.


Ya, selama Farhan tidak pulang ke rumah Amira, Galih yang selalu bolak-balik ke rumah Amira. Dia yang selalu mencoba untuk menghibur Amira dan Laila.


Dia juga selalu memberikan semangat dan memberikan kekuatan pada Amira dan Laila agar mereka selalu sabar untuk menghadapi cobaan apapun yang sedang menimpa mereka.


Selain itu, Galih juga sering memberikan bantuan berupa uang atau pun barang-barang untuk Amira dan Laila. Sejauh itu, Amira tidak pernah menolak pemberian Galih. Karena Amira fikir, Galih melakukan itu semua karena dia sayang sama Laila ponakannya.

__ADS_1


"Galih sering ke sini, karena dia kasihan sama Laila. Dia kasihan melihat Laila ditelantarkan oleh Farhan. Laila itu kan ponakannya. Makanya dia sering banget ke sini, sampai beli-beliin Laila barang-barang dan bantuin biayain Laila sekolah."


Bu Rahayu tampak tidak suka, Pak Husen dan Novi membicarakan Galih.


"Sepertinya bukan cuma itu deh Pak," ucap Novi.


"Maksud kamu?" Pak Husen tampak tidak mengerti.


"Kayaknya, Mas Galih itu punya rasa sama Mbak Amira deh,"


"Masa sih Nov," ucap Pak Husen..


"Tapi ibu nggak setuju kalau seandainya Galih sama Amira. Kayak nggak ada lelaki lain aja sih. Lelaki di dunia ini kan banyak. Bukan cuma Galih dan Farhan aja. Masa iya, dari Farhan turun ke Galih. Apa kata orang nantinya," celetuk Bu Rahayu.


"Bu, lagian siapa yang mau jodohin Galih dengan Amira, kita cuma lagi bicara kenyataan yang ada aja selama ini. Galih yang sering datang ke sini, dan Galih yang sering membantu semua kesulitan Amira," ucap Pak Husen.


"Tadi kata Novi, Galih seperti punya rasa pada Amira. Awas aja ya, kalau Galih sampai suka sama Amira. Ibu nggak akan pernah merestui hubungan mereka," ucap Bu Rahayu kesal.


"Beda orang beda sifat Bu. Menurut aku, Mas Galih orangnya baik. Dia setia, dan sangat beda dari Mas Farhan. Walau wajahnya nggak jauh beda sih. Karena Mas Farhan dan Mas Galih itu mirip."


"Ah, nggak banget deh, kalau Galih jadi menantu ibu. Ibu pokoknya nggak akan merestui Galih dengan Amira. Mending ibu carikan Amira jodoh yang lain aja. Ya, sepeti Dion contohnya," ucap Bu Rahayu.


Novi terkejut saat mendengar nama Dion disebut.


"Apa! Mas Dion?" ucap Novi.


"Iya. Dia kan kaya raya. Punya sawah, punya mobil, dan calon menantu idaman. Punya masa depan cerah. Dari pada Galih, dia nggak punya apa-apa. Cuma ngandelin kerjaannya aja. Motor juga udah butut. Sama kaya adiknya. Semua tokonya bangkrut kan," ucap Bu Rahayu.


"Aku nggak setuju kalau Mbak Amira sama Mas Dion. Mas Dion itu kan udah duda dua kali. Dan dulu, Mbak Amira juga udah pernah nolak dia kan. Masa iya sih, Mbak Amira mau sama Mas Dion. Nggak malu emangnya Mbak Amira, kan dulu dia udah pernah mengembalikan lamarannya Mas Dion," ucap Novi.


Dia tampak tahu betul masa lalu, di antara Amira dan Dion. Walau dulu Novi masih kecil, namun dia sudah bisa merekam semua kejadian di masa lalu itu.


"E e eh... kalian kok malah meributkan jodohnya Amira. Amira aja belum ketuk palu lho. Artinya Amira dan Farhan masih bisa rujuk. Kalian udah bahas jodoh-jodohan. Belum tentu Amiranya mau sama Galih atau si Dion itu. Nggak usah jodoh-jodohin orang. Belum tentu Lailanya mau punya bapak tiri."


"Siapa yang mau jodoh-jodohin Mbak Amira. Itu sih ibu Pak. Aneh banget ibu," ucap Novi kesal.

__ADS_1


Novi bangkit dari duduknya. Dia kemudian pergi meninggalkan ruang tengah. Sepertinya Novi kesal dengan ucapan ibunya.


"Ih, kenapa tuh anak. Kenapa dia jadi marah sama aku," ucap Bu Rahayu.


__ADS_2