Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Surat cerai.


__ADS_3

Pagi ini, Pak Husen dan Bu Rahayu sudah sampai di depan rumah Bu Aminah. Mereka turun dari motornya setelah sampai di depan rumah Bu Aminah.


Bu Rahayu dan Pak Husen mengetuk pintu rumah itu setelah mereka sampai di depan rumah Bu Aminah.


Pak Husen dan Bu Aminah terkejut saat melihat wanita hamil keluar dari rumah itu.


"Zia, udah berapa bulan kehamilan kamu itu?" tanya Bu Rahayu berbasa-basi.


"Delapan bulan Bu."


"Oh, satu bulan lagi dong ya, lahiran."


"Iya Bu Insya Allah."


"Mana Farhan?"


"Dia ada di dalam Bu, Pak."


"Saya mau ketemu dengan dia."


"Oh, iya. Saya panggilkan ya."


"Iya."


Zia kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggil suaminya.


"Mas, ada Pak Husen dan Bu Rahayu di depan. Mereka mau ketemu sama kamu Mas," ucap Zia.


Galih, Bu Aminah, dan Farhan saling menatap.


"Mereka ke sini, mau ngapain?" tanya Bu Aminah.


Zia mengedikan bahunya.


"Aku juga nggak tahu Bu."


Farhan dan Bu Aminah kemudian bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka berjalan keluar untuk melihat ke depan.


"Assalamualaikum," ucap Bu Rahayu dan Pak Husen bersamaan.


"Wa'alakiumsalam," jawab Farhan dan Bu Aminah bersamaan.


"Bu Rahayu, Pak Husen, mari masuk Bu, Pak."


"Iya."

__ADS_1


Bu Rahayu dan Pak Husen kemudian masuk ke dalam rumah Bu Aminah. Mereka kemudian duduk setelah Farhan dan Bu Aminah menyuruhnya duduk.


"Kedatangan kami ke sini sebenarnya mau membicarakan soal hubungan Amira dengan Farhan," ucap Pak Husen.


Bu Aminah menatap Farhan. Farhan sejak tadi masih menundukan kepalanya. Merasa malu saat melihat kedatangan mertuanya.


Sudah beberapa bulan ini, Farhan tidak pulang ke rumah Amira. Memberikan nafkah lahir pada Amira pun dia tidak pernah. Apalagi memberikan nafkah batin.


Setelah tokonya satu persatu bangkrut, sudah tidak ada yang bisa diandalkan lagi untuk Farhan. Hanya gaji dari sekolah yang lagi dia andalkan untuk saat ini.


Untuk membeli perlengkapan bayi saja Farhan belum ada uang. Untuk saat ini, dia masih mengharapkan bantuan ibu dan kakaknya yang serumah dengannya.


"Sebenarnya pernikahan kamu dengan Amira itu mau bagaimana Farhan. Kamu sudah menyiksa batin Amira terus menerus. Dan bapak sebagai orang tua, sudah tidak bisa melihat perasaan putri bapak dipermainkan


terus oleh kamu."


"Iya Farhan. Kami ke sini, cuma mau bicara baik-baik sama kamu. Jika kamu sudah tidak mencintai Amira, maka lepaskanlah dia. Dan kalian bisa cerai dengan cara baik-baik."


Farhan terkejut saat mendengar ucapan Bu Rahayu. Dia kemudian menatap Bu Rahayu lekat


"Cerai?"


"Iya Farhan. Bapak sudah bicara sama Amira. Dan Amira sudah menyetujuinya. Jika kamu tidak mau menceraikan Amira, Amira yang akan bertindak sendiri untuk menggugat cerai kamu ke pengadilan."


Farhan kembali terkejut.


Bu Rahayu tersenyum. Setelah itu dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini Farhan, surat cerai untuk kamu dari Amira," ucap Bu Rahayu. Dia kemudian menunjukkan surat gugatan cerai pada Farhan.


Entah kenapa, hati Farhan rasanya sesak saat melihat surat itu. Namun dia sadar diri, kalau dia sudah tidak bisa adil dengan Amira. Mungkin sudah lima bulan Farhan tidak pulang ke rumah Amira. Mungkin itu yang membuat Amira mengambil keputusan untuk menggugat cerai suaminya.


Farhan sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi sekarang. Dia memang bersalah karena selama ini dia hanya fokus sama Zia dan mengabaikan istrinya yang lain.


Dan itu semua tidak terlepas dari masalah keuangan Farhan. Sejak hidup bersama Zia, Farhan itu merasa bingung karena Zia yang royal. Dia tidak bisa mengirit keuangan seperti halnya Amira dulu.


Perjuangan Farhan untuk membesarkan toko-tokonya itu , tidak lepas dari campur tangan Amira. Dan semua toko itu bangkrut karena kebodohan Farhan sendiri yang tidak bisa mengelola toko-toko itu dengan baik.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Farhan sembari membasuh wajahnya kasar.


Dia kemudian menatap Bu Rahayu dan Pak Husen lekat.


"Saya ingin ketemu sama Amira Bu, Pak. Saya ingin minta maaf sama dia."


"Silahkan saja kalau Amira mau ketemu sama kamu. Kamu tahu Farhan, sekarang Amira sudah sedikit-sedikit bisa jalan, walau dia masih memakai tongkat. Dan sekarang Amira juga sudah mengajar ngaji di mesjid. Mengikuti ustadz yang lain. Masjid semakin ramai setelah Amira ikut mengajar di sana."

__ADS_1


"Kami nggak akan berlama-lama di sini Bu Aminah. Kami mau pulang dulu," ucap Pak Husen.


"Oh, iya Pak."


Setelah Pak Husen dan Bu Rahayu berpamitan pada Farhan dan Bu Aminah, mereka kemudian keluar dari rumah Bu Aminah.


"Hati-hati ya Bu, Pak," ucap Farhan setelah sampai di depan rumah.


"Iya Farhan."


Bu Rahayu dan Pak Husen kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Farhan.


Farhan dan Bu Aminah kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan sampai ke ruang tengah.


"Bu, ada apa Bu?" tanya Galih yang melihat ibunya tampak sedih.


"Amira, dia sudah gugat cerai Farhan," ucap Bu Aminah.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu," ucap Galih.


Bu Aminah dan Farhan menatap Galih lekat. Entah kenapa, Galih merasa bahagia saat mendengar semua itu. Sementara Bu Aminah dan Farhan, sedih karena mereka akan kehilangan Amira mutiara hati mereka.


Bu Aminah dan Farhan kemudian duduk bersama di dekat Galih.


"Ada apa ya Mas, sama kamu. Kamu kok kelihatannya senang banget mendengar perpisahan aku dengan Amira," ucap Farhan menatap tajam Galih.


"Ya bagus dong, itu artinya Amira sudah bisa berfikir cerdas, dia sudah mau mandiri tanpa kamu. Aku rasa, ini yang terbaik untuk hubungan kamu dengan Amira."


Farhan menghela nafas dalam. Sebenarnya dia berat untuk melepaskan Amira. Karena ada Laila diantara mereka. Farhan tidak tau lagi apa yang mesti dia perbuat.


"Aku akan ketemu Amira. Aku akan bilang sama dia, untuk mencabut gugatannya."


Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan ke kamarnya untuk bersiap-siap. Dia akan pergi ke rumah Amira untuk meminta maaf dan membujuk Amira agar dia mau mencabut gugatan perceraiannya itu.


"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Zia yang saat ini masih berada di atas tempat tidur.


"Aku mau ke rumah Amira."


"Mau ngapain."


"Ini bukan urusan kamu Zi. Kamu nggak usah banyak ngatur-ngatur aku lagi."


Farhan buru-buru pergi meninggalkan Zia di kamarnya. Dia kemudian menghentikan langkahnya setelah dia sampai di depan ibu dan kakaknya.


"Kamu mau ke mana Farhan?" tanya Bu Aminah.

__ADS_1


"Aku mau ke rumah Amira Bu. Aku mau selesaikan masalah ini."


"Lho, ke rumah Amira? kamu yakin kalau Amira dan Laila bakalan mau ketemu kamu?" tanya Galih. Tampaknya dia yang lebih tahu segalanya tentang Amira dan Laila.


__ADS_2