Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Orang ke tiga


__ADS_3

Pagi ini, Galih sudah berada di dalam perjalanan ke rumah Amira. Sabtu pagi, dia libur kerja. Dan Bu Aminah menyuruh Galih untuk ke rumah Amira membawakan makanan.


Beberapa saat kemudian, motor Galih sudah sampai di depan rumah Amira. Galih tersenyum saat melihat Amira. Amira masih duduk di teras depan rumahnya. Dia masih berada di atas kursi rodanya.


Galih turun dari motornya. Setelah itu dia melepas helemnya dan berjalan mendekati Amira.


"Mas Galih, tumben pagi-pagi gini udah sampai sini," ucap Amira.


"Bagaimana kabar kamu Amira?" tanya Galih setelah dekat dengan Amira.


"Ya kamu bisa lihat sendiri Mas kondisi aku sekarang."


Galih tersenyum.


"Ya, kamu kelihatan sudah baikan."


"Iya Mas. Alhamdulillah. Leher aku juga sudah sembuh. Tinggal kaki aku aja."


"Yang sabar Amira. Aku yakin, kamu pasti akan cepat sembuh kok. Kamu sendirian aja?" tanya Galih.


Amira mengangguk.


"Iya Mas," jawab Amira singkat.


"Farhan mana?"


"Dia kan lagi ngajar Mas Mas Galih lupa ya."


"Oh, iya Mir. Aku sampai lupa. Dan Laila dia sekolah?" tanya Galih lagi.


Amira mengangguk.


"Iya Mas. Dan Novi juga udah berangkat ke kampus tadi," jelas Amira.


"Oh... aku bawa makanan buat kamu Amira."


"Makanan apa Mas?"


"Tadi ibu nyuruh aku ke sini, untuk bawain kamu kue, nasi dan lauk."


"Kok, kamu cuma sendiri Mas? ibu nggak sekalian aja di ajak?"


"Nggak Amira. Ibu nggak mau diajak ke sini. Katanya dia lagi kurang enak badan. Mungkin dia capek. Bangun-bangun dia langsung masak banyak. Eh tak tahunya, dia mau ngasih makanan itu untuk kamu. Tapi dia nggak mau aku ajak ke sini, katanya dia capek. Ya udah, aku ke sini sendiri."


"Alhamdulillah kalau gitu. Aku jadi kangen sama ibu. Andai saja aku udah sembuh, pasti aku udah main ke rumah ibu lagi."

__ADS_1


"Iya Amira. Aku ambil dulu ya makanannya."


Galih kemudian berjalan untuk mengambil kantong yang berisi makanan yang tergantung di atas motornya. Setelah itu dia mendekat lagi ke arah Amira dengan membawa kantong itu.


"Ini Amira."


"Taruh di dalam aja Mas. Aku lagi pengin di sini dulu."


"Oh, baiklah."


Galih masuk ke dalam rumah Amira dengan membawa oleh-oleh yang dia bawa. Setelah meletakkan makanan itu di dapur, Galih kemudian keluar lagi dan menemui Amira di teras depan.


"Kamu nggak mau masuk ke dalam Amira?" tanya Galih.


Amira menggeleng.


"Nggak Mas. Aku mau di sini saja. Kalau Mas Galih masih ingin ngobrol sama aku, ya duduk aja Mas, di situ," ucap Amira mempersilahkan Galih duduk.


Galih kemudian duduk di kursi yang ada di dekat Amira duduk. Setelah itu dia menatap Amira lekat.


"Amira, bagaimana keadaan rumah tangga kamu? apakah baik-baik saja?" tanya Galih tiba-tiba.


Amira tidak tahu, kenapa Galih tiba-tiba saja menanyakan soal hal itu.


"Hubungan aku dan Mas Farhan baik-baik aja kok Mas,," jawab Amira.


Amira diam. Jika ditanya soal keadilan, Amira tidak tahu, akan menjawab apa. Tapi dalam hatinya, Amira sedih jika harus ditanya soal hal itu.


Amira tidak tahu, apa maksud kakak iparnya menanyakan hal demikian. Hal yang sangat tabu untuk dibahas dengan kakak iparnya.


"Mas Galih kenapa harus menanyakan soal itu?" tanya Amira.


"Amira, kenapa kamu malah balik nanya. Aku kan lagi nanya sama kamu. Itu bukan jawaban Amira. Sebenarnya kamu bahagia nggak sih, dengan pernikahan kamu dengan Farhan sekarang?"


"Aku..." Amira menggantungkan ucapannya. Dia bingung untuk menjawab apa. Dia tidak tahu dengan perasaannya yang sekarang, dia bahagia atau tidak dengan rumah tangganya yang sekarang.


"Amira, jika kamu nggak bahagia dengan pernikahan kamu dengan Farhan, hentikan saja pernikahan kalian," ucap Galih.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Apa! dihentikan? maksud Mas Galih apa?"


"Kalau Farhan sudah tidak bisa adil pada kamu dan dia lebih mementingkan Zia dari pada kamu, kamu gugat cerai saja Farhan." Galih mengusulkan.


"Apa! kenapa Mas Galih bisa bicara seperti itu? Mas Galih ingin aku cerai?"

__ADS_1


"Bukan begitu Amira. Aku cuma nggak tega aja sama kamu. Aku nggak mau melihat kamu terluka dan tersakiti."


Amira diam. Dia tampak berfikir.


Sebenarnya aku juga tidak pernah melihat keadilan dalam diri Mas Farhan. Karena dia lebih mementingkan urusan Zia dari pada urusanku. Tapi aku ingin memberikan kesempatan Mas Farhan sampai kaki aku sembuh. Jika aku sembuh, Mas Farhan tidak bisa berubah dan tetap mementingkan Zia, aku akan gugat cerai dia. Untuk sekarang, aku masih ingin melihat keadilan Mas Farhan. Dan aku juga masih belum siap untuk bercerai karena Laila. Laila tidak ingin aku bercerai dengan Abinya, batin Amira.


Galih menatap Amira lekat. Walau Amira tidak banyak bicara, tapi Galih bisa membaca jalan fikiran Amira. Amira sepertinya sedih saat ditanya soal hal itu.


Walau Amira tidak mau menjawab apapun dari pertanyaan Galih, tapi Galih tahu apa yang ada di dalam fikiran wanita itu.


Amira pasti sekarang sedih karena Farhan harus berbagi kasih sayang dengan wanita lain, apalagi dia dalam keadaan lumpuh.


"Amira, kenapa kamu diam aja Amira? katakan sesuatu dong. Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaan kamu, setelah Farhan adik aku, membagi cinta dan kasih sayangnya untuk wanita lain."


Amira meneteskan air matanya. Namun dia buru-buru mengusapnya kasar.


"Mas Galih. Seharusnya, Mas jangan tanyakan soal ini ke aku. Seharusnya Mas jangan ikut campur rumah tanggaku dengan Mas Farhan. Biarkan aku dan Mas Farhan yang menyelesaikan urusan rumah tangga kami sendiri Mas."


"Amira, aku bukannya ikut campur. Tapi aku cuma kasihan sama kamu Amira. Kamu sudah sakit seperti ini, dan kamu harus berbagi suami dengan wanita lain. Seandainya aku jadi Farhan, aku tidak akan pernah melukai wanita yang aku cintai dengan menikah dengan wanita lain. "


Amira menatap Galih tajam.


"Mas, Mas Galih itu jangan sok menasihati aku dan Mas Farhan. Mas Galih itu tidak lebih baik dari Mas Farhan. Lihatlah, hubungan rumah tangganya Mas Galih. Mas Galih dan istri juga berantakan kan? karena Mas Galih tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istrinya."


"Amira, kenapa harus ungkit lagi masalah aku dengan istri ku? kamu tidak tahu masalah aku dengan istriku yang sebenarnya, jadi kamu jangan sok tahu."


Galih diam. Dia tampak marah dengan ucapan Amira.


"Aku paling benci dengan kebohongan dan pengkhianatan," ucap Galih.


Amira menatap Galih lekat.


Galih sudah mengepalkan tangannya geram dengan rahangnya yang sudah mulai mengeras.


"Aku lelaki. Aku masih bisa berdiri dan hidup tanpa wanita. Aku cerai dari istriku, bukan karena istriku yang tidak mau di ajak ke kampung. Tapi istriku..."


Galih meneteskan air matanya, yang langsung di usap dengan telapak tangannya kasar.


"Ya, aku tahu ini semua sudah kehendak Tuhan. Jodohku dengan istriku tidak lama, karena ada orang ke tiga dalam kehidupan rumah tangga kami yang membuat hubungan kami hancur."


Deg.


Amira terkejut dengan ucapan Galih. Ada rasa penasaran yang besar pada diri Amira untuk tahu lebih jauh lagi, masalah apa yang sebenernya kakak iparnya itu pendam.


"Mas, sepertinya kamu sangat sedih, jika ingat dengan mantan istri kamu. Apa sebelum cerai kalian pernah punya masalah yang besar?"

__ADS_1


Amira tidak tahu, siapa orang ke tiga yang Galih maksudkan.


__ADS_2