
"Mana tekonya ya." Laila menatap ke sekeliling. Namun tak nampak teko itu ada di dapur.
"La, kamu nyari apa?" tanya Farhan sembari menatap Laila yang masih celingak-celinguk di dapur.
"Teko Bi," jawab Laila.
"Ini tekonya ada di sini," ucap Farhan sembari menunjuk teko yang ada di atas meja makan.
Laila melihat ke arah meja makan. Dan teko itu ternyata ada di depan Farhan dan Zia
"Oh iya Bi. Aku cariin ternyata ada di situ."
Laila kemudian berjalan ke meja makan untuk mengambil teko.
Laila tersenyum saat melihat gelas yang berisi air putih itu ada di depan Zia. Laila tidak kehabisan ide, dia langsung menyenggol gelas itu sampai air yang ada di gelas itu tumpah mengenai kerudung dan gamis Zia.
Zia menjerit saat melihat bajunya basah kuyup. Sementara Farhan menghentikan kunyahannya dan menatap tajam ke arah anaknya.
Mampus kamu Mbak, ucap Laila dalam hati. Dia tertawa puas.
Laila puas sekali sudah berhasil mengerjai Zia ibu tirinya itu.
Prang...
Gelas itu pun terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
"Laila, hati-hati dong Laila. Kenapa kamu senggol gelasnya. Jadi tumpah semua kan. Gimana sih," ucap Farhan kesal.
"Maaf Bi, aku nggak sengaja."
Zia menatap Laila tajam. Namun dia tidak berani bicara apa-apa karena sekarang dia lagi ada di rumah Amira. Mungkin seandainya tidak ada Farhan atau Amira, Zia sudah memarahi Laila.
Ih menyebalkan sekali Laila ini. Aku yakin, kalau dia itu sengaja nyenggol gelas tadi, batin Zia.
Setelah menumpahkan air di baju Zia, Laila kemudian berjalan pergi meninggalkan Farhan dan Zia. Sementara Farhan bangkit dari duduknya dan mendekati Zia.
"Zi, kamu nggak apa-apa Zi?" tanya Farhan sembari menatap baju Zia yang basah kuyup.
"Mas, anak kamu gimana sih. Aku jadi basah kuyup begini kan," ucap Zia.
"Maafkan Laila ya. Tadi dia nggak sengaja numpahin air ke baju kamu."
"Aku mau pulang Mas. Aku mau ganti baju."
"Ya udah, aku antar kamu pulang ya."
Zia bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar ya, aku mau siap-siap dulu."
"Iya. Aku tunggu di sini aja," ucap Zia.
Farhan kemudian masuk ke dalam kamar untuk siap-siap. Setelah siap, dia kembali menemui Zia. Farhan merangkul Zia dan membawanya ke ruang tengah.
"Amira, aku mau antar Zia pulang dulu ya," pamit Farhan sebelum pergi.
"Kenapa tuh si Zia?" tanya Novi sembari menatap Zia lekat.
"Tadi dia ketumpahan air," jawab Farhan.
__ADS_1
"Oh..." Novi hanya bisa ber'oh ria.
"Laila udah nyenggol gelas dan numpahin air di bajunya Zia tadi," jelas Farhan.
Amira menatap Laila lekat.
"Laila, apa yang udah kamu lakukan?" tanya Amira.
"Maaf Mi, aku nggak sengaja."
Bukannya menyesal, Laila hanya tertawa dalam hati. Dia memang sengaja ingin membuat ayah dan ibu tirinya keluar dari rumah itu.
Sebelum pergi, Farhan menatap Novi.
"Nov, mungkin Mas nggak akan pulang malam ini. Kamu bisa kan tidur di sini jagain Amira dan Laila. Sekalian beresin meja makan dan cuci piring. Dan besok pagi-pagi, Mas akan pulang ke sini. Mas mau ngantar Mbak kamu ke rumah sakit."
"Iya Mas" ucap Novi singkat.
Novi hanya mengiyakan saja apa yang Farhan perintahkan. Padahal dalam hati, Novi itu geram sama Farhan.
Ih, kakak ipar menyebalkan. Bisanya cuma ngatur-ngatur orang. Emang aku pembantu apa di suruh-suruh ngerjain ini itu, siapa yang makan, siapa yang di suruh cuci piring, batin Novi.
Farhan dan Zia kemudian berjalan pergi meninggalkan rumah Amira. Setelah Farhan pergi, Novi menatap Amira lekat.
"Mbak, suami kamu itu kenapa sih. Kenapa aku yang harus di suruh nyuci piring. Kan Zia dan dia yang makan. Kenapa aku yang di suruh cuci piring," protes Novi pada Amira
"Kalau kamu capek, tinggalin aja udah, nggak usah di cuci piringnya. Cuci piring kamu sendiri aja. Biar Mas Farhan aja besok pagi yang nyuci piringnya sendiri. Kalian berdua cuci piring kalian masing-masing aja," ucap Amira.
"Dan Laila. Kamu kan tadi yang mecahin gelas. Kamu dong yang harus beresin pecahan gelasnya," ucap Amira lagi.
"Iya Mi. Maaf ya Mi, aku udah pecahin gelasnya."
"Iya Mi."
Novi dan Laila kemudian berjalan ke dapur untuk membereskan dapur dan ruang tengah. Sementara Amira, masuk ke dalam kamarnya dengan mendorong kursi rodanya sendiri.
Ring ring ring...
Suara ponsel Amira berdering. Amira segera mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Dia kemudian mengangkat panggilan dari Galih.
"Halo, Assalamualaikum Amira."
"Wa'alakiumsalam Mas. Mas Galih tumben nelpon. Ada apa Mas?"
"Ini ibu katanya kangen. Dia pengin bicara sama kamu."
"Oh. Mana ibunya Mas?"
"Ini."
Beberapa saat kemudian, suara Bu Aminah sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Bu. Ibu apa kabar Bu?"
"Kabar ibu baik. Kabar kamu gimana Amira?"
"Kabar aku juga baik Bu "
__ADS_1
"Gimana kondisi kamu? besok kamu kontrol lagi kan?"
"Iya Bu."
"Galih nanya, kamu mau sama siapa kontrolnya. Barang kali kamu mau sama Galih lagi besok kontrolnya. Katanya Galih siap nganterin kamu. Barang kali Farhannya repot."
"Oh aku mau sama Mas Farhan Bu besok kontrolnya."
"Udah ada mobil? kalau belum, nanti Galih yang akan sewain mobil."
"Udah ada kok Bu. Pinjam ke tetangga depan masjid."
"Oh, ya syukurlah kalau begitu. Oh iya. Farhannya mana?"
"Mas Farhan nggak ada di rumah Bu. Dia tadi pergi sama istri barunya."
"Dia nggak ada di situ? padahal ibu mau sekalian bicara sama dia."
"Kenapa nggak langsung telpon Mas Farhannya langsung Bu?"
"Ah, malas kalau dia sering bersama Zia. Ibu nggak begitu suka sama wanita itu. "
"Kenapa ibu bicara seperti itu Bu? walau bagaimanapun juga, Zia itu juga kan menantu ibu."
"Iya sih, Amira. Tapi dia kan beda sama kamu. Kamu itu sangat dewasa Amira. Dan Zia itu, masih kekanak-kanakan. Ibu nggak suka."
"Ibu ini gimana sih. Dari segi usia juga aku dan Zia sudah berbeda. Zia masih dua puluh tahun Bu. Sementara aku, sudah tiga puluh lima lebih."
"Iya sih Amira. Kamu mau bicara sama Galih? nih Galihnya."
"Iya Bu."
"Halo Amira. Kamu gimana kondisinya. Sudah ada perubahan apa?"
"Alhamdulillah Mas, leher aku udah bisa sedikit-sedikit digerakin. Kaki aku juga jauh lebih ringan dari sebelum terapi."
"Syukurlah Amira. Aku harap kamu bisa cepat-cepat sembuh ya."
"Kamu mengharapkan aku sembuh?"
"Iya dong. Kalau kamu sembuh, nanti aku ajak kamu jalan-jalan."
"Apa! serius Mas? Jalan-jalan sama siapa? sama kamu?"
"Ya sama akulah. Kan yang ngajak juga aku."
"Kita berdua Mas?"
"Ya nggaklah. Kamu ngarepnya kita jalan-jalan berdua gitu? kata kamu, kan kita bukan mahram. Nggak boleh kan jalan berdua."
"Hehe... ya nggak. Siapa yang mikir kayak gitu."
"Ya kita jalan-jalan sama Laila. Nanti aku pinjam mobil untuk kita jalan-jalan. Kalau Novi mau ikut juga boleh."
"Ya ampun, baik banget kamu sih Mas. Doain aja ya Mas, biar aku cepat sembuh dan kita semua bisa jalan-jalan pakai mobil,"
"Iya Amira. Aku akan selalu doain kamu. Semangat sembuh ya Amira."
"Iya Mas. Makasih ya."
__ADS_1