Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Keinginan untuk merujuk Amira


__ADS_3

Laila dan Galih saat ini masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumah Bu Aminah.


"Kamu sudah makan Laila?" tanya Galih di sela-sela menyetirnya.


"Belum Pade," jawab Laila.


"Kita beli makanan dulu ya. Pade juga mau beli makanan untuk nenek kamu dan Abi kamu. Karena Abi kamu lagi sakit Laila, dari kemarin dia nggak doyan makan. Rencananya, Pade mau beli makanan enak untuk kamu dan mereka berdua," ucap Galih.


Laila terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Apa! Abi sakit? Abi sakit apa Pade?" tanya Laila.


"Nggak tahu. Dari kemarin Abi kamu ngurung diri terus di kamar. Sepertinya dia lagi sakit. Karena kemarin dia sempat mimisan."


"Oh ya. Abi sakit sampai mimisan? kok Pade nggak bilang-bilang sama aku," ucap Laila. Dia merasa iba juga pada kondisi Farhan.


"Ya Pade pikir, kamu nggak mau lagi ketemu sama Abi kamu."


"Aku udah maafin semua kesalahan Abi kok Pade."


"Ya syukurlah kalau begitu. Makanya, sekarang kamu lihat dulu kondisi Abi kamu. Sejak jengukin Zia ke rumah sakit jiwa, dia jadi berubah. Dia jadi jarang keluar kamar. Keluar paling kalau mau ngajar aja. Mungkin dia lagi sakit.


"Gitu ya Pade."


"Iya."


"Kita beli makanan dulu ya Laila."


"Iya Pade."


Sebelum pulang ke rumah, Galih ingin membeli makanan dulu untuk makan malam Farhan, Bu Aminah, dan Laila. Kapan lagi, Galih punya kesempatan untuk makan bersama ponakan tersayangnya.


***


Setelah menjalankan sholat magrib, Farhan mengambil mushaf Al-Qur'an. Dia kemudian mengaji seperti apa yang biasa dia lakukan setiap habis sholat maghrib.


Di sela-sela Farhan mengaji, Farhan meneteskan air matanya. Dia kemudian buru-buru mengusap air matanya.


Setelah dia menyudahi mengajinya, Farhan meletakan kembali mushafnya di tempatnya semula.


"Kenapa nasib aku jadi begini banget setelah bercerai dari Amira. Aku jadi merasa bersalah banget sama Amira. Andai waktu bisa di putar kembali. Aku tidak akan menikah lagi dengan Zia. Cukup Amira saja yang menjadi istri aku, ucap Farhan.


Tampaknya dia sedih karena memikirkan nasibnya yang sekarang. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang.


"Aku yakin, jika aku tidak menikah dengan Zia, aku dan Amira masih bersama. Kita pasti akan hidup bahagia dan sejahtera dengan anak-anak kita. Ya Allah, seandainya aku ingin mengajak Amira rujuk lagi gimana ya, aku pengin memperbaiki kesalahan aku. Apa Amira bakal mau sama aku lagi," ucap Farhan.


Entah kenapa, tiba-tiba saja fikiran Farhan ingin kembali lagi dengan Amira. Setelah dia merasa terpuruk dan dia melihat Amira sukses, dia berniat ingin merujuk Amira lagi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, deru motor sudah terdengar dari luar rumah Farhan. Farhan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya. Dia ingin melihat siapa yang datang.


"Aku yakin, itu pasti Mas Galih," ucap Farhan.


Farhan kemudian membuka korden jendela kamarnya. Dia menatap dari kejauhan seorang gadis yang di bonceng oleh Galih.


"Mas Galih boncengin wanita. Siapa wanita itu, apa jangan-jangan, calonnya Mas Galih," ucap Farhan.


Farhan sejak tadi hanya bisa menduga-duga siapa wanita yang di boncengin Galih pulang ke rumah . Sepertinya dia pangling dengan anaknya sendiri. Karena satu tahun tidak bertemu Laila, Laila sudah sama besar seperti ibunya. Malah jauh lebih cantik Laila jika dibandingkan dengan Amira waktu Amira masih muda dulu.


Setelah Galih dan Laila turun dari motornya, mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Sementara Farhan menutup korden jendelanya kembali.


****


"Assalamualaikum," ucap Laila dan Galih bersamaan.


"Wa'alakiumsalam," ucap Bu Aminah menyahut dari dalam rumah.


Bu Aminah kemudian buru-buru membuka pintu. Dia terkejut saat melihat cucunya datang ke rumah.


"Galih, siapa yang kamu bawa ini?" tanya Bu Aminah pangling saat melihat cucunya sudah besar.


"Lah, ibu pangling sama Laila?" tanya Galih. " Ini Laila Bu. Cucu ibu. Masa ibu nggak kenal sih sama cucu sendiri."


Bu Aminah tersenyum.


Laila menganggukan kepalanya.


"Iya. Ini Laila Nek, cucu nenek," ucap Laila.


Bu Aminah tersenyum. Setelah itu dia mengecup kening dan ke dua pipi Laila. Bu Aminah juga memeluk Laila dengan erat.


"Ya Allah, cucuku. Ternyata kamu sudah sebesar ini Nak," ucap Bu Aminah di dalam pelukan Laila.


Laila kemudian melepaskan pelukannya.


"Abi mana Nek?" tanya Laila sembari menatap ke sekeliling.


"Abi kamu ada di kamar Nak," jawab Bu Aminah.


"Boleh aku ke kamar Abi?"


"Boleh banget sayang. Silahkan, Abi kamu ada di kamar biasa."


Laila tersenyum. Setelah Bu Aminah membolehkan Laila masuk, Laila pun kemudian masuk dan berjalan ke arah kamar ayahnya.


Sesampainya di depan kamar Farhan, Laila mengetuk pintu kamar itu.

__ADS_1


Tok tok tok ..


"Assalamualaikum," ucap Laila.


Beberapa saat kemudian, Farhan membuka pintu kamarnya.


Farhan terkejut saat melihat Laila.


"Laila," ucap Farhan


"Abi..." Laila langsung memeluk ayahnya dengan erat.


Rasa rindu yang selama ini tertahan akhirnya terlepaskan juga saat Laila bertemu Farhan.


Sudah lama Farhan merindukan anaknya. Namun Farhan tidak berani untuk menemui Laila karena Farhan fikir Laila itu masih membencinya dan tidak akan mau bertemu dengannya.


Begitu juga dengan Laila, dia sangat merindukan ayahnya. Dia berharap kalau ayahnya mau datang ke rumahnya. Namun selama satu tahun, Farhan tidak pernah datang menjenguk anaknya.


Farhan melepaskan pelukannya. Setelah itu dia merangkul Laila dan mengajak Laila masuk ke dalam kamarnya.


"Duduk di sini sayang. Abi kangen banget sama kamu Laila," ucap Farhan.


Farhan kemudian mengajak Laila duduk. Dengan sekejap, Laila dan Farhan sudah duduk di sisi tempat tidur.


"Laila apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu sayang. Abi sampai pangling sama kamu. Tadi Abi fikir, Pade kamu bawa pulang calon istrinya. Ternyata dia bawa kamu ke sini," ucap Farhan.


Laila tersenyum menunjukan gigi putihnya.


"Emang, Pade udah punya calon istri?" tanya Laila menatap Farhan lekat.


"Abi juga nggak tahu. Lagian itu bukan urusan Abi. Bagaimana kabar Umi kamu?" tanya Farhan.


"Umi baik Abi."


"Alhamdulillah, Abi seneng lihat kamu dan Umi kamu sekarang sudah sukses," ucap Farhan sembari mengusap-usap bahu anaknya.


Farhan meraih tangan Laila dan menggenggamnya erat.


"Sayang, Abi mau minta maaf ya sama Laila. Karena selama ini Abi sudah punya banyak salah sama Laila."


Laila tersenyum.


"Laila udah maafin Abi kok. Kata Umi, Laila nggak boleh membenci Abi. Karena bagaimanapun juga Abi adalah ayah kandung Laila, ayah yang harus Laila hormati dan sayangi. Kata Umi, walau pun Umi dan Abi udah cerai, Abi tidak akan menjadi mantan untuk Laila. Seperti Abi yang udah jadi mantan untuk Umi. Makanya Laila harus selalu sayang sama Abi."


"Iya. Umi kamu memang wanita yang sangat baik. Dia penyabar dan ibu yang sangat bijaksana. Abi menyesal udah menyia-nyiakan Umi kamu. Andai waktu bisa kembali, Abi nggak akan pernah melukai hati Umi kamu."


Setetes air mata Farhan membasahi pipi Farhan. Air mata itu mengalir sampai ke kumis tipis lelaki itu.

__ADS_1


"Abi jangan nangis dong. Semua ini sudah takdir Abi. Tidak ada satu orang pun yang bisa merubah takdir yang sudah di tetapkan Allah untuk kita," ucap Laila. Dia kemudian mengusap air mata Farhan.


__ADS_2