
"Assalamualaikum." Suara Bu Rahayu sudah terdengar dari luar rumah Amira.
"Wa'alaikumsalam," ucap Farhan, Amira, Novi dan Laila bersamaan.
Sesampainya di depan rumah Amira, Bu Rahayu masuk ke dalam rumah Amira. Dia berjalan sampai ke ruang tengah di mana anak-anaknya berada.
Farhan, Novi, dan Laila langsung mencium punggung tangan Bu Rahayu.
Bu Rahayu menatap Amira lekat.
"Mir, kamu sudah pulang Mir?Kamu sudah baikan Nak?" tanya Bu Rahayu.
Amira yang ditanya hanya diam. Sejak tadi dia masih menangis. Bu Rahayu tidak tahu apa yang membuat Amira menangis.
"Kenapa dengan Amira? kenapa dia menangis?" tanya Bu Rahayu menatap Farhan ,Novi dan Laila bergantian. Namun ketiga orang itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bu Rahayu.
Bu Rahayu kemudian mengalihkan pandangannya ke Farhan.
"Farhan. Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku? kenapa dia menangis?" tanya Bu Rahayu dengan nada tinggi.
"Aku nggak ngelakuin apa-apa Bu. Amira menangis karena dia sekarang sudah tahu kalau Fauzan sudah meninggal," ucap Farhan menjelaskan.
"Kenapa kalian bohongi aku . Aku benci sama kalian semua. Aku benci...!" ucap Amira dengan suara serak. Sepertinya energinya sudah habis untuk menangis.
"Amira. Maafkan ibu. Ibu juga sudah ikut membohongi kamu. Tapi ibu nggak tega melihat kamu sedih Nak," ucap Bu Rahayu penuh penyesalan.
Amira diam. Hanya isak tangisnya saja yang sejak tadi masih terdengar.
Novi bangkit dari duduknya. Dia tidak tega melihat Amira menangis. Novi kemudian mendekati kakaknya.
"Mbak sabar ya Mbak . Aku tahu, kalau Mbak Amira adalah wanita yang kuat. Semakin tinggi keimanan seseorang, akan semakin tinggi pula ujiannya. Dan Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar," bisik Novi tepat di samping telinga Amira.
Amira mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Novi lekat.
"Iya Nov."
"Mbak Amira, sekarang aku antar ke kamar ya. Mbak baru pulang dari rumah sakit. Mbak nggak boleh banyak fikiran dan harus banyak istirahat."
"Iya."
Novi kemudian mendorong kursi roda Amira sampai ke kamar Amira. Begitu juga dengan Farhan yang mengikuti Novi dibelakangnya.
"Sekarang, Mbak istirahat ya," ucap Novi.
Amira mengangguk.
"Aku bantuin kamu naik ke tempat tidur ya," ucap Farhan.
"Iya Mas."
__ADS_1
Farhan kemudian menggendong tubuh Amira dan meletakkan Amira di atas tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Laila dan Bu Rahayu masuk ke dalam kamar Amira.
"Amira, kamu udah makan belum? apa kamu mau makan? kalau mau makan, nanti ibu ambilin dan ibu suapin" ucap Bu Rahayu.
"Nggak Bu. Makasih, aku masih kenyang."
"Mbak, mulai sekarang, aku akan tinggal di sini sama Mbak dan Laila. Aku mau bantu-bantu Mbak selama Mbak sakit," ucap Novi.
"Kamu yakin Nov? maaf ya kalau Mbak ngerepotin kamu," ucap Amira.
"Nggak apa-apa Mbak. Mbak kan kakak aku. Aku sama sekali nggak merasa direpotin kok."
****
Sore ini, Farhan keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi.
"Abi, abi mau ke mana?" tanya Laila.
"Abi mau ke mesjid."
"Udah mau aktif ngajar lagi Bi?
"Iya. Insya Allah."
"Tapi, sepertinya udah jarang deh Bi, anak-anak yang ngaji di mesjid. Sejak Abi nggak ada, mesjid kalau sore sepi. Nggak seperti biasanya."
"Ya coba aja Bi. Teman-teman Laila aja yang ngaji di mesjid pada pindah."
"Pindah ke mana?"tanya Farhan.
"Pindah ke rumah ustadz lain lah Bi."
"Ya udahlah, lama Abi nggak ke mesjid. Abi mau lihat ke mesjid dulu."
"Iya Abi."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Farhan kemudian melangkah pergi keluar dari rumahnya untuk ke mesjid.
Mesjid saat ini, memang kelihatan sepi. Biasanya jam segini sudah ramai anak-anak dan orang-orang yang ngaji.
"Kenapa nggak ada orang ya. Apa mereka sudah pindah ngaji di rumah-rumah ustadz. Kalau kayak gini, saya nggak akan punya santri lagi dong. Tapi mungkin mereka tahunya aku masih di rumah sakit."
Seorang gadis menatap dari kejauhan ustadz Farhan. Dia berbisik pada teman yang ada di sisinya berdiri.
__ADS_1
"Eh, itu ustadz Farhan kan. Mau ngapain dia ke masjid jam segini? Apa dia udah mau ngajar lagi," ucap Dewi.
"Mungkin aja dia udah mau mulai aktif lagi dengan kegiatannya setiap hari. Tapi kok, aku malah jadi ilfil ya sama dia. Gara-gara dia poligami. Padahal dulu aku suka sama dia, bisa di bilang ngefans lah. Tapi kok dia bisa mau sih sama si Zia," Rani menimpali.
"Yah, nggak tahu. Kalau menurut aku. Kasihan lho ya, Umi Amira. Ditinggal nikah lagi. Katanya dia itu sekarang cacat gara-gara kecelakaan itu," ucap Dewi.
"Iya. Tega bener ustadz Farhan. Seharusnya dia itu nggak usah nikah lagi. Biar dia fokus ngurusin istrinya yang nggak bisa jalan itu," ucap Rani.
"Iya. Aku jadi malas ngaji di mesjid. Mending aku ngaji di rumah ustadz yang lain aja."
"Iya. Aku juga udah nggak mau tuh ngefans lagi sama ustadz Farhan. Mending aku cari ustadz yang lain aja. Yang lebih sholeh dari ustadz Farhan," ucap Rani.
Semenjak santri-santri Farhan tahu kalau Farhan melakukan poligami dan sudah menikahi Zia salah satu dari santrinya, semua santriwati Farhan jadi ilfil pada Farhan. Mereka seperti sangat kecewa, karena ustadz tampan yang mereka idolakan selama ini, punya dua istri.
Farhan menatap dari kejauhan dua gadis yang sedang mengobrol tadi.
"Yah, dia menghampiri kita lagi. gimana ini, jangan sampai ustadz tahu kalau dari tadi kita lagi menggosipinya," ucap Dewi panik.
"Jangan-jangan dia denger obrolan kita lagi Wi," ucap Rani menyahut.
"Ya nggak lah, dia kan jauh."
Dengan sekejap Farhan sudah berada di depan dua gadis itu.
"Assalamualaikum Ukhti..." ucap Farhan yang selalu memanggil Ukhti pada setiap santriwatinya.
"Wa'alaikumsalam Ustadz," jawab Dewi dan Rani.
"Kalian kenapa berdiri saja di sini? kalian mau ngaji kan?" tanya Farhan.
Dewi dan Rani saling menatap.
"Nggak Ustadz. Saya lagi halangan," ucap Dewi.
"Saya juga ustadz," ucap Rani yang ikut-ikutan memberi alasan.
Padahal itu cuma alasan mereka saja.
"Oh. Ya nggak apa-apa. Nanti kalian bilang ya ke teman-teman kalian, kalau mulai besok, saya sudah aktif lagi di majlis ini," ucap Farhan.
"Iya ustadz. Oh iya. Gimana ustadz, kondisi Umi Amira? dia udah pulang dari rumah sakit ya?" tanya Rani.
"Iya. Dia udah pulang dari rumah sakit. Dia udah membaik kok," jawab Farhan.
"Kapan-kapan, boleh ya ustadz kami main ke rumah ustadz. Kami ingin jengukin Umi Amira," ucap Rani.
"Iya. Boleh banget. Amira ada di rumah terus kok."
"Ya udah ya ustadz. Kami mau pamit pulang dulu. Assalamualaikum." ucap Rani.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Ukhti."
Setelah berpamitan pada ustadz Farhan, Dewi dan Rani pun pergi meninggalkan ustadz Farhan. Sementara Farhan, masuk ke dalam mesjid untuk menunggu waktu sholat maghrib.