Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kesal


__ADS_3

"Halo, Assalamualaikum Mas."


"Wa'alaikumsalam."


"Mas, kamu udah nyampe ya?"


"Aku baru nyampe Zi."


"Mas, kamu mau berangkat kerja ya?"


"Nggak Zi. Aku mau ngurusin Amira dulu."


"Ngurusin Mbak Amira? ngurusin apa?"


"Ya aku mau nyuapin dia dulu."


"Oh gitu. Nanti malam, kamu mau nginap di rumah aku lagi kan Mas."


"Nggak tahu kalau itu Zi. Semalam kan aku udah nginap di rumah kamu."


"Yah, kok gitu sih Mas. Aku ingin nanti malam kamu nginap di rumah aku lagi. Nggak apa-apa deh, kalau setiap siang Mas Farhan di rumah Mbak Amira terus. Tapi kalau malam Mas Farhan harus ada di rumah aku."


"Duh, nanti aku fikirkan lagi ya Zi. Udah dulu ya Zi telponnya. Pakai chat aja Zi, nggak usah nelpon."


"Tapi kenapa Mas?"


"Sudah nurut aja apa kata suami. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Farhan memutuskan saluran telponnya begitu saja. Dia tidak mau, Laila atau pun ibu mertuanya tahu kalau dia sedang bertelponan dengan Zia.


Setelah menutup saluran telponnya, Farhan kemudian buru-buru melangkah masuk kembali ke dalam rumahnya.


Sesampainya di ruang makan, Farhan menatap ke sekeliling. Laila sudah tak nampak ada di meja makan. Sepertinya dia sudah pergi ke kamarnya.


"Mama masih ada di kamar Amira atau udah pulang ya. Mudah-mudahan saja dia sudah pulang," ucap Farhan yang masih takut dengan kemarahan ibu mertuanya.


"Laila pasti udah ada di kamarnya nih," ucap Farhan lagi.


Farhan kemudian berjalan untuk ke kamar anaknya.


Tok tok tok ..


Farhan mengetuk pintu kamar Laila.


"Laila .." seru Farhan dari luar kamar Laila.


Beberapa saat kemudian, Laila membuka pintu kamarnya.


"Abi. Ada apa?" tanya Laila.


"Nenek kamu masih ada di kamar Umi? atau sudah pulang?" tanya Farhan pada Laila.


"Nenek sudah pulang Bi tadi," jawab Laila.


Farhan memegang dadanya.


Syukurlah akhirnya ibu pulang juga.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain masuk kamar?" tanya Farhan menatap Laila lekat.


"Aku mau siap-siap mandilah Bi. Aku kan belum mandi."


"Ya udah kamu mandi. Abi mau ke kamar Umi kamu dulu. Abi mau ngurusin Umi kamu dulu.'


Laila mengangguk" Iya Bi."


Setelah itu Farhan pun pergi untuk ke kamar istrinya.


"Assalamualaikum," ucap Farhan setelah masuk ke dalam kamarnya.


Amira menatap ke arah Farhan.


"Wa'alaikumsalam" ucap Amira membalas salam suaminya.


Farhan menatap wajah Amira lekat.


"Amira, kamu kenapa?" tanya Farhan sembari mendekat ke arah Amira.


"Mas. Aku nggak apa-apa," ucap Amira sembari mengusap sisa-sisa air matanya.


Farhan kemudian duduk di sisi ranjang Amira.


"Kamu benar nggak apa-apa Amira?"


"Iya Mas. Aku nggak apa-apa Mas."


"Kenapa kamu nangis?"


"Aku nggak nangis kok."


"Ibu nggak ngomong apa-apa kok Mas."


Farhan menghela nafas dalam. Dia kemudian mulai bicara.


"Waktu itu, ibu bicara yang nggak mengenakan padaku Amira. Waktu dia tahu kalau aku sudah menikah lagi dengan Zia," ucap Farhan.


"Ibu bicara apa sama Abi?" tanya Amira pada suamiku.


"Dia meminta aku untuk menceraikan kamu Amira."


Amira terkejut saat mendengar ucapan suaminya.


"Terus, kamu bilang apa? apa kamu mengiyakan ucapan ibu aku?" tanya Amira.


"Nggak Amira. Aku itu cinta sama kamu. Aku nggak mungkin menceraikan kamu dalam keadaan seperti ini," ucap Farhan


"Apa yang akan orang katakan padaku, kalau aku sampai menceraikan kamu di saat-saat kamu sakit seperti ini dan baru kehilangan seorang anak. Aku nggak mau di cap buruk oleh orang-orang."


"Begitu?" ucap Amira singkat. Dia tidak mau terlalu banyak bicara.


Tadi saja dia sudah mendapatkan omelan dari ibunya. Dia juga tidak mau, bertengkar dengan suaminya hanya karena beda pendapat dan pemikiran.


Untuk saat ini, dia hanya bisa mengiyakan saja apa yang suaminya ucapkan.


Sekarang aja kamu sudah di cap buruk Mas, oleh keluarga besar aku dan tetangga-tetangga kita. Tapi apa kamu tidak menyadarinya, batin Amira.


"Mas, sudahlah. Kamu nggak usah mikirin kata-kata ibu. Kamu tahu kan udah sifat ibu seperti itu."

__ADS_1


"Iya Amira."


Amira dan Farhan sejenak saling diam. Sepertinya mereka masih larut dalam fikiran mereka masing-masing.


"Amira, kamu belum sarapan kan? apa kamu mau sarapan sekarang? aku ambilin ya. Nanti aku suapin. "


Amira menatap Farhan lekat dan tersenyum.


"Iya Mas."


Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar Amira untuk ke ruang makan.


Farhan mengambil piring di dapur. Setelah itu dia mencedokan nasi dan lauk pauk di atas piring itu.


Farhan kemudian kembali ke kamar dengan membawa makanan dan minuman untuk Amira.


"Sayang, kamu makan dulu ya. Setelah makan nanti kamu minum obat," ucap Farhan sebelum menyuapi Amira.


Amira mengangguk.


Mungkin sekarang Amira masih bisa bersabar menerima poligaminya itu. Namun entah akan bertahan sampai berapa lama kesabaran Amira itu setelah dia merasakan ketidak adilan di dalam pernikahannya itu.


Farhan kemudian lekas menyuapi Amira.


"Mas, kalau seandainya aku tidak seperti ini, kamu akan menceraikan aku Mas?" tanya Amira di sela-sela kunyahannya.


Farhan terkejut saat mendengar ucapan Amira.


"Kamu kenapa bisa bicara seperti itu? aku itu tulus cinta sama kamu. Dalam keadaan apapun, aku akan selalu mencintai kamu Amira."


Amira menghela nafas dalam sebelum mulai bertanya.


"Mas, semalam kenapa kamu tinggalin aku?" tanya Amira dengan mata berkaca-kaca.


"Semalam..." Farhan diam. Dia tampak bingung untuk mengucapkan sesuatu.


"Mas... kenapa kamu diam aja? kenapa semalam kamu nggak izin dulu sama aku kalau kamu mau ke rumah Zia."


"Semalam Zia nelpon aku dan nyuruh aku ke sana. Karena aku sudah janji sama dia, aku akan ke sana setelah kamu pulang dari rumah sakit, makanya aku ke sana untuk menepati janji aku Amira."


"Terus, kenapa kamu nggak izin dulu sama aku?"


"Aku udah izin sama Laila."


"Laila itu anak kamu. Bukan istri kamu. Seharusnya kamu izin dulu sama aku Mas. Aku ini istri kamu Mas. Kenapa kamu sama sekali tidak menghargai aku sebagai istri kamu?"


"Tapi semalam kamu nyenyak banget tidurnya."


"Seharusnya kamu bangunin aku Mas."


"Tapi aku nggak tega bangunin kamu sayang."


"Tapi aku sedih Mas, kalau kamu bersikap seperti ini. Aku nggak suka Mas, kalau kamu pergi, tapi kamu nggak bilang dulu sama aku. "


"Apa aku harus lapor dulu sama kamu Amira untuk semua aktivitas yang aku lakukan. Termasuk jamaah di mesjid aku juga harus lapor dulu? iya?" ucap Farhan yang sudah mulai kesal dengan istrinya.


"Bukan gitu Mas. Tapi aku minta, jika kamu mau ke rumah istri baru kamu, kamu harus izin dulu sama aku."


"Iya deh iya. Nanti aku izin dulu sama kamu kalau aku mau ke rumah Zia."

__ADS_1


__ADS_2