
"Kamu yakin udah nggak marah Amira?" tanya Farhan.
Amira tersenyum.
"Untuk apa aku marah. Lagian marah juga percuma, cuma merugikan diri sendiri aja."
"Makasih banget ya Amira. Kamu memang wanita yang sangat pengertian. Aku salut banget sama kamu Amira, kamu itu sangat berbeda dengan wanita lainnya," puji Farhan.
Di sela-sela Farhan dan Amira ngobrol, tiba-tiba saja Novi menghampiri mereka yang saat ini masih berada di teras.
"Assalamualaikum," ucap Novi setelah sampai di depan rumah Amira.
"Nov, dari mana aja kamu Nov?" tanya Amira saat melihat Novi baru pulang.
"Aku dari rumah Ajeng Mbak," jawab Novi.
"Laila mana? tadi siang dia ikut kamu," tanya Amira.
"Laila ada di rumah ibu. Dia lagi main sama teman-temannya,"
"Oh gitu ya. Kenapa nggak di suruh pulang. Udah sore lho ini."
"Biarin aja. Dia masih betah sama teman-temannya. Ya udah, aku masuk ke dalam dulu ya, Mas, Mbak."
"Iya," ucap Amira.
Novi kemudian masuk ke dalam rumah Amira. Setelah Novi masuk, Laila pun sampai di depan rumahnya.
"Tuh, Laila, baru aja di omongin," ucap Farhan.
Setelah memarkirkan sepedanya di bawah pohon mangga, Laila pun turun dari sepedanya. Setelah itu dia mendekat ke arah ibunya.
"Assalamualaikum," ucap Laila.
Laila kemudian mencium punggung tangan Amira dan Farhan.
"Dari mana kamu? udah sore baru pulang?" tanya Farhan menatap Laila lekat.
"Maaf Bi. Aku tadi main ke rumah teman.Nanyain tugas kelompok besok," jawab Laila menjelaskan.
"Benar ada tugas?"
"Benar Bi. Abi nggak percayaan amat sih. Laila nggak akan main kalau nggak ada tugas penting dari sekolah. Dari pada main kan, lebih baik di rumah mainan hape."
"Ah, kamu ini. Mainan hape mulu. Ngaji kek, dzikiran kek," ucap Farhan.
__ADS_1
"Semua kan ada waktunya masing-masing Bi. Waktunya sekolah ya sekolah, waktunya ngaji ya ngaji waktunya dzikiran ya dzikiran," ucap Laila.
"Ya udah, sana kamu masuk. Udah sore La. Kamu pasti belum mandi kan?" ucap Laila menyuruh anaknya masuk ke dalam rumah.
"Belum Mi," jawab Laila singkat.
"Ya udah, kamu mandi dulu sana. Tante Novi juga ada di dalam tuh."
"Tante Novi juga udah pulang ya Mi."
"Iya. Baru aja dia pulang. Tante Novi masuk, kamu sampai," jelas Amira.
"Ya udah ya Mi, Bi, aku masuk ke dalam dulu."
Laila kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Abi dan Uminya di teras.
Setelah Laila masuk ke dalam, Amira menatap Farhan lekat.
"Seharusnya Laila sudah ada di pondok ya Bi," ucap Amira.
"Iya sih, kalau dianya mau. Kemarin waktu mau masuk SMP, Laila kan belum mau di masukin pondok Mi," ucap Farhan menimpali.
"Iya Bi. Mudah-mudahan setelah dia lulus SMP, dia mau ya di masukin pondok,"
"Iya Mi. Tapi ada untungnya juga kan, Laila nggak mondok. Dia bisa merawat Umi di rumah. Coba kalau Laila ada di pondok, siapa yang mau jagain Umi dan menemani Umi kalau Abi lagi nggak ada," ucap Farhan.
"Iya kan Mi, ada untungnya Laila di rumah."
Amira hanya tersenyum.
Amira tidak tahu kenapa sikap suaminya berubah sejak dia di mutasi. Satu minggu ini Farhan cuma menemani Amira saja di rumah.
Farhan seperti lupa kalau dia punya istri lain selain Amira. Karena Farhan tidak pernah pergi kemana-mana kecuali pergi kerja. Setiap malam, Farhan juga ada di rumah dan tidak pernah meninggalkan Amira sedikit pun.
Tapi, sebenarnya Farhan tidak lupa dengan Zia istri barunya itu. Jika di suruh meninggalkan Zia pun Farhan belum tentu mau.
Mungkin Farhan masih kesal saja dengan Zia karena dia sudah membohonginya waktu itu. Dan juga, Farhan lagi berusaha untuk mengembalikan kepercayaan Amira dan keluarga Amira. Dia ingin membuat Amira dan keluarga besar Amira percaya, kalau Farhan bisa adil dalam poligaminya itu.
"Sebenernya Abi pengin punya anak lagi Mi. Kalau nanti Laila kita masukin pesantren, kita pasti akan berduaan terus seperti ini, Abi yakin, rumah ini pasti akan sepi banget tanpa anak," ucap Farhan tiba-tiba.
Amira tersenyum.
"Insya Allah ya Bi. Mudah-mudahan saja Allah akan memberikan gantinya Fauzan. Umi juga mikir gitu Bi. Kita cuma punya anak satu itu susah. Kalau Laila dewasa terus dia ikut suami bagaimana. Laila pasti akan ninggalin kita kalau kita sudah tua," ucap Amira.
"Iya Mi. Andai Umi sehat dan masih muda seperti Zia, pasti Abi akan suruh Umi untuk ikut program hamil. Biar Umi bisa hamil lagi," ucap Farhan.
__ADS_1
Amira terdiam saat mendengar nama Zia disebut. Tampaknya Amira kesal jika Farhan harus mengingat wanita itu lagi dan menyebut nama wanita itu di saat mereka sedang berdua.
"Abi sebenarnya kepengin punya anak lebih dari lima. Tapi Umi cuma memberikan Abi dua anak. Itu pun, yang satu sudah tiada."
"Tapi Allah kan yang menentukan semua takdir kita. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun."
Allahu Akbar Allahu Akbar.
Suara azan sudah terdengar dari mesjid dekat rumah Amira.
"Udah magrib Mi. Abi mau sholat ke mesjid. Umi masuk ke dalam dulu ya," ucap Farhan.
Amira mengangguk.
Amira kemudian mendorong kursi rodanya sendiri dan masuk ke dalam rumahnya.
Farhan bangkit dari duduknya. Dia pun akan melangkah masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba saja, ponsel Farhan berdering.
Ring ring ring...
Farhan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku baju kokonya.
Farhan terkejut saat Zia menelponnya..
"Mas, lihat ke belakang. Aku ada di belakang kamu Mas" ucap Zia.
Farhan menoleh ke belakang. Ternyata benar kalau Zia sudah ada di belakangnya.
Farhan kembali terkejut saat melihat Zia. Dia buru-buru menutup pintu rumahnya dan mendekati Zia.
"Zi, ngapain kamu ke sini?" tanya Farhan sembari menatap ke sekeliling.
Farhan takut jika ada seseorang yang melihat Zia datang ke rumah Amira. Karena yang tinggal di dekat rumah Amira, itu masih kerabat Amira semua. Jadi Farhan merasa tidak enak dengan tetangga yang ada di dekat rumahnya.
"Mas, aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa?" tanya Farhan.
"Kenapa satu minggu ini kamu nggak pulang ke rumah aku. Kamu nggak adil tahu nggak sih mas," ucap Zia.
"Nggak adil bagaimana. Waktu itu juga aku sudah temani kamu satu minggu."
"Nanti malam, kamu pulang dong Mas ke rumah aku. Aku kangen sama kamu."
"Aku mau pulang ke rumah kamu. Tapi kamu harus janji sama aku, kalau kamu tidak akan pernah bohongin aku lagi."
__ADS_1
"Iya Mas, aku janji aku nggak akan pernah bohongin kamu lagi. Dan aku juga kan udah minta maaf kan, aku udah janji, nggak akan mengulangi perbuatan aku lagi."