
Waktu saat ini sudah menunjukkan jam empat sore. Farhan, Galih, Zia dan Bu Aminah saat ini masih berada di pemakaman Pak Ramli. Mereka masih berada di sisi makam Pak Ramli. Zia dan Farhan masih tampak menabur bunga di atas makam Pak Ramli.
"Sayang, kita pulang yuk!" ajak Farhan pada Zia istrinya.
Zia masih menangis di sisi makam kakeknya. Sejak tadi dia belum mau pulang ke rumah. Padahal waktu sudah sore. Sementara Farhan masih membujuk Zia agar dia mau pulang ke rumah.
"Ikhlas kan kakek sayang," ucap Farhan mencoba untuk menenangkan Zia. Dia sejak tadi masih mengusap-usap bahu Zia dengan sayang.
"Mas, kakek Mas. Aku nggak tahu, bagaimana hidup aku tanpa kakek," ucap Zia di sela-sela tangisannya.
Farhan mengusap air mata Zia.
"Jangan nangis Zia, kamu masih punya aku, punya ibu dan punya Mas Galih. Kami adalah keluarga kamu Zi sekarang," lanjut Farhan.
Zia menatap Farhan. Setelah itu dia menatap Bu Aminah dan Galih bergantian.
"Iya Zi. Kami juga mau pulang, udah sore," ucap Bu Aminah.
"Ikhlas kan kakek kamu. Biar dia bisa tenang di sisi Nya." ucap Galih.
"Iya Mas," ucap Zia sembari mengusap sisa-sisa air matanya yang ada di sudut matanya.
Setelah Farhan berhasil membujuk Zia, akhirnya Zia mau pulang juga.
Farhan, Zia, Bu Aminah dan Galih, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka berjalan untuk sampai ke rumah Zia.
Sesampainya di rumah Zia, Galih dan Bu Aminah duduk di kursi kayu panjang yang ada di teras depan rumah Zia.
Begitu juga dengan Farhan. Dia dan Zia juga duduk bersama di teras depan rumah.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Mas Galih dan ibu," ucap Farhan.
Galih dan Bu Aminah menatap Farhan lekat.
"Apa yang mau kamu bicarakan Farhan?" tanya Bu Aminah.
"Bu, apa boleh, sementara Zia tinggal bersama kalian?" tanya Farhan.
Galih dan Bu Aminah terkejut saat mendengar ucapan Farhan.
"Apa! kamu mau bawa Zia tinggal di rumah ibu. Nggak, aku nggak setuju. Zia kan sudah punya rumah sendiri," ucap Galih yang merasa keberatan Zia tinggal di rumah Bu Aminah.
"Tapi Mas. Kasihan Zia di sini sendirian. Dia sudah nggak punya keluarga lagi. Sekarang Zia cuma punya kita," ucap Farhan.
Bu Aminah sejak tadi masih diam. Dia belum mengiyakan dan belum juga berkomentar tentang keinginan Farhan itu.
"Mas, tolong Mas. Untuk sementara saja Mas. Biarkan Zia tinggal di rumah ibu. Biar dia ada yang jagain waktu aku pergi kerja. Karena sekarang dia lagi hamil. Dia lagi hamil anak aku," ucap Farhan menjelaskan.
Bu Aminah dan Galih kembali terkejut.
"Apa! hamil?" ucap Galih dan Bu Aminah bersamaan.
__ADS_1
"Iya Bu, Mas. Zia hamil. Dia hamil anak aku. Masa kalian tega sih sama Zia. Zia itu butuh dukungan dari kita. Tidak mungkin dia tinggal di sini sendiri Mas, Bu. Dan aku juga tidak mungkin bisa menjaga Zia selama 24 jam. Karena aku juga masih punya Amira, yang harus aku urusin juga," ucap Farhan. Sejak tadi dia masih membujuk ibu dan kakaknya agar mereka mau mengizinkan Zia untuk tinggal bersama mereka.
Bu Aminah dan Galih diam. Mereka larut dalam fikirannya masing-masing.
Zia mau tinggal bersama aku di rumah ibu, sebenarnya aku nggak setuju. Tapi aku kasihan melihat dia. Dia sudah tidak punya keluarga. Dan rumahnya juga sudah reot begini. Tapi, bagaimana kalau di rumahku dia malah merepotkan ibu. Jika yang di ajak tinggal di rumah ibu itu Amira, mungkin aku akan sangat setuju. Karena dia wanita yang rajin, mau bantu-bantu ibu. Tapi kalau Zia. Aku yakin, kalau dia pasti akan merepotkan ibu, batin Galih.
Bu Aminah sejak tadi masih menatap Farhan dan Zia. Tadinya Bu Aminah keberatan dengan keinginan Farhan yang ingin mengajak Zia tinggal di rumahnya.
Tapi setelah Farhan mengatakan kalau Zia hamil anaknya, Bu Aminah berubah fikiran. Dia jadi semakin prihatin saat melihat Zia.
Walau bagaimanapun juga, Zia itu menantunya juga. Dan benih yang ada di dalam rahim Zia itu cucunya juga. Tidak mungkin Bu Aminah akan menelantarkan cucu dan menantunya.
"Baiklah, Zia boleh tinggal di rumah ibu, sampai dia melahirkan," ucap Bu Aminah.
Pandangan Galih langsung tertuju pada Bu Aminah.
"Bu, ibu yakin Bu? mau ngajak Zia tinggal bersama kita?" tanya Galih.
Bu Aminah menatap Galih.
"Iya Lih. Nggak apa-apa. Kasihan Zia sudah tidak punya siapa-siapa. Cuma kita sekarang yang dia punya saat ini. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Kita juga punya tanggung jawab yang besar untuk mengurus Zia."
Farhan tersenyum.
"Bu, makasih banyak ya Bu. Ibu udah ngizinin Zia tinggal bersama ibu di rumah ibu," ucap Farhan dengan mata berbinar-binar.
"Setiap hari ibu juga kesepian nggak punya teman. Kalau Zia ikut ibu, mungkin ibu nggak akan kesepian lagi. Apalagi sebentar lagi ibu akan punya cucu. Rumah ibu, pasti akan ramai kalau ada bayi," ucap Bu Aminah.
Ternyata Allah Maha baik. Di saat-saat seperti ini, keluarga Mas Farhan mau mengizinkan aku untuk ikut tinggal di rumahnya, batin Zia.
Setelah cukup lama Bu Aminah dan Galih berada di rumah Zia, Bu Aminah dan Galih pamit untuk pulang ke rumah.
"Farhan, udah sore, ibu dan Galih pamit pulang dulu ya," ucap Bu Aminah.
"Iya Bu," ucap Farhan.
"Zia, ibu pulang dulu. Jaga kandungan kamu baik-baik."
"Iya Bu."
Setelah itu, Bu Aminah buru-buru melangkah ke arah Galih. Di mana Galih sudah menaiki motornya.
Bu Aminah kemudian membonceng Galih dan meluncur pergi meninggalkan rumah Zia.
"Lih, ibu pengin mampir ke rumah Amira Lih," ucap Bu Aminah saat ada di dalam perjalanan.
"Oh ibu mau mampir ke rumah Amira?"
"Iya. Mumpung ibu masih ada di sini."
"Iya Bu. Kita ke rumah Amira sekarang."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, motor Galih sudah sampai di depan rumah Amira.
Bu Aminah dan Galih turun dari motornya setelah mereka sampai di depan rumah Amira.
Mereka kemudian melangkah ke teras depan rumah Amira.
"Assalamualaikum," ucap Galih dan Bu Aminah bersamaan.
"Wa'alakiumsalam," ucapan salam terdengar dari dalam rumah Amira.
Beberapa saat kemudian, Novi membuka pintu depan.
"Eh, Mas Galih, Bu Aminah," ucap Novi. Dia kemudian mencium tangan Bu Aminah dan Galih.
"Ayo masuk. Mbak Amira ada di dalam," ucap Novi.
Galih dan Bu Aminah kemudian masuk ke dalam rumah Amira. Mereka berjalan mengikuti Novi sampai ke ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah, Bu Aminah tersenyum saat melihat Laila dan Amira. Bu Aminah kemudian buru-buru mendekat dan duduk di samping Amira.
"Ibu," ucap Amira,
Dia kemudian langsung mencium punggung tangan Bu Aminah. Begitu juga dengan Laila yang ikut mencium punggung tangan neneknya.
"Ibu dari pemakaman Pak Ramli ya?" tanya Amira.
Bu Aminah mengangguk.
"Iya Amira. Bagaimana kondisi kamu?"
"Seperti yang ibu lihat. Aku udah baikan. Tinggal kaki aku aja Bu. Doain ya Bu, semoga bulan depan, aku sudah bisa latihan jalan."
"Iya Amira. Ibu akan doakan yang terbaik untuk kamu," ucap Bu Aminah sembari mengusap-usap bahu menantunya.
Amira menatap Galih yang masih berdiri di sisi sofa.
"Mas, kok berdiri aja. Ayo duduk Mas." Amira mempersilahkan Galih duduk.
"Iya Amira."
Galih kemudian duduk setelah Amira mempersilahkannya duduk.
"Nov... Novi..."seru Amira memanggil Novi.
Beberapa saat kemudian, Novi menghampiri Amira.
"Ada apa Mbak?" tanya Novi.
"Ini Mas Galih dan Ibu. Tolong buatin mereka minum."
"Oh, iya Mbak."
__ADS_1
Novi buru-buru melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Bu Aminah dan Galih.