
Laila jadi sedih saat mengingat kejadian di malam itu. Saat Farhan ayahnya pergi tengah malam ke rumah
Zia tanpa izin.
Laila tidak tega saat melihat ibunya tidak ada yang mengurus. Mau minum saja Amira sampai memecahkan gelasnya.
Laila kemudian menceritakan semua masalah itu ke Bu Aminah. Membuat Bu Aminah tampak geram dan gusar.
"Farhan itu kenapa sih. Kenapa dia ninggalin Amira di saat Amira sedang membutuhkannya," ucap Bu Aminah kesal.
"Nenek harus bicara sama Abi kamu La."
Bu Aminah akan beranjak pergi. Namun buru-buru Laila mencekal tangannya.
"Nenek mau ke mana?" tanya Laila.
"Nenek kesal sama Abi kamu. Nenek harus bilang sama Abi kamu, agar dia tidak mengulangi perbuatannya lagi."
"Jangan Nek. Abi lagi ngobrol di luar sama pade. Jangan ganggu mereka. Kalau nenek marah-marah sama Abi, Laila takutnya Pade akan ikutan marah juga sama Abi. Biarin saja lah Nek."
"Tapi Abi kamu sudah keterlaluan. Seharusnya Abi kamu fokus dulu sama kesembuhan Umi kamu La. Bukan malah enak-enakan dengan istri barunya itu."
"Nek, sudahlah. Laila nggak mau ada keributan lagi Nek di rumah ini. Laila bosen Nek, kalau setiap hari Laila itu lihat orang ribut. Karena hampir setiap hari nenek Rahayu juga marahin Abi."
Bu Aminah menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk mengontrol emosinya.
Sebenarnya Bu Aminah juga tidak pernah menyetujui hubungan Zia dan Farhan. Tapi karena paksaan Farhan dan Amira yang membuat dia terpaksa menyetujuinya.
"Ya udah, sekarang sana kamu panggil Umi dan Abi kamu. Ini masakannya udah mateng. Mereka belum pada makan kan?"
Laila mengangguk.
"Iya Nek."
Laila kemudian berjalan ke ruang tamu di mana Amira berada.
"Umi, umi kok masih di sini?" tanya Laila sembari mendekat ke arah ibunya.
Amira tersenyum.
"Iya. Abi kamu juga masih ada di luar sama pade kamu"
__ADS_1
"Seharusnya jam segini Umi udah makan dan minum obat. Maafin Laila dan Abi ya Umi. Yang nggak bisa merawat dan mengurus Umi dengan baik."
"Nggak apa-apa Laila. Seharusnya Umi yang minta maaf sama Laila. Karena Umi sudah sering banget ngerepotin Laila dan Abi. Seandainya Umi nggak lumpuh seperti ini."
"Ya udah, kita ke dalam yuk Umi. Tadi Nenek udah masak sop ayam dan ayam goreng."
"Iya La."
Amira hanya mengiyakan saja ucapan Laila dan menurut apa kata Laila. Karena Amira merasa dirinya sudah menjadi wanita yang tidak berguna. Dia tidak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain sekarang.
Laila kemudian mendorong kursi roda Amira sampai masuk ke dalam. Laila membawa ibunya ke ruang makan.
"Amira, ini ibu udah masakin buat kamu," ucap Bu Aminah.
"Duh ibu. Jadi repot-repot begini. Seharusnya aku yang masakin untuk ibu. Tapi malah ibu yang masakin untuk aku. Aku jadi nggak enak Bu."
"Nggak apa-apa Amira. Ibu ikhlas bantuin kamu. Ibu juga kasihan sama kondisi kamu saat ini. Kamu sekarang lumpuh dan nggak bisa apa-apa. Dan Farhan anak ibu, dia sudah selalu melukai hati kamu. Tolong maafin Farhan ya Amira."
Amira tersenyum.
"Nggak apa-apa Bu. Aku akan selalu maafin Mas Farhan kok. Namanya manusia nggak ada yang sempurna. Dan walau bagaimanapun juga, Mas Farhan itu ayahnya Laila."
"Ya udah, ibu panggil Galih dan Farhan dulu ya di depan," ucap Bu Aminah.
Bu Aminah kemudian melangkah pergi ke depan untuk memanggil ke dua anaknya. Bu Aminah menghentikan langkahnya saat mendengar perbincangan Galih dan Farhan di teras.
"Farhan, kamu ceraikan sajalah si Zia itu. Kamu itu susah dibuat sendiri Farhan. Kasihan Amira Farhan. Dia saat ini lagi butuh kamu Farhan. Kamu lihat kan kondisinya. Dia udah nggak bisa apa-apa sekarang."
"Amira butuh sekali kamu untuk selalu di sisinya, kalau kamu punya dua istri, kamu nggak akan bisa fokus ngurus Amira. Karena perhatian kamu harus terbagi. Apalagi sekarang kamu lagi kesulitan ekonomi," ucap Galih melanjutkan.
"Aku nggak bisa Mas menceraikan Zia. Aku juga nggak bisa menceraikan Amira. Karena aku cinta sama mereka berdua."
"Farhan sebenarnya gampang, kamu tinggal talak aja Zia. Toh kalian juga nikah siri. Kamu nggak boleh egois begini Farhan."
Bu Aminah menghela nafas dalam. Ternyata sejak tadi Galih masih membujuk adiknya untuk menceraikan Zia.
"Tapi perceraian itu dibenci Allah Mas. Dan aku tidak akan pernah melakukan itu," ucap Farhan.
"Dan menzolimi istri yang lagi sakit seperti Amira juga dosa besar Farhan," ucap Galih.
"Tapi aku nggak pernah menzolimi Amira. Dia ikhlas aku menikah lagi dengan Zia. Kalau Amira nggak setuju, aku juga nggak akan pernah menikah lagi. Dan tujuan aku menikah juga untuk membantu menafkahi Zia. Karena kakeknya Zia sudah tidak bisa cari uang lagi."
__ADS_1
"Tapi membantu bukan harus menikahi Farhan. Kamu bisa membantu Zia semampu kamu. Dengan memberikan dia sedekah seperti uang atau sembako Aku nggak percaya kalau kamu menikahi Zia karena ingin membantunya."
Farhan menatap Galih tajam.
"Maksud Mas apa?" tanya Farhan.
"Aku tahu isi yang ada di dalam otak kamu Farhan. Zia itu kan cantik, masih muda. Dibandingkan Amira, Amira kalah jauh karena dia sudah berumur dan udah nggak muda lagi.
"Aku saja, terpana lho saat aku pertama kali ketemu dengan Zia. Karena dia cantik. Aku pun sebagai lelaki mengakuinya kalau istri baru kamu itu cantik. Aku yakin kamu menikahi dia karena nafsu kan."
"Mas Galih. Jaga bicara mu. Kenapa sih, dari tadi kamu itu selalu menyudutkan aku dan menyalahkan aku. Dan seorang lelaki punya dua istri itu dalam agama diperbolehkan. Asal dia bisa adil dengan ke dua istrinya. Mas Galih kalau mau nikah lagi, ya sana nikah lagi. Mau poligami ya sana poligami."
"Ogah banget aku poligami. Aku nggak mau ikut-ikutan jejak kamu seperti itu Farhan."
Bu Aminah hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat perdebatan ke dua anaknya itu.
"Galih, Farhan. Mau sampai kapan kalian ngobrol di sini. Kalian nggak ada yang mau makan. Itu, ibu sudah masak sayur sop sama ayam goreng. Sambal juga ada."
Galih tersenyum dan bertanya. "Ibu yang masak semua Bu?'
"Ya iyalah Galih. Siapa lagi."
Galih tiba-tiba saja memegangi perutnya.
"Kenapa aku mendadak jadi lapar ya. Padahal waktu mau ke sini aku udah makan."
"Ya udah, ikut makan saja di sini Galih," ucap Mu Aminah.
"Kenapa setiap ibu yang masak, aku jadi kepengin makan ya. Padahal tadi aku nggak pengin makan. Itu karena masakan ibu selalu enak. Nggak beda jauh rasanya dari masakan Amira," ucap Galih yang membuat Farhan menatapnya tajam.
Rasanya Farhan tidak suka Galih memuji masakan Amira istrinya.
"Emang kamu pernah nyobain masakan Amira?" tanya Bu Aminah.
"Pernah dong Bu. Masakan Amira itu enak banget Bu, nggak ada duanya. Bahkan waktu Amira main ke rumah kita, aku sering banget makan masakan Amira.
Amira kan sering main ke rumah ibu dan masak. Kalau ibu lagi sakit, Amira juga kan yang masak."
Bu Aminah tersenyum.
"Iya ya. Ibu sampai lupa Galih."
__ADS_1
Galih dan Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah untuk pergi ke ruang makan. Begitu juga dengan Bu Aminah yang mengikuti ke dua anaknya itu di belakangnya.