
Setelah selesai kontrol, Amira, Galih dan Laila kemudian pulang. Saat ini mereka masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Galih masih fokus menyetir. Laila yang duduk di belakang mobil, masih serius mainan hape.
Sementara Amira, yang duduk di depan sejak tadi masih terlelap. Sepertinya Amira kelelahan dan dia ngantuk karena semalam dia tidak tidur.
"Umi kamu kayaknya ngantuk banget La. Dia tidurnya nyenyak banget begitu," ucap Galih sembari sesekali menatap Amira yang saat ini ada di samping. Galih juga sesekali menatap Laila dari sepion kaca mobilnya.
"Ya iyalah ngantuk, orang semalam dia nggak tidur," ucap Laila. Pandangannya masih fokus ke layar hapenya.
"Kenapa nggak tidur?" tanya Galih.
"Umi kan kalau tahu Abi pergi, dia biasanya nggak akan bisa tidur lagi sampai pagi. Karena mikirin Abi terus," jawab Laila.
"Jam berapa Abi kamu pergi semalam?" tanya Galih lagi.
"Aku nggak tahu Pade. Tapi kata Umi sih, jam setengah satu Abi pergi. Karena Abi ditelpon Mbak Zia. Katanya kakeknya Mbak Zia itu sakit," ucap Laila menjelaskan.
"Oh..." Galih manggut-manggut tampak mengerti.
Galih menghentikan mobilnya saat tiba-tiba saja kendaraan yang ada di depannya itu berhenti. Tiba-tiba saja jalanan menjadi macet.
"Ih, kok macet sih La. Ada apa yang di depan. Seperti ada rame-rame gitu," ucap Galih yang sejak tadi masih fokus menatap ke depan.
Di depan tampak ada ramai-ramai orang berkerumun. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan.
Laila melongok dari jendela mobilnya untuk melihat ke depan.
"Astaghfirullahaladzim..." ucap Laila.
Laila melihat ada darah yang berceceran di depan sana. Laila yang merasa takut, kembali masuk ke dalam mobil dan duduk seperti semula.
"Ada apa La?" tanya Galih.
"Sepertinya di depan, ada orang kecelakaan Pade. Tadi aku lihat ada merah-merah gitu kaya darah."
"Yang benar La?"
"Iya Pade. Kita putar balik aja Pade. Aku takut."
Galih menatap ke belakang. Di belakangnya juga sudah banyak kendaraan. Tidak mungkin Galih putar balik.
"Duh, nggak bisa La. Di belakang sudah penuh mobil."
"Ya udah deh kita tunggu aja Pade."
Galih diam. Tiba-tiba saja Galih teringat dengan kecelakaan beberapa waktu lalu yang sampai menewaskan Fauzan dan membuat Amira cacat.
Ya Allah, kecelakaan. Kasihan banget orang-orang yang kecelakaan itu. Semoga mereka semua selamat, doa Galih dalam hati.
Galih kemudian menatap Amira.
Kasihan kamu Amira. Maafkan aku karena aku sudah membuat kamu lumpuh seperti ini,batin Galih.
__ADS_1
Reflek tangan Galih memegang tangan Amira.
Amira yang merasakan sentuhan tangan Galih, tiba-tiba saja mengerjapkan matanya. Amira terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Galih.
"Mas Galih, kenapa kamu pegang-pegang tangan aku," ucap Amira.
"Eh, Amira. Maaf, aku nggak sengaja pegang tangan kamu tadi." ucap Galih tampak gugup dan salah tingkah.
"Sebenarnya aku mau ambil hape aku," ucap Galih sembari mengambil hape yang ada di samping Amira duduk.
Galih mencoba untuk mengalihkan perhatian Amira agar Amira tidak marah karena Galih tadi tidak sengaja memegang tangan Amira.
Amira menegakan tubuhnya dan mengucek matanya.
"Kita udah nyampe Mas?" tanya Amira.
"Belum."
"Terus, kenapa berhenti?"
"Itu, ada orang kecelakaan di depan. Jadi macet."
"Oh."
"Maju macet, mundur juga macet Amira."
"Ya udah, tungguin aja Mas."
Kriuk...
Tiba-tiba saja perut Laila berbunyi. Laila meletakan hapenya di sampingnya duduk.
"Pade, Umi. Aku lapar. Aku dari tadi pagi belum makan lho," ucap Laila.
"Jadi kalian belum sarapan tadi pagi?" tanya Galih.
"Sarapan? bagaimana kita bisa sarapan. Umi aja nggak bisa masak sekarang. Dan aku cuma bisa masak mie instan doang. Kan biasanya Abi yang masakin buat kita. Abi kan udah pergi dari semalam," ucap Laila.
"Ya udah, setelah ini kita mampir beli makanan ya. Laila mau beli apa?" tanya Galih.
"Apa ya?" Laila tampak berfikir. Dia bingung dia ingin makan apa.
"Mas, kamu yakin mau beliin kita makanan. Aku lagi nggak pegang uang lho Mas," ucap Amira.
"Iya. Aku yang akan beliin kalian makanan. Tapi di bungkus aja ya. Kita bawa pulang dan makan di rumah."
"Iya Mas."
"Kamu pengin makan apa Amira?" tanya Galih.
"Baso aja nggak apa-apa Mas."
"Aku juga baso Pade. Samain aja sama Umi."
__ADS_1
"Ya udah. Nanti aku belikan. "
Beberapa saat kemudian, lalu lintas pun kembali lancar. Galih melajukan mobilnya kembali dan meluncur untuk mencari warung baso.
"Itu, kayaknya baso di situ enak Pade. Aku dan Umi, pernah makan bareng Abi di situ," ucap Laila sembari menunjuk ke arah pondok baso yang ada di tepi jalan.
"Ya udah, Laila. Kamu turun ya Laila. Beli baso tiga bungkus," pinta Galih.
"Baik Pade."
Galih mengambil dompet dan mengeluarkan uang lembaran merah. Setelah itu dia menyodorkan uang itu pada Laila
.
"Ini. Beli baso tiga bungkus. Sambalnya pisah. Barang kali, Umi kamu nggak makan pedas."
"Siap Pade," ucap Laila sembari menerima uang dari padenya.
Setelah itu, Laila pun turun untuk membeli baso.
Galih dan Amira masih berada di dalam mobil. Menunggu Laila beli baso.
"Mas, tadi habis berapa uangnya?" tanya Amira menatap Galih lekat.
"Ngga usah mikir soal uang Amira. Aku ikhlas membantu kamu."
"Tapi aku nggak enak sama kamu Mas. Kemarin Mas Farhan udah pinjam satu juta. Dan sekarang malah kamu yang bayarin aku kontrol. Karena Mas Farhan nggak ngasih uang untuk kontrol."
"Sebenarnya suami kamu itu keterlaluan tahu nggak. Mungkin dia sengaja lagi ngerjain aku. Kemarin dia udah minjam uang ke aku satu juta. Dia minta aku untuk nganter kamu, tapi dia nggak ngasih uang sama sekali," geram Galih.
"Mas, maafin Mas Farhan ya. Mungkin Mas Farhan lupa ngasih uangnya ke aku atau ke kamu."
"Aku nggak tau, di mana sebenarnya otak suami kamu itu Amira. Dia berpendidikan tinggi tapi otak seperti di taruh di dengkul. Tidak pantas dia di panggil ustaz,'" ucap Galih kesal.
Kalau bukan karena dia kasihan sama Amira, mungkin Galih tidak akan pernah meminjami uang untuk Farhan.
Amira diam. Dia menghela nafas dalam. Entah kenapa, Amira seperti sudah tidak mengenali suaminya lagi.
Entah di mana sosok Farhan yang dulu. Amira seperti sudah kehilangan sosok suami ustaznya. Yang Amira lihat, Farhan sekarang sudah bukan Farhan yang dulu.
Secepat itu kah Mas Farhan berubah. Apa dia sudah terpengaruh dengan Zia. Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati manusia. Kembalikan lah suami ku yang dulu. Buka kan lah pintu hati Mas Farhan. Tunjukanlah dia jalan kebenaran, doa Amira dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Laila masuk kembali ke dalam mobilnya sembari membawa tiga bungkus baso.
"Pade, ini uang kembalinya," ucap Laila sembari menyodorkan uang kembalian pada Galih.
"Tidak usah. Kembaliannya ambil saja buat jajan kamu."
Laila melebarkan senyumnya.
"Alhamdulillah Pade, makasih banyak ya Pade. Pade memang Pade ku yang paling baik," puji Laila.
"Tahu aja kalau aku lagi nggak punya duit. Udah dua hari, Abi juga nggak ngasih uang jajan dan uang saku untuk sekolah aku," Lirih Laila.
__ADS_1