
Waktu saat ini sudah menunjukkan jam lima pagi. Farhan, Galih dan Bu Aminah saat ini masih berada di rumah sakit. Mereka masih berada di ruang tunggu, yang ada di depan ruang persalinan.
Karena tidak ada yang boleh menemani Zia melahirkan kecuali Farhan, hanya Farhan yang sejak tadi masih bolak-balik masuk ke dalam ruang persalinan untuk melihat kondisi Zia. Karena sampai subuh, bayi Zia belum juga keluar. Sepertinya Zia tidak akan bisa melahirkan secara normal.
Farhan sejak tadi masih bolak-balik di depan Galih dan Bu Aminah duduk. Sepertinya dia sangat cemas memikirkan kondisi istrinya.
"Lama banget ya Zia lahirannya. Beda sama Amira dulu, dia mah baru sampai di rumah sakit langsung lahir bayinya," ucap Bu Aminah.
"Nggak usah di banding-bandingkan Bu, kita banyak-banyak saja berdoa, agar si Zia itu lahiran normal. Jangan sampai Cesar. Kalau dia sampai lahiran Cesar ibu juga yang akan repot," ucap Galih.
Bu Aminah menatap Farhan lekat.
"Farhan, kenapa kamu berdiri aja di situ. Ayo sini duduk!" pinta Bu Aminah.
Farhan menatap Bu Aminah lekat.
"Kenapa ya Bu, anak aku belum lahir-lahir juga. Aku khawatir banget bu sama kondisi Zia," ucap Farhan.
"Ya udahlah, Farhan. Berdoa saja, semoga istri kamu dilancarkan persalinannya," ucap Galih yang sejak tadi masih mencoba memberikan dukungan pada Farhan.
Beberapa saat kemudian, seorang suster menghampiri Farhan.
"Keluarganya Bu Zia," ucap suster itu.
"Iya Sus. Saya suaminya," ucap Farhan.
"Bisa ikut saya sebentar Pak. Ada sesuatu yang mau saya bicarakan dengan anda."
"Oh, baik Sus."
Farhan kemudian berjalan mengikuti suster itu. Sesampainya di ruangan suster, Farhan kemudian duduk.
"Ada apa Sus?" tanya Farhan menatap suster itu lekat.
"Begini Pak. Sepertinya Bu Zia itu tidak bisa melahirkan secara normal, karena bayinya sungsang. Kepala bayinya masih ada di atas. Dan itu sangat sulit untuk melahirkan secara normal," ucap suster menjelaskan.
"Ja-jadi, Zia harus di operasi Sus?" tanya Farhan.
Suster itu menganggukan kepalanya.
"Iya Pak benar. Bu Zia sudah kehabisan tenaga. Dan jalan satu-satunya cuma operasi. Karena bayi sungsang itu tidak bisa dipaksakan untuk lahir normal. Karena bisa mengancam nyawa ibu dan bayinya."
__ADS_1
Farhan menghela nafas dalam.
"Baiklah Sus, kalau mau operasi. Pokoknya, lakukan yang terbaik untuk istri saya Sus."
"Baiklah kalau begitu. Bapak bisa tanda tangan di sini," ucap suster sembari menyodorkan beberapa lembar kertas untuk Farhan tandatangani.
Setelah Farhan menandatangani surat itu, Farhan kemudian pergi meninggalkan ruangan suster. Dia kemudian berjalan menuju ke arah ibu dan kakaknya berada.
"Farhan, ada apa Farhan?" tanya Bu Aminah yang melihat Farhan tampak murung.
"Zia mau dioperasi Bu," jawab Farhan tampak sedih.
"Apa! dioperasi?" Bu Aminah terkejut saat mendengar ucapan Farhan.
"Iya. Bayinya katanya sungsang. Zia tidak bisa lahiran normal," jelas Farhan.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Bu Aminah.
"Terus apa yang akan kamu lakukan Farhan?"
"Ya terpaksalah Zia akan di operasi hari ini. Tadi aku sudah tanda tangan Bu."
"Ya udah, kita serahkan sama dokter saja Farhan. Yang penting bayi kamu dan istri kamu selamat
Galih bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap Farhan dan Bu Aminah lekat.
"Aku mau pergi dulu ya. Aku mau kerja, sekalian mau balikin mobilnya Yudi," ucap Galih.
"Mas, kamu mau kerja. Tapi Zia kan mau dioperasi," ucap Farhan.
Galih tersenyum.
"Lah, Zia itu kan istri kamu, ya kamu lah yang nungguin dia di sini. Kenapa harus aku."
"Iya aku tahu Mas. Tapi apa Mas Galih nggak mau libur dulu untuk temani kita di sini?" ucap Farhan.
"Lah, kamu kan bisa sendirian jagain istri kamu. Waktu Amira sakit, kamu juga sendirian kan nungguin dia," ucap Galih.
"Iya sih Mas. Tapi kalau sekarang kan beda," ucap Farhan tampak sedih.
Ya, dulu Farhan masih punya banyak uang, tapi sekarang Farhan tidak punya uang. Itu yang membuat Farhan bingung. Biaya operasi juga pasti akan sangat mahal. Farhan tidak tahu akan membayar pakai apa.
__ADS_1
Farhan sejak tadi hanya diam. Galih tahu apa yang Farhan fikirkan. Walau sejahat apapun adiknya pada Amira dan Laila, tapi bagaimana pun juga, Farhan itu tetap adik Galih. Dan Galih harus tetap membantunya. Karena sekarang mereka juga tinggal satu rumah.
"Aku tahu, kamu butuh bantuan aku lagi kan. Ya, aku akan bantu kamu. Urusin aja istri kamu dulu. Kalau kamu butuh uang, tinggal bilang sama aku. Aku mau kerja. Udah siang ini," ucap Galih sembari menepuk-nepuk bahu Farhan.
Farhan menganggukan kepalanya.
"Ya udahlah, terserah kamu Mas. Kalau mau kerja ya, kerja aja dulu."
Sebelum pergi, Galih menatap ibunya lekat.
"Ibu mau ikut aku pulang?" tanya Galih.
Bu Aminah menggeleng.
"Ibu mau temani Farhan di sini Galih," jawab Bu Aminah.
"Ya udah kalau gitu. Aku pergi ya Bu, Farhan, kalau ada apa-apa, hubungi aku aja. Nanti sore sepulang kerja, aku akan ke sini lagi. "
"Iya Galih," ucap Bu Aminah.
"Makasih ya Mas. Hati-hati di jalan Mas," ucap Farhan.
Galih mengangguk.
Galih kemudian pergi meninggalkan Farhan dan ibunya di rumah sakit.
Dia keluar dari rumah sakit untuk mengambil mobilnya yang ada di parkiran. Setelah itu Galih pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
Sementara Farhan hanya bisa duduk lemas di kursi ruang tunggu rumah sakit. Sesekali dia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.
"Sabar Farhan, sabar ya Nak. Kamu harus sabar. Mungkin, sudah jalannya, anak kamu lahiran Cesar," ucap Bu Aminah mencoba untuk menenangkan Farhan.
"Iya Bu, aku akan sabar Bu."
"Kamu kalau sholat, minta sama Allah, untuk kelancaran operasinya Zia. Kapan sih, dia mau di operasi?" tanya Bu Aminah.
"Nanti Bu. Sebentar lagi nunggu dokternya datang. Kayaknya sih, nanti jam delapan atau jam sembilan."
"Ya udah kita tunggu saja. Kita berdoa saja agar istri dan anak kamu selamat ya."
Farhan hanya mengangguk.
__ADS_1
Farhan tiba-tiba saja teringat dengan Amira.
Dulu, waktu lahiran Fauzan, aku masih di berikan rezeki yang berlimpah. Aku bisa membelikan apa yang Amira butuhkan. Dan anak-anak kami lahiran normal semua. Dan dulu, suasananya juga ramai, karena banyak saudara-saudara Amira yang datang berkunjung ke rumah sakit. Kalau sekarang, aku cuma sama ibu dan Mas Galih doang. Aku bisa bertukar pikir juga cuma sama mereka, karena Zia nggak punya keluarga dekat, batin Farhan.