Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Tentang Gus Farid


__ADS_3

Malam ini, seorang pemuda masih berdiam diri di dalam kamarnya. Setelah menyelesaikan sholat jamaah isya, pemuda itu masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, tasbih masih berada di dalam genggaman tangannya. Dia masih tampak berdzikir dengan memegang tasbih itu.


Di sela-sela dia berdzikir, ketukan pintu dari luar kamar terdengar.


"Mas... Mas Farid..." seru seorang wanita dari luar kamar Gus Farid.


Gus Farid turun dari tempat tidurnya. Setelah itu dia berjalan untuk membuka pintu.


"Husna, ada apa?" tanya Gus Farid.


"Mas Farid sudah makan belum?" tanya Ning Husna pada kakaknya.


Gus Farid hanya menggeleng.


"Ya udah, Umi udah nungguin kita di ruang makan. Ayo kita makan Mas!" ajak Ning Husna.


"Iya."


Gus Farid kemudian berjalan mengikuti adiknya itu ke ruang makan.


Ya, Gus Farid adalah cucu seorang kyai pemilik pondok pesantren terkenal di wilayahnya.


Ayahnya sudah meninggal sewaktu dia kecil. Dia dibesarkan oleh ibu, kakek dan neneknya. Dan sekarang hanya ada kakek dan ibu yang masih tersisa. Sementara neneknya sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu.


Gus Farid adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Husna, dan biasa dipanggil Ning. Karena dia masih keturunan dari Kyai Hanafi.


Ning Husna sudah menikah, dia menikah, mendahului Gus Farid kakaknya yang belum kunjung menikah sampai saat ini. Padahal usianya sudah memasuki kepala tiga. Usia Gus sekarang 31 tahun, dan dia belum menikah atau masih bujangan.


Lima tahun yang lalu, sebelum nenek Gus Farid meninggal, Gus Farid pernah sempat mau menikah dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah salah satu santri di pondok pesantren itu.


Namun pernikahannya gagal, karena satu hari sebelum pernikahannya, sebuah kecelakaan tragis menimpa calon istri Gus Farid dan membuat calon istri Gus Farid itu meninggal di tempat kejadian.


Sejak saat itu Gus Farid merasa terpuruk. Dan sampai saat ini, Gus Farid masih trauma dengan kejadian itu. Gus Farid belum mau menerima wanita lain di dalam hatinya.


Gus Farid dan Ning Husna saat ini sudah berada di ruang makan. Sementara Umi Zahra ibu mereka masih berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk makan malam ke dua anaknya.


"Suami kamu mana?" tanya Gus Farid pada Ning Husna.


"Masih ngajar santri, di aula depan, kenapa setelah sholat isya Mas Farid malah pulang? kenapa nggak bantu suami aku ngajar?" tanya Ning Husna.


"Aku lagi nggak enak badan dek. Tadi pas di mesjid mataku ngantuk banget, makanya aku langsung masuk ke kamar."


"Oh... begitu. Itu godaan setan juga Mas. Setan kan suka banget godain manusia. Apalagi kalau kita mau mengerjakan kebaikan seperti mau ngaji misalnya."


"Iya sih. "


"Udah minum obat Mas?" tanya Ning Husna lagi.


"Belum."


Beberapa saat kemudian, Umi Zahra berjalan menghampiri ke dua anaknya yang ada di ruang makan.


"Ini, makanan udah siap," ucap Umi Zahra sembari membawa semangkuk sayur.

__ADS_1


Ning Husna tersenyum.


"Mi, maafin Husna ya, Husna nggak bisa banyak bantuin Umi," ucap Husna.


Umi Zahra tersenyum.


"Nggak apa-apa."


Ning Husna bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan ke dapur untuk membantu Uminya membawa makanan-makanan itu ke meja makan.


"Kakek Hanafi masih di mesjid?" tanya Gus Farid pada Umi Zahra.


"Lho, kamu nggak tahu, kakek kan lagi sakit. Dari kemarin dia sakit, dan belum mau keluar rumah," ucap Umi Zahra menjelaskan.


"Oh..." Gus Farid manggut-manggut mengerti.


Setelah semua makanan sudah siap di atas meja, dan ke dua anak Umi Zahra sudah duduk di ruang makan, Umi Zahra menatap ke dua anaknya bergantian.


"Farid, Husna, Umi panggil kakek dulu ya. Siapa tahu dia mau makan bareng kita di sini," ucap Umi Zahra sebelum pergi.


"Iya Mi," ucap Ning Husna.


Umi Zahra kemudian berjalan untuk ke kamar Kyai Hanafi yang tak lain adalah ayah mertuanya.


Setelah suaminya meninggal, Umi Zahra yang mengurus ke dua mertuanya sampai anak-anaknya tumbuh dewasa.


Umi Zahra pun tidak punya niatan untuk punya suami baru, karena dia selalu berharap masih bisa berjumpa kembali dengan almarhum suaminya di surga nanti.


Sesampainya di depan kamar Kyai Hanafi, Umi Zahra mengetuk pintu.


Tok tok tok ..


"Assalamualaikum," ucap Umi Zahra.


"Wa'alakiumsalam," terdengar jawaban salam dari dalam kamar.


"Masuk saja Zahra," pinta Kyai Hanafi pada menantunya.


Umi Zahra perlahan-lahan membuka pintu kamar ayah mertuanya. Dia tersenyum saat melihat ayah mertuanya.


"Abah, bagaimana kondisi Abah?" tanya Umi Zahra sembari mendekat ke arah Kyai Hanafi.


"Ada apa Zahra?" tanya Kyai Hanafi.


"Abah, saya sudah siapkan makan malam untuk Abah."


"Abah lagi nggak enak makan Zahra."


"Abah, Abah harus makan. Abah nanti bisa tambah sakit kalau nggak makan."


"Mana Farid anak mu?"


"Dia ada di ruang makan Abah. Dia lagi nunggu Abah. "

__ADS_1


"Zahra, panggilkan Farid ke sini."


"Sekarang Bah?" tanya Umi Zahra.


"Jangan sekarang, nanti saja kalau dia sudah makan. Abah pengin bicara sesuatu sama dia."


"Iya Abah."


"Ya udah, kamu sana makan dulu. Temani anak-anak mu makan."


"Iya Abah. Abah udah minum obatnya belum?"


"Udah tadi. Abah cuma makan sedikit roti untuk ganjal perut."


"Oh, ya udah. Zahra pergi dulu ya Bah. Cepat sembuh Bah."


"Iya."


Umi Zahra kemudian keluar dari kamar kyai Hanafi. Dia berjalan untuk kembali ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Umi Zahra duduk berbaur bersama ke dua anaknya.


"Bagaimana Mi?" tanya Ning Husna.


"Kakek kalian masih sakit. Dia belum mau keluar dari kamar," ucap Umi Zahra.


"Ya udah, kita makan duluan aja Mi," ucap Ning Husna lagi.


"Iya."


Umi Zahra, Gus Farid dan Ning Husna kemudian makan bersama.


Setelah menghabiskan makanannya, Umi Zahra menatap Gus Farid.


"Farid, setelah makan, kamu nanti ke kamar kakek kamu ya," ucap Umi Zahra.


"Mau ngapain Mi?" tanya Gus Farid di sela-sela kunyahannya.


"Kakek kamu pengin bicara katanya sama kamu."


"Oh, iya Mi."


"Apa dia mau jodohin Mas Farid ya dengan seorang wanita," celetuk Husna yang membuat Gus Farid menatapnya tajam.


"Maksud kamu apa?" tanya Gus Farid.


"Kan waktu itu, Kakek pernah bilang, kalau dia ingin mencarikan jodoh untuk Mas Farid. Siapa tahu kan, aku juga udah menikah, kapan Mas Farid nikah?"


Umi Zahra tampak berfikir. Dia kemudian menatap Ning Husna lekat.


"Husna, kamu yakin soal itu? apa kamu tahu, wanita mana yang mau dijodohkan dengan kakak kamu?"


Ning Husna hanya tersenyum.


"Aku juga nggak tahu Mi. Cuma nebak-nebak aja," ucap Ning Husna. Setelah itu dia kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


__ADS_2