
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke rumah sakit, akhirnya motor Farhan pun sampai juga di depan rumah sakit.
Farhan kemudian memarkirkan motornya di parkiran depan rumah sakit. Setelah itu, Farhan dan Galih turun dari motornya.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Mereka berdua melangkah menuju ke tempat di mana Pak Ridwan berada.
Setelah sampai di depan ruang UGD, Farhan dan Galih menghentikan langkahnya. Mereka kemudian mendekat ke arah Pak Ridwan yang saat ini masih berdiri di depan ruang UGD.
Farhan buru-buru mendekati Pak Ridwan. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Pak Ridwan, bagaimana kondisi istri saya?"tanya Farhan pada Pak Ridwan.
"Ustadz Farhan , istri anda sekarang ada di ruang rawat. Dia pingsan setelah dia tahu kalau kakeknya meninggal dunia,"jelas Pak Ridwan.
"Terus bagaimana dengan istri saya? apakah sekarang dia sudah siuman?" tanya Farhan lagi.
"Saya tidak tahu Ustadz Farhan, karena saya sejak tadi di sini. Saya belum melihat kondisi istri anda lagi."
Farhan menatap Galih lekat
"Mas Galih. Aku mau ketemu Zia dulu ya. Apakah Mas Galih mau ikut bersamaku?" tanya Farhan.
"Oh tidak Farhan.Aku tunggu di sini saja. Aku mau menelpon ibu. Mau mengabarkan kalau Pak Ramli sudah meninggal dunia."
"Oh baiklah kalau begitu. Aku ke ruangan Zia dulu ya sama Galih. Aku mau lihat kondisi dia."
"Iya Farhan. Biar aku tunggu di sini saja sama Pak Ridwan."
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya Mas."
"Iya Farhan"
Farhan kemudian berjalan ke arah ruangan istrinya. Dia buru-buru masuk ke dalam ruangan Zia.
Dia melihat istrinya masih terbaring lemah di atas ranjang kecil rumah sakit. Matanya masih terpejam. Sepertinya dia belum sadar dari pingsannya. Atau dia lagi tidur.
Farhan mendekati istrinya. Dia kemudian duduk di sisi Zia. Farhan meraih tangan Zia dan mengecup punggung tangan Zia berkali-kali.
"Sayang, kamu kenapa sayang. Kenapa kamu pingsan. Maafkan Mas ya, karena mas baru bisa ke sini. Mas fikir, kakek kamu cuma sakit biasa. Dan Mas tidak tahu kalau kakek akan meninggal," ucap Farhan.
Beberapa saat kemudian, Zia mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap wajah suaminya lekat.
Setetes air mata Zia terjatuh dari pelupuk matanya. Dia tiba-tiba saja menangis saat melihat suaminya datang.
"Mas, kakek Mas. kakekku sudah meninggal dunia. hiks hiks hiks..."
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi Mas. Kakek adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Dan sekarang dia sudah meninggal."
"Sabar sayang, ini semua sudah takdir. Tidak ada yang tahu takdir manusia sayang. Masih ada Mas di sini sayang. Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu. Mas janji," ucap Farhan sembari mengusap-usap kepala Zia yang berbalut kerudung.
"Mas, kakek Mas... Hiks..hiks.."
Zia masih sesenggukan menangis. Sementara Farhan masih mencoba untuk menenangkan Zia.
"Sayang, kamu nggak sendiri. Mas akan selalu ada di samping kamu ya. Mungkin ini sudah waktunya kakek kamu pergi. Dan kamu harus mengikhlaskannya."
Di sela-sela Farhan ngobrol dengan istrinya, Seorang dokter, masuk ke dalam ruangan Zia. Dia menatap Zia lekat.
"Bagaimana kondisinya Mbak Zia? anda sudah sadar?" tanya Dokter
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa dok," ucap Zia sembari mengusap air matanya.
Dokter kemudian menatap Farhan lekat.
"Anda siapanya Mbak Zia ya?" tanya dokter yang tampak belum mengenali Farhan.
"Saya Farhan. Suaminya Zia. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya dok? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Farhan pada dokter itu.
"Saya perlu bicara dengan anda Pak Farhan .Mari ikut saya ke depan," ucap dokter.
"Baik Dok."
Farhan kemudian mengikuti dokter ke luar dari ruangan Zia . Dokter menghentikan langkahnya setelah dia sampai di depan ruangan Zia
"Ada apa dok?" tanya Farhan.
"Pak Farhan harus menjaga istri bapak baik-baik ya pak, Karena sekarang istri anda sedang hamil muda. Dan orang yang sedang hamil muda itu, biasanya rawan keguguran. Apalagi untuk saat ini, kandungan Mbak Zia sangat lemah," ucap dokter panjang lebar.
Farhan terkejut saat mendengar ucapan dokter.
"Apa istri saya hamil Dok?" tanya Farhan dengan mata berbinar-binar.
"Iya Pak Farhan. Saya tadi sudah memeriksanya. Mbak Zia sekarang lagi hamil. Mungkin tadi dia pingsan karena dia syok saat mendengar kalau kakeknya sudah meninggal dunia."
Kenapa saya nggak tahu ya kalau Zia hamil. Zia nggak pernah bilang apa-apa sama saya. Dia juga nggak pernah ngeluh apa-apa, batin Farhan.
"Tolong, perhatikan gizi makanan Mbak Zia selama kehamilannya. Periksa kan kehamilan Mbak Zia ke dokter sebulan sekali. Dan orang hamil itu tidak boleh stres dan tidak boleh terlalu capek. Tolonglah, untuk selalu perhatikan istri anda ya Pak. Jangan suruh istri anda untuk kerja yang berat-berat dulu."
"Iya Dok."
"Saya sudah tuliskan resep untuk Mbak Zia. Anda bisa menebus resepnya sekarang Pak."
"Makasih Dok. Apakah istri saya sudah tahu tentang kehamilannya Dok?" tanya Farhan.
"Sepertinya belum Pak. Karena dia baru saja sadar dari pingsannya."
"Oh gitu ya Dok."
"Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak Farhan."
"Iya Dok."
Setelah berpamitan pada Farhan, dokter kemudian berjalan pergi meninggalkan Farhan.
Setelah dokter pergi, Farhan termenung, sembari menatap kertas pemberian dokter.
"Zia hamil, di saat Kakeknya meninggal. Ya Allah, rencana apa lagi sebenarnya yang mau Engkau tunjukkan pada hamba. Kenapa Zia bisa hamil secepat ini, seharusnya Zia hamil setelah Amira sembuh. Agar aku tidak berat sebelah, untuk membagi waktu dan kasih sayang untuk mereka berdua," ucap Farhan.
Farhan melangkah dan mendekati Zia. Dia tersenyum saat melihat Zia.
Farhan duduk kembali di sisi Zia dan meraih tangan Zia.
"Sabar ya sayang. Kamu pasti kuat untuk melewati semuanya," ucap Farhan. Dia kemudian mengecup kening Zia.
"Makasih banyak ya sayang," ucap Farhan lagi.
Zia tidak mengerti maksud ucapan Farhan.
"Makasih untuk apa Mas?" tanya Zia.
__ADS_1
"Karena kamu sudah memberikan aku kebahagiaan yang tak terkira."
"Kebahagiaan apa Mas?"
"Apa kamu tahu sayang, kalau sebentar lagi kamu akan jadi ibu."
Zia terkejut saat mendengar ucapan Farhan.
"Mas, yang benar Mas? aku hamil? Kok aku bisa nggak tahu ya "
"Apa kamu nggak merasakan kehamilan kamu Zi?"
"Nggak Mas. Siapa yang bilang aku hamil Mas?"
"Dokter yang bilang. Dia sudah memeriksa kamu tadi waktu kamu pingsan. Dan ini adalah surat hasil pemeriksaannya dan surat untuk menebus resep obatnya."
Zia meneteskan air matanya. Dia terharu saat mendengar ucapan Farhan.
"Ja-jadi aku hamil Mas?" ucap Zia sembari mengusap perutnya yang masih rata.
"Iya sayang. Kamu senang kan Zi?"
"Memang ini yang sedang aku tunggu-tunggu Mas."
"Ya udah, kamu di sini dulu ya Zi. Mas mau nebus obat dulu untuk kamu. Sekalian Mas mau menemui Mas Galih dan Pak Ridwan. Mas juga harus mengurus pemakaman kakek kamu "
Zia kembali sedih saat di ingatkan dengan kakeknya.
"Mas Galih ada di sini?" tanya Zia.
"Iya Zi. Mas Galih ada di sini. Tadi dia ada di rumah Amira. Pas dia tahu kakek meninggal, dia langsung ikut ke sini."
"Kalian pakai motor?"
"Iya. Kami berboncengan."
Setelah berpamitan pada Zia, Farhan pun kemudian pergi meninggalkan Zia di ruangannya. Dia menuju ke apotek untuk menebus resep obat.
Di sisi lain, Pak Ridwan dan Galih masih menunggu Farhan di ruang tunggu.
"Si Farhan kemana sih, lama sekali, " ucap Galih setelah lama menunggu Farhan.
"Iya. Kenapa ya Ustadz Farhan lama sekali. Di tungguin dari tadi nggak keluar-keluar juga. Sebentar lagi kan jenasah Pak Ramli akan dibawa pulang."
"Saya harus susulin adik saya," ucap Galih.
Galih kemudian berjalan pergi meninggalkan Pak Ridwan untuk mencari Farhan.
Galih masuk ke dalam ruangan Zia. Zia sudah tampak duduk di ranjang kecil rumah sakit.
"Kamu sudah siuman Zi?" tanya Galih.
"Iya Mas."
"Farhan mana?"
"Dia lagi nebus obat Mas."
"Tadi dia di cariin dokter. Jenasah kakek kamu mau dibawa pulang. Kita harus menyiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman kakek kamu Zi."
__ADS_1
"Iya Mas Galih. Aku tahu itu."