Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Bisik-bisik tetangga


__ADS_3

Setelah sampai di depan rumah Amira, Galih menghentikan laju mobilnya. Dia kemudian memarkirkan mobilnya di depan rumah Amira.


"Laila, sekarang kamu turun. Dan bantu pade ya, untuk turunin Umi kamu."


"Siap Pade."


Laila kemudian turun dari mobil. Setelah itu dia menurunkan kursi roda Amira. Begitu juga dengan Galih yang ikut turun dari mobil dan melangkah untuk membuka pintu mobil untuk Amira.


"Amira, maaf ya. Aku harus gendong kamu lagi."


Amira hanya mengangguk.


Sebenarnya Amira malu, harus berangkat kontrol sama kakak ipar. Apalagi tidak ada laki-laki lain selain Galih.


Amira tidak enak dengan para tetangga yang melihatnya. Kelihatan sekali kalau Farhan sudah tidak perduli lagi pada istri pertamanya.


Tetangga-tetangga dekat rumah Amira juga sudah pada tahu kalau sekarang Farhan punya istri dua. Walau waktu ijab kabul mereka tidak melihatnya. Karena Farhan menikah dengan Zia di rumah ibunya. Nyatanya kabar pernikahan Farhan dengan Zia sudah langsung menyebar luas.


Galih kemudian mengangkat tubuh Amira dan mendudukan Amira di atas kursi rodanya.


Laila tidak tinggal diam. Dia langsung mendorong Amira masuk ke dalam rumah.


Bisik-bisik tetangga sudah terdengar, sewaktu Laila, Galih dan Amira masuk ke dalam rumah.


"Amira itu dari mana sih sebenarnya. Kok dia pergi nggak sama suaminya, malah sama kakak iparnya," ucap salah satu ibu yang sedang berkerumun di dekat rumah Amira.


"Amira itu habis kontrol ke rumah sakit. Tapi dia sama kakak iparnya. Nggak sama suaminya," ucap salah satu ibu yang ada di sampingnya.


"Kemana sebenarnya ustaz Farhan itu. Kenapa dia nggak ikut ngantar kontrol."


"Ustaz Farhan itu sekarang pasti sedang senang-senang dengan istri barunya. Maklumlah pengantin baru. Ustaz Farhan juga udah beruntung banget dapatin gadis cantik seperti si Ziana. Paling juga seharian mereka nggak akan keluar rumah ups, keluar kamar maksudnya."


"Kasihan ya Amira. Udah ditinggal nikah lagi, ditinggal meninggal anaknya, sekarang dia cacat lagi. Dan sekarang, ustaz Farhan nggak memperdulikannya lagi."


"Pastilah, semua lelaki itu memang begitu. Kalau udah punya yang baru, yang lama pasti akan ditinggalkan,"


Setelah masuk rumah, Laila kemudian menutup pintu depan. Laila tidak mau perduli dengan gunjingan para tetangga.


Ih, ibu-ibu itu pasti lagi gosipin Abi dan Umi deh. Biarin aja lah. Dosa mereka sendiri yang nanggung. Bukan keluarga aku, batin Laila.


Laila kemudian masuk kembali ke ruang tengah untuk menghampiri ibu dan Padenya..


"Kalian mau makan baksonya?" tanya Galih pada Amira dan Laila.


"Mau dong Pade."

__ADS_1


"Aku siapin piring dulu ya. Kita nanti makan di meja makan."


"Iya Pade."


Galih kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil piring dan mangkuk. Setelah itu Galih menyajikan tiga bungkus bakso itu ke dalam mangkuk.


Setelah itu, Galuh memanggil Laila dan Amira untuk makan.


"Ayo, kita makan."


"Iya Pade."


Laila kemudian mendorong kursi roda Amira sampai ke ruang makan. Setelah Galih, Amira dan Laila berada di ruang makan, mereka kemudian makan bakso yang sudah mereka beli.


Di sela-sela makannya, Amira tiba-tiba saja teringat dengan Farhan. Amira tidak tahu di mana Farhan sekarang. Amira merasa heran dengan suaminya. Karena sampai saat ini saja hape Farhan tidak aktif.


Amira diam. Sejak tadi dia hanya bisa mengaduk-aduk makanannya saja.


Galih dan Laila merasa heran dengan Amira.


"Umi. Kenapa baksonya cuma di aduk-aduk begitu?" tanya Laila.


Amira yang ditanya hanya diam. Dia tampak tidak mendengar pertanyaan dari Laila.


Galih menatap Amira lekat.


"Eh, iya. Kenapa Mas?"


"Kamu lagi ngelamunin apa sih Amira? dari tadi diam aja, makanannya juga cuma di aduk-aduk begitu."


"Aku nggak apa-apa Mas. Aku cuma lagi ingat sama Mas Farhan aja. Sudah siang begini dia nggak ngabar-ngabarin juga."


"Mungkin hape Abi lupa di cas Umi. Makanya nggak aktif terus."


"Tapi tadi pagi aktif kok. Dan Zia yang nelpon aku. Dia nyuruh aku datang ke sini, dan ngantar kamu ke rumah sakit," ucap Galih menuturkan.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Jadi, yang nyuruh kamu datang ke sini, dan ngantar aku ke rumah sakit itu Zia? bukan Mas Farhan. Kenapa Mas Farhan nggak bicara langsung aja sama kamu. Aneh banget."


"Nggak tahu kalau itu Amira. Aku fikir, Farhan yang sudah menyuruh Zia untuk menelpon aku."


"Sebenarnya Abi kemana ya. Aku pengin deh, ke rumahnya Mbak Zia untuk melihat Abi. Aku pengin tahu, Abi ada di sana atau nggak."


Amira menatap anaknya tajam.

__ADS_1


"Nggak usah ke sana. Mau ngapain ke sana. Biarkan aja Abi kamu pulang sendiri."


Laila mengangguk.


"Iya Umi."


****


Jam dua siang, Farhan mengerjapkan matanya. Dia menatap ke sekeliling kamar. Farhan kemudian beringsut duduk.


"Ya Allah, kenapa kepala aku sakit banget," ucap Farhan sembari memegangi kepalanya yang masih terasa nyeri.


Farhan duduk di sisi ranjang. Dia akan turun dari tempat tidurnya. Namun kepala dan tubuhnya seakan sangat berat.


Entah kenapa sejak dia minum teh manis itu, mendadak tubuh Farhan jadi melemah. Otot-otot dan persendiannya semua jadi terasa kaku dan lemah. Untuk jalan aja terasa sulit.


"Kenapa tubuh aku jadi meriang gini ya. Padahal semalam aku nggak apa-apa," ucap Farhan sembari menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


Farhan kemudian bangkit dari duduknya. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Amira.


"Ya Allah, istriku. Pasti Amira lagi nungguin aku di rumah. Dan siapa yang udah ngantar Amira kontrol. Aku aja belum sempat telpon Mas Galih tadi pagi."


Farhan buru-buru melangkah pergi meninggalkan kamar Zia. Setelah itu dia keluar dari rumah Zia.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Zia yang saat ini ada di teras depan rumahnya.


"Aku harus pulang Zi."


"Mas, kamu belum makan siang. Makan dulu aja kalau mau pulang. Mumpung ada makanan di dalam. Kalau kamu pulang ke rumah Mbak Amira, belum tentu di sana ada makanan."


"Ngga apa-apa Zi. Aku udah kenyang. Aku mau langsung pulang aja."


Farhan kemudian buru-buru mendekati motornya. Dia naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumah Zia.


Beberapa saat kemudian, Farhan sudah sampai di depan rumah Amira.


Farhan terkejut saat melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah Amira.


"Lho, mobil siapa itu," ucap Farhan.


Farhan kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.


"Wa'alakiumsalam," jawaban salam sudah terdengar dari dalam rumah.

__ADS_1


Farhan melangkah masuk ke dalam. Sesampainya di ruang tengah, Farhan menghentikan langkahnya saat melihat Laila dan Amira ada di ruang tengah.


Amira dan Laila menatap Farhan bersamaan.


__ADS_2