Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
telpon dari istri pertama


__ADS_3

"Cari istri? dari dulu kamu masih cari istri? bukankah kamu sudah menikah Mas?" tanya Amira. Dia ternyata masih penasaran juga dengan kehidupan Dion yang sekarang.


Dion tersenyum.


"Amira, aku nggak tahu kenapa Amira. Jodohku nggak pernah panjang dengan istri-istri aku. Sudah dua kali menikah, tapi aku selalu gagal membina rumah tangga dengan istri-istri ku."


Lama Amira tidak mendengar kabar dari Dion. Ternyata Dion sudah menduda dua kali.


"Kamu dua kali gagal dalam membina rumah tangga?" tanya Amira.


Dion menganggukan kepalanya.


"Iya Amira. Aku nggak tahu, siapa yang harus disalahkan di sini. Aku atau istri aku. Tapi aku yakin, kalau yang menjadi masalah utama hancurnya rumah tanggaku itu, karena wanita yang aku nikahi, tidak mau ditinggal aku kerja jauh ke luar negeri."


"Oh..." Amira manggut-manggut tampak mengerti.


"Terus katanya kamu jualan bakso sekarang? benar nggak sih?" tanya Amira.


"Iya Amira. Aku memang sengaja ingin merintis usaha di kampung saja. Alhamdulillah udah setahun aku jualan bakso, dan aku juga sudah membuka cabang yang baru di dekat pasar," ucap Dion menjelaskan.


Amira tersenyum. Ikut bahagia mendengar kesusksesan Dion.


"Kamu sudah punya anak berapa Mas?" tanya Amira.


"Sebenarnya sih, aku baru punya anak satu. Anak itu dari istri pertamaku. Dan sekarang dia ikut ibunya.Dan sama istri ke dua nggak punya anak, karena cuma beberapa bulan aja udah bubar pernikahan kami."


"Kenapa bisa begitu sih Mas?"


"Intinya sih, mereka nggak ada yang mau bersyukur."


"Jadi ceritanya, sekarang kamu mau cari istri lagi?"


"Hehe... ya, begitulah Amira. Kalau ada jodoh lagi ya, aku pengin nikah lagi. Pengin cari istri yang nurut dan tidak banyak menuntut."


Di tengah-tengah obrolan Amira dengan Dion,


Novi tiba-tiba saja datang dan menghampiri rumah Amira. Dia tersenyum saat melihat Dion.


"Eh, ada Mas Dion Toh. Aku fikir siapa tadi," ucap Novi.


Dion hanya tersenyum saat melihat Novi.

__ADS_1


"Udah dari tadi Mas di sini?" tanya Novi.


"Ya lumayan lama lah," jawab Dion.


"Lho, kok nggak di suruh masuk Mbak, Mas Dionnya?" tanya Novi pada Amira.


"Nggak apa-apa, ngobrol di sini juga sama-sama enak," ucap Dion.


"Oh ya Nov, kalau kamu lagi nggak sibuk, tolong dong kamu buatin minum untuk Mas Dion!" pinta Amira pada adiknya.


"Duh, nggak usah repot-repot Nov, Mir," ucap Dion sembari menatap Novi dan Amira bergantian.


"Nggak apa-apa Mas. Nggak ngerepotin sama sekali kok," ucap Novi. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah untuk membuatkan Dion minum.


Beberapa saat kemudian, Novi menghampiri teras dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk Dion dan Amira.


"Ini Mas, aku buatin Mas Dion teh manis hangat, teh manis yang paling spesial untuk Mas Dion," ucap Novi sembari meletakan dua cangkir itu di atas meja.


"Alhamdulillah, makasih banyak ya Nov."


"Iya Mas. Sama-sama."


****


Mungkin karena dia sibuk dengan pekerjaannya, atau karena Zia yang selalu menghalanginya untuk bertemu Amira.


Ting.


Suara notifikasi dari ponsel Farhan terdengar.


Farhan yang masih ada di atas tempat tidurnya menatap ke arah ponselnya.


Farhan mengambil ponsel itu. Dia kemudian membuka chat dari Amira istrinya.


(Mas, kapan kamu mau pulang ke rumah aku. Besok udah waktunya kontrol Mas)


Farhan menghela nafas dalam. Dia kemudian memejamkan matanya untuk sejenak.


"Amira, maafkan Mas. Mas belum punya uang sayang untuk bawa kamu ke rumah sakit," gumam Farhan.


Farhan kemudian membalas chat dari istrinya.

__ADS_1


(Sayang, Mas besok akan pulang ke rumah kamu. Tapi Mas nggak bawa uang sayang. Sepertinya Mas nggak bisa bawa kamu ke rumah sakit. Karena Mas belum pegang uang)


Beberapa saat kemudian, Amira menelpon Farhan.


Farhan menatap Zia yang saat ini sudah terlelap. Farhan kemudian buru-buru berjalan pergi meninggalkan kamar.


Dia melangkah ke ruang tamu untuk mengangkat panggilan dari Amira.


"Halo. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam Bi. Kamu udah tidur Bi? maaf ya kalau aku ganggu malam-malam gini."


"Iya sayang nggak apa-apa. Kamu pasti kangen sama aku ya?"


"Bi, kamu mau pulang ya besok?"


"Iya. Udah seminggu aku di rumah ibu. Aku belum nengokin kamu dan Laila lagi. Kamu dan Laila gimana kabarnya?"


"Aku dan Laila baik kok Bi. Aku nelpon kamu cuma mau bilang, aku besok mau kontrol. Kamu bisa kan ngantar aku kontrol?"


"Tapi Abi kan udah bilang Mi. Abi nggak punya uang untuk bawa Umi ke rumah sakit. Abi cuma mau pulang nengokin Umi dan Laila aja."


"Bi, Umi nggak mau minta uang sama Abi. Umi cuma butuh Abi untuk ngantar Umi ke rumah sakit. Itu aja kok."


"Tapi Mi, ke rumah sakit harus ada uang dong Mi. Doain aja ya, biar Abi bisa dapat uang minggu depan. Terus kita ke rumah sakitnya minggu depan."


"Bi, Umi punya uang sendiri kok untuk ke rumah sakit. Umi cuma perlu Abi aja untuk ngantar Umi ke rumah sakit. Nggak mungkin kan, Umi minta orang lain untuk ngantar Umi ke rumah sakit. Kan Umi masih punya suami. Gimana kata orang, kalau kamu nggak pernah mau nganter Umi kontrol."


"Umi punya uang dari mana?kan Abi seminggu ini belum kasih uang ke Umi? kok Umi bisa punya uang?"


"Itu nggak penting Bi. Yang penting sekarang Umi pengin kontrol lagi. Umi pengin cepat-cepat sembuh dan bisa jalan lagi. Umi pengin bisa melakukan aktifitas Umi lagi. Umi udah nggak betah hidup seperti ini."


"Tapi itu penting buat Abi Mi. Abi sudah punya banyak hutang, Umi jangan paksakan ngutang ke orang untuk berobat. Itu akan memberatkan diri kita sendiri Mi."


"Umi nggak ngutang kok. Ini memang rezeki yang Allah kasih ke Umi."


"Iya deh, nanti aku ke rumah Umi besok. Kita pinjam mobil Pak Ridwan lagi ya."


"Iya Bi. Ya udah Bi, Abi istirahat aja. Umi tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."

__ADS_1


Setelah menutup saluran telponnya, Farhan meletakan ponselnya di atas meja ruang tamu. Farhan kemudian mengurut keningnya. Dia masih berfikir keras, bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang untuk periksa kandungan Zia, bayar sekolah Laila, dan membiayai pengobatan Amira.


"Besok aku mau pulang ke rumah Amira, sekalian aku mau lihat toko-toko aku. Semua barang-barang di toko katanya sudah sedikit. Aku harus belanja lagi dan tambahin barang-barang lagi ke toko. Aku nggak akan biarkan toko itu bangkrut lagi, karena cuma itu satu-satunya usaha yang lagi aku andalkan untuk menghidupi anak dan ke dua istri aku," ucap Farhan.


__ADS_2