
Farhan dan Zia saat ini sudah berada di ruang makan. Bu Aminah berjalan menghampiri ruang makan.
"Mana Mas Galih Bu?" tanya Farhan pada Bu Aminah.
"Galih masih ada di dalam. Nggak tahu dia mau ikut makan atau nggak," jawab Bu Aminah. Setelah itu dia duduk berbaur bersama Zia dan Farhan di ruang makan.
"Mas Galih nggak mau ikut makan malam bersama kita ya Bu?" tanya Zia.
"Nggak tahu. Mungkin dia masih kenyang. Biarin aja lah. Kita makan duluan aja," ucap Bu Aminah.
"Mungkin karena ada aku di sini, Mas Galih jadi nggak mau makan bareng kita," ucap Zia tampak sedih.
Zia tahu kalau Galih tidak suka dengannya. Karena sikap Galih selama ini selalu sinis sama Zia.
"Zia, Galih mungkin lagi capek aja. Dia kan baru pulang kerja. Dia nggak benci kok sama kamu, sebentar lagi dia juga ke sini," ucap Bu Aminah.
Bu Aminah tidak mau Zia punya banyak fikiran yang akan mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya.
"Ya udahlah, kita makan duluan aja. Nggak usah nungguin Mas Galih," ucap Farhan.
"Iya Mas."
Zia, Bu Aminah, dan Farhan kemudian lekas mengambil makanannya masing-masing. Setelah itu mereka makan tanpa Galih.
"Zia, makan yang banyak. Nggak usah terlalu banyak fikiran. Nggak boleh orang hamil itu stres. Karena stres bisa mempengaruhi kandungan kamu," ucap Bu Aminah di sela-sela kunyahannya.
"Dengar kan Zi, ibu bilang apa. Kamu harus makan yang banyak. Nggak usah mikirin apa-apa lagi sekarang."
Zia hanya mengangguk di sela-sela kunyahannya.
Setelah Zia dan Farhan menghabiskan makanannya, mereka kemudian pamit untuk ke kamar.
"Bu, aku ke kamar dulu ya," ucap Zia.
Zia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan ke arah kamarnya.
"Aku juga ke kamar dulu Bu," ucap Farhan. Dia juga pergi meninggalkan ruang makan, mengikuti istrinya ke kamar.
Bu Aminah sekarang sendiri. Makanannya belum habis, dan dia masih melanjutkan makannya.
Kok, mereka malah pergi ke kamar. Kenapa mereka nggak tungguin aku dulu di sini. Perasaan, dulu Amira nggak seperti ini. Dia pasti akan bantuin aku, untuk beres-beres meja makan, batin Bu Aminah.
Setelah Farhan dan Zia masuk ke dalam kamar, Galih keluar dari kamar dan menghampiri ibunya. Dia kemudian duduk di dekat ibunya.
"Bu, mana Farhan dan Zia. Kok ibu sendirian aja?" tanya Galih sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi meja makan.
"Mereka udah masuk kamar," jawan Bu Aminah singkat.
__ADS_1
"Jam segini udah masuk kamar? setelah kenyang, mereka ninggalin ibu gitu aja, nggak mau ikut bantuin ibu beres-beres meja makan?"
"Sudahlah Galih. Nggak apa-apa. Biar ibu aja yang beresin meja makan. Kamu kalau mau makan, makan aja. Mumpung belum ibu beresin."
"Iya Bu."
Galih kemudian mengambil piring yang ada di depannya. Setelah itu dia mengambil nasi dan lauk. Galih kemudian makan menemani ibunya makan.
Galih fikir, setelah Zia dan Farhan tinggal di rumah ibunya, itu akan membuat pekerjaan ibunya semakin bertambah.
Karena setelah Farhan dan Zia ada di rumah Bu Aminah, Bu Aminah harus masak banyak, dan cuci piring banyak. Sungguh keterlaluan, jika Zia tidak mau ikut bantu ibu mertuanya cuci piring.
***
Sore ini Amira dan Laila masih ngobrol-ngobrol di teras depan rumah mereka. Tatapan Laila dan Amira tertuju pada seorang lelaki yang mengenakan helm dan mengendarai motor sampai ke depan rumah mereka.
Sesampainya motor itu di halaman depan rumah Amira, lelaki itu menghentikan laju motornya.
"Mi, siapa itu Mi?" tanya Laila.
"Umi juga nggak tahu siapa lelaki itu. Yang pasti dia bukan pade atau pun Abi kamu."
Lelaki itu membuka helmnya dan langsung menatap ke arah Amira. Betapa terkejutnya Amira saat melihat lelaki itu. Begitu juga dengan Laila. Dia juga terkejut saat melihat lelaki itu. Mereka berdua tampaknya sangat mengenal lelaki itu.
"Itu kan, bos bakso langganan Tante Novi. Kok dia ke sini, mau ngapain?" ucap Laila.
"Bos bakso?" Amira mengernyitkan alisnya bingung.
"Iya Mi. Itu lho, orang yang tempo hari pernah ngasih bakso ke Tante Novi. Katanya buat Umi. Kata Tante Novi, lelaki itu temannya Umi? benar nggak sih Mi?"
"Iya. Umi tahu. Dia itu Mas Dion. Tapi dia bukan temannya Umi juga kali Laila. Umi nggak punya teman lelaki. Teman lelaki Umi kan cuma Abi kamu."
"Iya. Abi dan Pade juga kan?" celetuk Laila.
Amira menghela nafas dalam dan hanya melirik Laila sekilas.
Lelaki yang bernama Dion tersenyum sembari berjalan menghampiri Amira dan Laila.
"Assalamualaikum," ucap Dion setelah sampai di depan Amira dan Laila.
"Wa'alakiumsalam," jawab Laila dan Amira bersamaan.
"Amira, bagaimana kondisi kamu? maaf ya, aku baru bisa datang ke sini jengukin kamu," ucap Dion.
Laila bangkit dari duduknya.
"Om, duduk Om di sini. Atau mau duduk di dalam?" tanya Laila yang langsung mempersilahkan Dion duduk. Sementara Amira hanya diam.
__ADS_1
Entah apa yang sedang Amira rasakan saat ini, saat berjumpa kembali dengan seorang lelaki masa lalunya yang pernah dia tolak cinta dan lamarannya.
Ya, Dion adalah lelaki di masa lalu Amira. Dulu, Dion sempat mau di jodohkan dengan Amira oleh orang tua Amira.
Namun Amira menolak perjodohan itu, karena dia ingin punya lelaki yang sama-sama lulusan pesantren. Sementara Dion menurut Amira, sangat minim sekali ilmu agamanya.
Amira takut, Dion tidak akan bisa menjadi imam yang baik untuknya. Makanya, waktu itu Amira lebih memilih Ustadz Farhan yang beda kampung dengannya, dan menolak Dion orang yang satu kampung dengannya.
Amira fikir, punya suami ustaz itu akan membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya. Namun pada kenyataannya, tidak seperti itu, punya suami seperti Farhan, membawa penderitaan tersendiri untuk Amira.
Setelah Laila mempersilahkan Dion duduk, Dion kemudian duduk. Sementara Laila pergi masuk ke dalam rumah dan memberi kesempatan untuk Dion dan Uminya ngobrol.
"Mas Dion," ucap Amira tampak gugup saat duduk di dekat Dion.
Padahal niat Dion baik. Dia ingin menjenguk Amira. Tidak ada niat lain selain itu.
"Amira, aku sudah dengar semua kondisi kamu dari Novi. Kenapa sih, kamu bisa seperti ini Amira?" tanya Dion menatap Amira lekat.
Dia sesekali menatap kaki Amira. Merasa prihatin dengan kondisi Amira saat ini. Apalagi sekarang Dion tahu kalau Amira sedang di poligami oleh suaminya.
"Dua bulan yang lalu, aku mengalami kecelakaan Mas. Aku kehilangan anak ku yang berusia enam bulan. Dan aku juga sekarang lumpuh, karena patah tulang," ucap Amira menjelaskan.
"Ya Allah, aku turut prihatin ya Amira, melihat kondisi kamu yang sekarang. Dan kata Novi, suami kamu katanya sudah menikah lagi. Benarkah itu?" tanya Dion.
Amira diam.
Ih, apa yang sudah Novi ceritakan pada lelaki ini. Nggak apa-apa sih, dia cerita kalau sekarang aku cacat, tapi jangan cerita masalah rumah tangga aku dong, malu-maluin banget. Nyebelin banget Novi. Awas aja kamu Nov, geram Amira dalam hati.
Amira sejak tadi masih diam. Dia masih larut dalam fikirannya sendiri.
"Novi udah cerita apa aja sama kamu Mas?" tanya Amira menatap Dion lekat.
"Dia nggak cerita apa-apa sih. Dia cuma cerita kalau kamu habis kecelakaan. Dan katanya suami kamu nikah lagi. Aku turut prihatin dengan kondisi kamu yang sekarang Amira."
Amira menghela nafas dalam.
"Iya Mas. Semua kata-kata Novi itu memang benar. Tapi aku tidak mau kamu mengasihani aku cuma gara-gara itu."
"Amira, aku ke sini, cuma mau lihat kondisi kamu aja. Kaki kamu bagaimana sekarang?" tanya Dion
"Aku udah mendingan kok. Cuma tinggal latihan berdiri aja."
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Mas, katanya kamu ada di luar negeri. Kok mendadak kamu jadi bos bakso? gimana ceritanya."
Dion tersenyum.
__ADS_1
"Sebenarnya aku udah nggak betah kerja jauh dari keluarga. Selama ini aku itu kerja di pelayaran Amerika. Tapi menurut aku, semua sudah bisa aku beli. Rumah, mobil, sawah, tanah, jadi untuk apa aku kerja jauh-jauh. Sekarang aku lagi mikirin fokus cari istri," ucap Dion