
"Mbak, gimana Mbak tadi siang kontrolnya? apa kata dokter?" tanya Novi di sela-sela kunyahannya.
"Katanya, Mbak sudah boleh latihan jalan."
"Yang benar Mbak?"
"Iya. Tapi Mbak belum kuat untuk mengangkat berat tubuh Mbak. Kaki Mbak juga masih sakit jika untuk berdiri."
"Yang sabar Mbak, lama-lama juga nggak akan sakit kok, kalau tulang-tulangnya udah nyambung semua."
Malam ini, Amira, Laila dan Novi masih berada di ruang makan.
"Mbak, menurut Mbak, Mas Galih sama Mas Dion cakep mana?" tanya Novi tiba-tiba.
Amira melotot ke arah Novi.
"Kamu nanya apa?" Amira masih tidak mengerti maksud Novi apa.
"Menurut Mbak, cakep mana Mbak, di antara Mas Galih dan Mas Dion?" tanya Novi untuk yang ke dua kalinya.
Amira tampak berfikir. Amira tidak tahu apa maksud Novi bertanya seperti itu.
"Pasti Umi akan jawab cakep Abi lah Tan," celetuk Laila di sela-sela kunyahannya.
"Ih, aku nggak lagi minta pendapat kamu Laila," ucap Novi.
Amira tersenyum.
"Kenapa sih, kamu tiba-tiba nanyain seperti itu? apa jangan-jangan kamu suka ya, sama salah satunya?" terka Amira.
Novi hanya senyam-senyum sendiri.
"Sebenarnya aku suka Mbak, sama cowok yang lebih dewasa dari aku. Katanya kalau sama cowok yang lebih dewasa itu, jarang terjadi percekcokan. Karena suaminya lebih dewasa dan lebih bisa mengimbangi sikap istrinya."
"Terus maksud kamu nanyain itu apa? kamu mau seperti Zia? nikah sama lelaki yang beda usia?" tanya Amira di sela-sela kunyahannya.
"Nggak apa-apa lah, nikah sama lelaki yang beda usia. Yang penting bukan suami orang Mbak."
"Iya sih, nggak apa-apa. Tapi kalau menurut Mbak sendiri, dari segi penampilan Mas Galih sama Mas Dion, masih keren Mas Dion. Tapi kalau dari segi wajah, masih cakep Mas Galih."
"Ya iyalah, masih cakep Mas Galih. Menurut aku juga gitu. Tapi aku nggak mungkin naksir Mas Galih kan Mbak. Karena dia kakak ipar kamu Mbak. Mana boleh pernikahan kakak sama kakak adik sama adik."
"Terus?"
Novi tersenyum.
"Tapi nggak apa-apa kan, kalau aku naksir Mas Dion?"
"Ya nggak apa-apa lah, lagian siapa yang mau melarang."
"Menurut Mbak, kalau aku sama Mas Dion gimana?"
"Ya terserah kamu itu mah, tapi masa kamu mau sama duda sih? kayak nggak ada lelaki lain aja."
"Ya nggak apa-apa Mbak, kalau aku suka sama duda. Nggak ada yang salah. Yang penting aku nggak merebut suami orang kayak si Zia."
"Iya sih, perasaan itu kan memang tidak bisa dipaksakan."
"Lagian, Mas Dion yang sekarang itu beda banget, dari Mas Dion yang dulu. Mas Dion itu sekarang sudah punya rumah dan mobil. Masa depannya juga lumayan"
__ADS_1
Amira hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
"Novi...Novi...sudahlah. Jangan kebanyakan menghalu. Kamu fokus aja dengan kuliah kamu. Nggak usah mikirin yang aneh-aneh. Jodoh, kalau udah waktunya, dia akan datang sendiri."
"Iya Mbak."
Novi bangkit dari duduknya.
"Mbak udah habiskan makanannya. Aku beresin ya Mbak."
"Iya."
Novi kemudian membereskan piring-piring yang ada di atas meja. Setelah itu dia mencuci piring-piring kotor itu.
****
Setelah makan malam selesai, Amira memutuskan untuk beristirahat di dalam kamarnya.
Saat ini, Amira masih berada bersama Laila di atas ranjangnya. Mereka masih tampak duduk-duduk di atas tempat tidur sembari berbincang.
"Mi, Abi tadi siang kenapa langsung pulang sih Mi?" tanya Laila
"Umi juga nggak tahu. Abi kamu di telpon Zia. Disuruh pulang."
"Abi kok gitu sih sekarang. Nggak punya waktu untuk kita. Abi apa udah nggak sayang ya sama kita Mi?" Laila tampak sedih ,saat merasakan ada yang berubah dengan ayahnya.
"Sudahlah Laila. Nggak usah mikirin Abi kamu. Umi juga udah nggak mau mikirin Abu kamu. Percuma di fikirin, kalau dia aja nggak pernah mikirin kita."
"Iya. Benar juga sih. Masih mending Pade. Walaupun dia cuma pade aku, tapi dia sayang banget sama aku. Sementara Abi, dia lebih sayang sama Mbak Zia. Buktinya, dia lebih mentingin Mbak Zia dari pada kita."
Semakin hari, Laila semakin sadar, kalau ayahnya memang sudah berubah.
ring ring ring...
Amira mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan itu.
"Siapa Mi? Abi ya?"
Amira menggeleng.
"Pade."
Laila menundukkan kepalanya sedih.
"Yah, kok Pade. Kenapa bukan Abi. Kan aku kangen sama Abi."
Amira kemudian mengangkat panggilan dari Galih.
"Halo, assalamualaikum,"
"Wa'alakiumsalam Mas."
"Kamu lagi ngapain Amira? belum tidur?"
"Belum Mas. Ini lagi sama Laila."
"Oh,Laila juga belum tidur ya?"
"Belum Mas."
__ADS_1
Laila menatap Amira lekat.
"Umi, aku mau bicara sama Pade."
"Oh, iya iya," ucap Amira.
Amira memberikan ponselnya pada anaknya.
"Halo Pade, ini Laila Pade."
"Halo Laila. Ada apa sayang?"
"Apa aku boleh bicara dengan Abi?"
"Abi kamu nggak ada di sini sayang. Dia udah masuk kamar. Pade juga lagi di teras sekarang."
"Apa Pade bisa panggilkan Abi di kamarnya? aku kangen sama Abi. Aku pengin bicara sama Abi."
"Duh, Laila. Pade nggak enak, malam-malam gini harus ketuk pintu kamar Abi kamu. Besok aja ya kalau mau nelpon. Atau kamu telpon Abi kamu lewat nomer Abi kamu aja."
"Ya udah deh. Laila mau tidur aja. Pade lanjutin aja ngobrolnya sama Umi."
"Iya."
Laila kemudian mengembalikan ponsel itu pada Amira. Setelah itu dia berbaring dan memejamkan matanya untuk tidur.
"Halo Mas,"
"Halo Amira. Duh, aku nggak tega sebenarnya sama Laila. Kenapa kamu nggak telpon Farhan aja. Mungkin Laila kangen sama ayahnya."
"Biarin aja lah. Untuk apa aku nelpon-nelpon Mas Farhan. Aku juga nggak mau ganggu dia."
"Iya sih, aku juga nggak enak, malam-malam harus ketuk pintu kamarnya Farhan. Siapa tahu dia udah tidur."
"Oh ya Mas. Kamu mau ngapain nelpon aku?"
"Aku cuma mau tanya, gimana kondisi kamu sekarang? udah mendingan kan?"
"Iya Mas. Alhamdulillah. Aku tinggal latihan berdiri aja."
"Syukurlah Amira. Aku ikut seneng dengarnya. Aku juga pengin lihat kamu bisa jalan lagi. Aku nggak tega sebenarnya lihat kamu duduk di kursi roda terus."
"Iya Mas. Makasih ya udah support aku dan sudah bantu aku, untuk melewati semua masalah-masalah yang lagi aku hadapi sekarang."
"Iya Amira. Aku akan selalu dukung kamu dan bantu kamu. Uang kamu masih kan Amira? gimana bayar sekolahnya Laila?"
"Aku belum ke sekolah Laila. Biasanya kan Mas Farhan. Sekarang Mas Farhan sudah lepas tanggung jawab Mas."
"Duh, terus gimana dong?"
"Nggak apa-apa. Aku mau minta bapak atau ibu untuk ke sekolahnya Laila."
"Oh gitu ya."
"Makasih ya Mas, untuk bantuannya. Insya Allah, kalau aku sudah sembuh, aku mau cari kerja. Aku pengin bayar hutang-hutang aku ke kamu."
"Sssttt Amira. Kamu nggak punya hutang apa-apa ke aku. Aku ikhlas bantuin kamu."
"Tapi aku tetap nggak enak sama kamu Mas. Kamu udah baik banget sama aku. Sementara suami aku, dia sama sekali nggak perduli dengan aku dan anaknya."
__ADS_1
"Sabar ya Amira. Semua masalah, pasti akan ada jalan keluarnya. Semua musibah, pasti akan ada hikmahnya. Kita tinggal sabar aja menunggu rencana baik apa yang akan Allah berikan ke kita."
"Iya Mas."