
"Ibu tenang aja, Mas Galih nggak mungkin suka kok sama aku. Seandainya dia suka sama aku, aku juga nggak akan mau sama dia," ucap Amira.
Bu Rahayu tersenyum.
"Iya Amira. Ibu tahu kok, kalau kamu anak ibu yang paling penurut. Seandainya Farhan ngajak kamu balik lagi, kamu juga jangan mau ya Amira. Karena dia sudah banyak melukai hati kamu. Jika kamu kembali lagi sama Farhan, ibu pun tidak akan pernah merestui hubungan kalian," ucap Bu Aminah menegaskan.
"Iya Bu. Siapa juga yang mau kembali sama Mas Farhan. Kalau udah cerai ya udah."
"Ibu yakin, sekarang Farhan pasti sedang terpuruk. Melihat kamu sukses seperti ini, pasti dia nyesel karena sudah meninggalkan kamu."
Memang benar apa yang di ucapkan Bu Rahayu. Farhan memang menyesal saat melihat kesusksesan Amira sekarang.
"Iya Bu. Sudahlah, aku capek Bu. Aku mau ke kamar. Mau istirahat," ucap Amira.
Amira bangkit dari duduknya. Sebelum Amira melangkahkan kakinya, Bu Rahayu memanggilnya.
"Amira," ucap Bu Rahayu.
Amira menoleh ke arah Bu Rahayu.
"Ada apa lagi sih Bu?" tanya Amira.
"Calon suami kamu akan datang ke sini."
Amira terkejut saat mendengar ucapan ibunya.
Amira mengernyitkan alisnya. "Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan si tampan Gus Farid."
Amira terkejut saat mendengar ucapan ibunya.
"Apa! Gus Farid mau ke sini?" pekik Amira.
"Iya. Kata bapak kamu, besok atau lusa Gus mau datang ke sini. Kalau dia mau ke sini, dan mau nginap di sini, sementara nginap di rumah kosong kamu dulu aja yang ada di dekat masjid," lanjut Bu Rahayu.
"Iya Bu, sudahlah Bu. Kita bahas ininya besok pagi aja. Aku ngantuk Bu "
Amira kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah dan menuju ke kamarnya. Sesampainya di depan kamar, Amira masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur.
"Ya Allah, kenapa aku merasa capek banget ya hari ini," ucap Amira. Dia kemudian melepaskan hijabnya. Setelah itu Amira bangkit dari duduknya.
Sebelum tidur, Amira membereskan dulu tempat tidurnya. Setelah itu dia pun berbaring di atas ranjangnya.
Amira sudah telentang di atas tempat tidurnya. Matanya menatap ke langit-langit kamarnya.
"Gus Farid mau ke sini, mau ngapain dia ke sini. Jangan-jangan, dia sudah mau lagi menerima perjodohan ini. Ya Allah, apa lagi sebenarnya rencana Mu ya Allah. Apakah benar, kalau Gus Farid adalah jodoh yang Engkau pilihkan untuk aku. Tapi..." ucapan Amira menggantung.
Dia kembali berfikir.
__ADS_1
Gus Farid masih terlalu muda. Usianya tujuh tahun di bawah aku. Dan dia masih bujangan sementara aku janda yang sudah punya anak remaja. Apa Gus mau menerima wanita yang lebih tua seperti aku. Aku nggak yakin, Gus mau menerima aku. Kalau aku sih, asal ibu dan bapak ridho, ya nggak apa-apa aku dijodohkan dengan siapapun. Tapi kalau Gus Farid menurut aku terlalu sempurna untuk aku, batin Amira.
Amira mencoba untuk memejamkan matanya. Dia ingin beristirahat untuk malam ini, sebelum dia melanjutkan aktivitasnya lagi besok pagi.
****
Waktu saat ini sudah menunjukkan jam lima pagi. Setelah melakukan jamaah subuh di mushola dekat rumahnya, Farhan dan Laila kembali ke rumah. Dan saat ini mereka masih berada di ruang tengah.
Sementara Galih, dia baru bangun dari tidurnya dan saat ini Galih ada di kamar mandi.
"Kamu mau Abi antar kan pulang?" tanya Farhan pada anaknya.
"Emang Abi nggak mau ngajar?"
"Ya nggak apa-apa, sekalian Abi main ke rumah kamu. Ngajar kan nanti agak siangan. Ini aja masih jam setengah enam."
Laila diam. Dia masih ingat dengan ucapan Galih tadi malam, kalau saat ini Farhan sedang sakit. Laila tidak mau membuat Farhan repot.
"Gimana La?"
"Nggak usah repot-repot deh Abi. Aku kan ke sininya sama Pade. Jadi, aku mau pulangnya sama Pade aja."
"Ya udah kalau gitu."
Di sela-sela Farhan dan Laila ngobrol di ruang tengah, suara salam sudah terdengar dari luar rumah.
"Wa'alakiumsalam." Dengan serempak Laila dan Farhan menjawab salam dari Bu Aminah.
Beberapa saat kemudian, Bu Aminah masuk dan berjalan sampai ke ruang tengah. Dia kemudian menatap Laila lekat.
"Laila mau pulang sekarang? nggak besok aja?"
Laila tersenyum.
"Laila mau pulang sekarang aja Nek. Laila kan harus sekolah. Nanti saja Laila main lagi kalau libur."
"Ya udah, ini nenek baru beli lauk di depan. Sebelum pulang, Laila makan dulu ya."
"Iya Nek."
"Ya udah, kalian tunggu di sini, nenek mau siapin makanan dulu di meja makan "
Laila bangkit dari duduknya.
"Laila bantuin ya Nek, biar cepat."
"Iya sayang."
Bu Aminah dan Laila kemudian berjalan ke ruang makan untuk menyiapkan makanan. Setelah semua siap, Laila kembali ke ruang tengah untuk memanggil kan Abinya.
__ADS_1
"Abi, makanan udah siap. Ayo kita makan Abi."
"Iya Laila."
Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu Farhan pun berjalan ke ruang makan untuk makan.
Farhan, Bu Aminah, dan Laila saat ini sudah berada di ruang makan.
"Pade kok, mandinya lama banget perasaan," ucap Laila.
"Udah biasa. Makan sendiri aja. Nggak usah tungguin Pade kamu. Pade kamu itu jarang makan kalau pagi. Dia lebih suka minum kopi, susu atau teh manis kalau mau berangkat kerja."
"Oh gitu ya."
Laila, Bu Aminah, dan Farhan kemudian makan bersama.
"Lho, kalian udah pada sarapan. Kok nggak ajak-ajak," ucap Galih. Setelah itu dia duduk di sisi Laila.
Laila menatap Padenya dan tersenyum.
"Habisnya Pade lama banget sih."
"Iya. Maaf ya, semalam kan Pade nggak mandi, jadi tadi sengaja Pade lamain mandinya biar bersih."
Galih menatap ke meja makan.
"Ini minuman siapa?" tanya Galih.
"Itu buat kamu Galih. Teh hangat. Tadi Laila yang buatin."
"Oh ya? Laila buatin teh hangat untuk Pade juga?"
"Iya dong Pade. Biar Pade semangat gitu."
"Makasih ya sayang."
Sejak tadi Farhan masih menatap ke arah Galih dan Laila tajam.
Mas Galih dan Laila, kenapa kelihatan akrab banget begitu ya. Sementara aku dan Laila seperti ada jarak. Padahal kan aku yang ayah kandungnya. Bukan Mas Galih, kenapa Laila malah seperti lebih dekat ke Mas Galih ya, batin Farhan.
Farhan tampaknya iri melihat kedekatan Laila dengan Galih. Sejak tadi, Laila hanya mengajak Galih ngobrol. Sementara dia cuekin ayah dan neneknya.
"Laila, Abi aja ya yang nganter kamu pulang," ucap Farhan di sela-sela kunyahannya.
"Nggak usah Bi. Aku mau pulang bareng Pade aja. Sekalian Pade berangkat kerja."
"Iya Farhan. Aku yang bawa Laila ke sini,dan aku juga dong yang harus mengantarnya pulang. Lagian kalau kamu yang ngantar Laila pulang, nanti kamu harus balik lagi dong ke sini. Kalau aku kan langsung ke tempat kerja. Karena rumah Amira itu kan searah dengan tempat kerjaku."
"Yah, terserah kalian aja deh."
__ADS_1