Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kebaikan hati Galih


__ADS_3

"Wa'alakiumsalam," ucapan salam sudah terdengar dari dalam rumah Bu Aminah.


Bu Aminah buru-buru berjalan ke depan untuk membuka pintu rumahnya.


Dia tersenyum saat melihat Zia dan Farhan sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Farhan, Zia. Kalian pagi-pagi gini sudah sampai sini. Ayo masuk!" pinta Bu Aminah mempersilahkan Farhan dan Zia masuk.


Zia dan Farhan kemudian masuk ke dalam rumah Bu Aminah. Mereka berjalan ke ruang tengah mengikuti langkah Bu Aminah.


"Ibu fikir, kalian akan sampai nanti sore. Ternyata pagi-pagi gini kalian udah nyampe sini," ucap Bu Aminah.


"Aku memang sengaja Bu, bawa Zia pagi-pagi ke sini. Biar aku nggak capek bolak-balik. Kalau Zia sudah ada di sini kan, setelah ngajar aku bisa langsung pulang ke sini," ucap Farhan.


Bu Aminah, Zia dan Farhan kemudian duduk di ruang tengah.


Bu Aminah menatap tas baju yang dibawa Farhan.


"Duh Farhan, maafkan ibu ya. Ibu belum beresin kamar untuk kalian, ibu fikir kalian akan datang nanti sore, " ucap Bu Aminah.


"Nggak apa-apa Bu. Nggak usah di beresin. Biar nanti Farhan aja yang beresin setelah pulang ngajar," ucap Farhan.


"Iya deh. Terserah kamu dan Zia sekarang mah. Ibu nggak pernah kok, melarang kalian untuk tinggal di sini. Bagaimanapun juga, kamu itu anak ibu Farhan. Ibu tidak akan pernah membeda-bedakan kamu dengan Galih."


"Iya Bu. Makasih ya Bu. Aku bawa Zia ke sini, cuma ingin agar Zia punya teman. Ibu kan tahu, Zia baru saja ditinggal kakeknya. Dia nggak punya teman di rumah itu. Apalagi kondisi Zia sekarang kan sedang hamil. Kalau ada ibu kan mending kalau ada apa-apa sama Zia, aku nggak terlalu khawatir."


"Iya. Ibu tahu itu Farhan."


"Ya ibu kan tahu. Aku punya dua istri. Kalau jadwal aku ada di rumah Amira, nggak mungkin kan, aku ajak Zia tinggal satu rumah bersama Amira. Mending aku tinggal Zia aja di sini."


"Iya. Ibu ngerti Farhan."


***


Sore ini, Galih masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Galih menghentikan motornya saat dia sampai ke tempat tukang martabak yang ada di pinggir jalan.


Galih turun dari motornya dan mendekat ke arah tukang martabak itu.


"Mas, minta lima bungkus Mas," ucap Galih pada mas mas tukang martabak yang ada di pinggir jalan.


Setelah Galih membeli martabak, Galih juga membeli bakso yang kebetulan tukang baksonya ada di samping orang yang jualan martabak.


Galih membeli lima bungkus martabak dan lima bungkus bakso. Sepertinya dia akan memberikan martabak dan bakso itu untuk seseorang.


Setelah Galih membeli martabak dan bakso, Galih kemudian meluncur ke arah rumah Amira.


"Laila kan suka bakso. Kasihan ponakan aku, ayahnya sudah nggak mau memperhatikannya lagi. Kalau bukan aku, lalu siapa yang akan memperhatikan Laila. Aku kan cuma saudara satu-satunya yang Farhan punya," ucap Galih di sela-sela mengendarai motornya.


Setelah sampai di depan rumah Amira, Galih turun dari motornya. Dia kemudian berjalan ke teras depan rumah Amira.


Setelah itu Galih memberi salam dan langsung mengetuk pintu.


Beberapa saat kemudian, Novi membuka pintu rumah. Dia tersenyum saat melihat Galih.


"Eh, Mas Galih toh ternyata. Aku fikir Mas Farhan," ucap Novi sembari melebarkan senyum.


"Emang Farhan nggak ada di rumah sekarang. Apa dia lagi ada di rumah Zia?" tanya Galih pada Novi.

__ADS_1


"Mas Galih nggak tahu, Mas Farhan dan istri barunya kan sudah boyong ke rumah Mas Galih."


Galih terkejut saat mendengar ucapan Novi.


"Apa! boyong? ke rumah aku? dari mana kamu tahu soal itu Nov?"


"Kan tadi pagi Mas Farhan sama Zia ke sini. Mereka ngambil mangga muda di depan. Dan mereka membawa tas baju. Sepertinya sekarang mereka sudah tinggal di sana."


"Jangan bilang, kalau Farhan sekarang ada di rumah aku."


"Iya. Sepertinya Mas Farhan ada di rumah Mas Galih. Orang dari tadi pagi, Mas Farhan belum pulang ke sini."


"Oh, ya udahlah. Lupain Farhan. Aku ke sini mau ketemu sama Laila."


"Laila nya kan lagi ngaji Mas. Adanya cuma Mbak Amira di dalam. Ada apa Mas?" tanya Novi.


"Aku cuma mau bawain ini. buat Amira dan Laila."


Novi menatap beberapa bungkus plastik bawaan Galih.


"Apa itu Mas?" tanya Novi.


"Ini bakso sama martabak buat Laila."


"Masuk aja yuk Mas. Mbak Amira nya ada di dalam kok," ucap Novi.


"Iya Nov."


Galih kemudian masuk mengikuti langkah Novi. Sesampainya di ruang tengah, Galih dan Novi menghentikan langkahnya.


Amira terkejut saat melihat Galih. Dia fikir, yang datang itu suaminya. Ternyata kakak iparnya.


"Mas Galih, dari mana aja Mas?"


"Nggak dari mana-mana Amira. Aku baru pulang kerja. Terus aku langsung ke sini. Aku ingin ketemu sama Laila."


"Oh. Duduk Mas."


Galih tersenyum. "Iya Amira."


Setelah Amira mempersilahkannya duduk, Galih kemudian duduk di atas sofa ruang tengah.


"Nov, ambilkan minum Nov!" pinta Amira.


"Nggak usah Nov. Aku cuma mau sebentar kok," ucap Galih menatap Novi lekat.


"Oh, ya udah. Silahkan kalian berdua ngobrol. Aku mau ke warung dulu sebentar. Ada sesuatu yang mau aku beli," ucap Novi.


Novi kemudian pergi meninggalkan Amira dan Galih.


Amira menatap ke atas meja. Barang-barang bawaan Galih sudah Galih letakan di atas meja.


"Apa itu Mas?" tanya Amira.


"Itu bakso sama martabak. Buat kamu, Novi dan Laila," jawab Galih.


Amira menatap Galih lekat.

__ADS_1


"Duh repot-repot banget sih Mas. Pakai acara bawa-bawa makanan segala."


"Nggak apa-apa, untuk Laila. Kasihan dia."


"Makasih banyak ya Mas. Kamu udah gajian ya?" tanya Amira


"Ya alhamdulillah Mir."


Galih dan Amira saling melempar senyum.


"Amira, kapan kamu kontrol lagi?" tanya Galih.


Amira mengedikan bahunya.


"Nggak tahu Mas."


"Terserah Mas Farhan aja sih kalau aku mah. Kalau ada duit ya, nanti kontrol. Kalau nggak ada ya, udah sebulan sekali juga nggak apa-apa kontrolnya," lanjut Amira.


Galih terkejut saat mendengar jawaban Amira.


"Lho kok gitu sih. Emang dokter menyarankan begitu?"


Amira menggeleng.


"Nggak juga sih Mas. Kata dokter sih, kalau aku pengin cepat sembuh, aku di suruh ke rumah sakit seminggu sekali. Sekalian nebus obat. Karena kata dokter, kalau aku minum obat itu dengan teratur, aku akan cepat sembuh. "


"Ya udah, kalau kata dokter seperti itu, ya kamu lakukan dong saran dokter. Jangan mikirin biaya."


"Tapi Mas. Sekarang Mas Farhan kan udah nggak fokus sama aku. Dia cuma ngurusin Zia aja. Apalagi sekarang Zia udah hamil. Dia pasti lupa sama jadwal aku kontrol."


"Emang Farhan bilang apa sama kamu? dia nggak punya duit untuk bawa kamu ke rumah sakit?"


"Yah, begitulah Mas. Bayar sekolahnya Laila aja udah telat satu bulan," ucap Amira.


"Ya udah, kalau Farhan nggak mau tanggung jawab dengan kesembuhan kamu, biar aku aja yang tanggung jawab. Karena bagaimanapun juga, aku yang menjadi penyebab kamu seperti ini. Jujur, aku prihatin melihat kondisi kamu seperti ini Amira. Aku jadi merasa bersalah sama kamu kalau seperti ini."


Galih mengambil dompetnya. Setelah itu dia menyodorkan beberapa lembar uang ratusan untuk Amira.


"Ini, buat kamu."


Amira membelalakkan matanya saat melihat uang itu.


"Apa ini Mas?"


"Ini buat kamu. Buat kebutuhan hidup kamu. Aku tahu adik aku itu lelaki yang tidak bertanggung jawab. Terimalah Amira uang ini."


"Tapi Mas. Aku nggak mau Mas. Ini uang terlalu banyak untuk aku."


"Amira, ini uang dua setengah juta. Separuh dari gaji aku. Aku ikhlas membantu kamu dan Laila. Terimalah Amira. Terserah uang ini mau kamu pakai untuk apa. Untuk bayar sekolah atau untuk berobat kamu "


"Tapi Mas. Aku cuma lagi curhat aja sama kamu. Nggak ada maksud untuk minta uang dari kamu." Amira masih tidak enak menerima uang dari Galih secara cuma-cuma.


Galih meraih tangan Amira. Setelah itu dia meletakan uang itu di atas telapak tangan Amira.


"Ambilah. Anggap aku kakak kandung kamu sendiri. Jangan malu-malu, untuk menerima pemberian dariku. aku melakukan semua ini untuk ponakan aku juga. Aku sayang sama Laila," ucap Galih.


Aku juga sayang sama kamu Amira, lanjut Galih dalam hati.

__ADS_1


Amira dan Galih sesaat saling menatap.


"Umi, Pade," ucap Laila mengejutkan Galih dan Amira. Mereka kemudian menatap Laila bersamaan.


__ADS_2