
Farhan tidak mau memperdulikan ucapan Galih. Dia buru-buru berjalan keluar dari rumahnya untuk ke rumah Amira.
Sesampainya di depan rumah Amira Farhan turun dari motornya. Dia kemudian mengetuk pintu rumah Amira.
"Assalamualaikum."
Beberapa saat kemudian, Amira muncul dari balik pintu.
"Wa'alakiumsalam. Kamu Mas ternyata yang datang. Aku fikir siapa tadi," ucap Amira.
Farhan terdiam sejenak. Pandangannya masih terfokus pada Amira yang saat ini sudah berdiri dengan menggunakan tongkat.
"Amira, kamu sudah bisa jalan?" tanya Farhan.
"Iya Mas. Alhamdulillah, aku lagi latihan jalan."
"Amira aku mau bicara sama kamu Amira."
"Silahkan masuk Mas!"
Farhan kemudian masuk setelah Amira mempersilahkannya masuk.
Farhan dan Amira kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa Mas?" tanya Amira.
"Tadi orang tua kamu ke rumahku. Apa benar yang dikatakan orang tua kamu, kalau kamu sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."
"Iya. Emang kenapa Mas?"
"Kenapa kamu lakukan itu Amira? apa kamu sudah nggak sayang sama Laila?" tanya Farhan
Amira tersenyum kecut. Farhan tidak tahu saja kalau anaknya sekarang sudah sangat membencinya.
"Kamu masih ingat sama anak kita Mas?"
__ADS_1
"Ya masihlah. Kamu fikir aku udah lupa?"
"Aku fikir kamu sudah melupakan aku dan Laila. Karena selama berbulan-bulan kamu tidak pernah menengok kami dan menafkahi kami. Apa kamu lupa Mas, seorang istri berhak untuk mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan, setelah suaminya meninggalkan istrinya dan tidak menafkahi istrinya selama tiga bulan lamanya. Dan kamu sudah tidak memberikan aku nafkah selama hampir enam bulan Mas."
Farhan diam.
"Kamu udah ingkar janji Mas. Dan aku sama sekali nggak meridhoimu berpoligami kalau akhirnya akan seperti ini. Aku fikir, seorang Farhan yang pandai agama tahu ilmu poligami. Tapi nyatanya kamu nggak bisa adil kan Mas."
"Terus sekarang, mau kamu apa Amira?" tanya Farhan.
"Aku mau mendengar kata talakmu Mas. Karena cuma itu yang akan membuat aku bahagia."
"Dari pada kamu berdosa karena tidak menafkahi aku, lebih baik kamu ceraikan aku sekarang juga Mas. Agar kamu terbebas dari dosa kamu menzolimi seorang istri," lanjut Amira.
Air mata Farhan sudah berkumpul di pelupuk matanya. Begitu berat untuknya jika dia harus mengatakan kata talak pada Amira. Bibir dan hatinya seakan tidak mampu untuk mengatakan itu. Karena Farhan masih berat untuk melepaskan Amira.
Amira yang tadi tegar menghadapi Farhan, tiba-tiba saja menangis. Dia tidak kuasa menahan kesedihannya.
"Mas, kenapa kamu diam aja. Talak aku sekarang juga Mas. Ayo...! dari pada kamu setiap hari menanggung dosa karena tidak menafkahiku dan membuat aku menderita. Demi Allah, aku tidak ridho Mas kamu perlakuan aku seperti ini. Jika kamu tidak mampu untuk menafkahi dua istri, lebih baik kamu ceraikan aku. Dan nikahilah satu istri saja."
"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku menyesal kenapa dulu aku mengizinkan kamu menikah lagi. Aku baru sadar, kalau kamu itu cuma orang biasa. Kamu itu tidak akan bisa mencontoh Rasullullah. Tidak ada lelaki yang bisa adil seperti adilnya nabi Muhammad pada istri-istrinya. Sekarang aku benar-benar kecewa sama kamu Mas. Dan detik ini juga, sudah tidak ada cinta lagi di hati aku untuk kamu Mas," ucap Amira sembari mengusap air matanya.
Farhan meneteskan air matanya. Dia menangis, merasa terpukul hatinya saat Amira mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya.
Amira terkejut saat tiba-tiba saja Farhan bersimpuh di hadapannya
Farhan meraih tangan Amira dan menggenggamnya erat.
"Amira, maafkan semua kesalahan aku Amira. Aku memang sudah salah sama kamu. Aku menyesal Amira, maafkan aku. Apa kamu nggak mau berubah fikiran Amira. Tolong cabut gugatan kamu, dan kita mulai dari awal lagi. Aku nggak tega sama Laila Amira. Apa kamu nggak sayang sama anak kita Laila. Dan apa kamu mau begitu saja menghancurkan rumah tangga kita yang sudah berjalan lima belas tahun lebih?"
Amira menghempaskan tangan Farhan dan menatap Farhan tajam.
"Nggak usah banyak drama Mas. Aku mau kita cerai dari pada kamu tidak bisa adil dengan aku dan istri barumu itu. Untuk apa kamu punya dua istri kalau kamu tidak bisa adil dengan salah satunya. Itu akan membuat dosamu semakin menumpuk Mas."
Farhan bangkit berdiri. Setelah itu dia pun menatap Amira lekat. Setelah sejenak Farhan berfikir, ucapan Amira memang ada benarnya. Dari pada Farhan terus menerus berdosa karena tidak memberikan nafkah pada Amira, lebih baik Farhan melepaskan Amira.
__ADS_1
"Baiklah Amira. Mungkin jodoh kita akan berakhir sampai di sini. Maafkan aku untuk semua kesalahan aku. Aku yang tidak bisa adil membagi waktu dan membagi tanggung jawab untuk kamu dan Zia."
Farhan mengusap air matanya.
"Jika kamu menginginkan aku mentalakmu, maka aku akan melakukannya. Mulai sekarang aku talak kamu Amira. Sekarang kamu sudah bukan istri aku lagi. Dan kamu sudah bebas menjalani kehidupan barumu tanpa aku. "
"Terima kasih Mas. Itu memang yang aku nanti-nantikan. Sekarang aku minta kamu pergi dari rumah aku Mas. Dan kita akan ketemu lagi di pengadilan. Aku menikah dengan baik-baik, dan aku pun ingin bercerai dengan baik-baik juga."
Farhan mengusap air mata yang ada di pipinya. Dia kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu Amira. Kamu jaga diri kamu baik-baik Amira. Semoga kamu cepat sembuh ya Amira."
Amira tersenyum.
"Iya Mas. Makasih untuk doanya."
Farhan kemudian pergi meninggalkan Amira. Farhan terkejut saat melihat Laila ada di depan pintu.
Farhan tersenyum saat melihat Laila.
"Laila, kamu apa kabar sayang?" tanya Farhan sembari mendekati Laila.
"Nggak usah dekat-dekat aku Bi. Karena sekarang aku benci sama Abi. Abi pasti udah bikin Umi nangis. Sekarang mendingan Abi pulang aja Bi, dari pada Abi buat Umi nangis."
Laila tidak mau memperdulikan kehadiran ayahnya. Dia lebih memilih masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya dari dalam.
Farhan hanya bisa menatap kepergian Laila. Setelah Laila masuk ke dalam rumah, Farhan pun kemudian meluncur pergi dengan motornya meninggalkan rumah Amira.
Sementara Laila mendekat ke arah ibunya dan duduk di samping ibunya.
"Umi, Umi nangis? Umi kenapa? apa Abi udah nyakitin Umi?"
"Maafkan Umi karena Umi nggak bisa menuruti keinginan Laila. Umi nggak bisa merebut Abi dari tangan Mbak Zia. Umi udah kalah Nak. Umi udah nggak bisa mempertahankan rumah tangga Umi dengan Abi kamu. hiks...hiks...hiks..."
"Umi, kenapa Umi bicara seperti itu? Umi nggak kalah Umi. Umi lah yang akan menjadi pemenangnya. Laila yakin, Mbak Zia akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya yang sudah merebut Abi dari kita,"
__ADS_1