Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Kemarahan Amira


__ADS_3

Setelah Galih pergi, Amira menatap Laila lekat.


"Laila, antar Umi ke kamar. Umi mau istirahat," ucap Amira.


Laila mengangguk.


"Iya Umi," ucap Laila.


Laila kemudian mendekat ke arah ibunya dan mendorong kursi roda ibunya sampai masuk ke dalam kamar.


"Abi...! Abi...!" seru Laila.


Farhan yang dipanggil, buru-buru masuk ke dalam kamar Amira.


"Ada apa La?" tanya Farhan.


"Umi mau naik ke atas tempat tidur. Tolong bantuin Umi dong untuk naik ke ranjang," ucap Laila.


Farhan tersenyum.


"Umi mau Abi gendong? kenapa Umi nggak bilang sama Abi kalau Umi mau ke kamar. Kenapa Umi malah nyuruh Laila. Kan ada Abi," ucap Farhan pada Amira.


Amira hanya diam saat mendengar ucapan Farhan. Tanpa butuh waktu lama, Fathan kemudian menggendong istrinya dan membawa Amira ke tempat tidur.


"Mi, sekarang kan ada Abi. Laila ke kamar dulu ya. Kalau mau apa-apa kan udah ada Abi," ucap Laila


"Iya La. Kamu istirahat aja sana."


"Iya Mi."


Laila kemudian pergi meninggalkan Amira dan Farhan di kamar mereka.


Setelah Laila pergi, Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mengunci pintu kamarnya.


"Mau ngapain di kunci-kunci segala?'" tanya Amira.


"Abi mau temani Umi. Umi udah minum obat belum?"


"Udah tadi sama Mas Galih."


Farhan menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia kemudian duduk di sisi Amira.


"Kamu gerah ya? kamu nggak mau buka jilbabnya?" tanya Farhan.


"Untuk apa Bi?"


"Aku lagi kangen sama kamu Amira. Sejak kamu sakit, kita nggak pernah ngapa-ngapain. Sebenarnya aku kangen sama aku. Aku ingin peluk kamu," ucap Farhan.


Amira bukan semakin bahagia, dia malah semakin jijik saja sama Farhan. Padahal sebelumnya Amira sudah ikhlas berbagi suami.


Namun sejak Farhan lebih mengutamakan Zia, Amira jadi tidak nyaman berada di dekat Farhan. Dia merasa kesal, jengkel, muak, semua rasa bercampur menjadi satu di hatinya saat ini.


"Amira, aku tidak punya niat untuk menyakiti kamu. Sebenarnya aku ingin berusaha adil untuk membagi waktuku untuk kamu dan Zia," ucap Farhan menatap manik mata Amira dengan lekat.

__ADS_1


Mata Amira sudah mulai berkaca-kaca. Dia sebenarnya ingin menangis sejak tadi. Tapi dia tahan untuk tidak menangis di depan Galih dan Laila.


Hati Amira sebenarnya sudah merasa sangat sakit dan kesal. Ingin sekali rasanya dia memaki-maki suaminya yang sekarang ada di depannya.


Namun sejak tadi, Amira masih bisa menahan emosinya. Walau bagaimanapun juga, Amira masih menghormati Farhan sebagai suaminya. Dan Amira tahu, kalau melawan suami itu dosa besar. Jadi sebisa mungkin dia untuk tidak berani pada Farhan.


Farhan meraih tangan Amira dan mengecupnya berkali-kali.


"Umi sayang, maafin Abi ya. Abi cinta sama Umi. Abi nggak mau kehilangan Umi," ucap Farhan.


Farhan terkejut saat tiba-tiba saja Amira menghempaskan tangannya begitu saja.


"Nggak usah banyak drama Mas. Aku nggak suka," ucap Amira.


"Maksud kamu apa Amira?" tanya Farhan tidak mengerti.


"Aku benar-benar lelah sama kamu Mas. Belum ada sebulan kamu nikah sama Zia. Tapi kamu sudah berubah."


"Berubah gimana Amira. Aku masih ada di sini untuk kamu. Aku nggak pernah pergi tinggalin kamu."


Amira tiba-tiba saja meneteskan air matanya.


"Bisa nggak Mas kamu keluar dari kamar aku? aku lelah Mas, aku ingin istirahat,"


Farhan mengerti apa yang sedang Amira rasakan. Sudah lima belas tahun Farhan mengenal istrinya. Dia sudah tahu luar dalam Amira.


Farhan tahu kalau saat ini Amira sedang marah padanya. Dari raut wajah Amira, Farhan pun sudah bisa membaca kalau istrinya saat ini sedang marah padanya. Farhan tidak mau memaksa Amira lagi.


"Ya udah Amira. Kalau kamu mau istirahat. Aku akan keluar," ucap Farhan.


"Ya udah, sekarang aku bantu kamu berbaring."


Farhan kemudian membantu Amira untuk berbaring. Setelah itu dia keluar meninggalkan Amira sendiri di dalam kamarnya.


Amira memejamkan matanya. Dia sangat lelah saat ini. Dia juga sudah sangat mengantuk setelah minum obat.


Amira kemudian terlelap sendiri di atas tempat tidurnya. Sementara Farhan pergi ke kamar mandi untuk mandi.


****


Pagi ini, Farhan sudah sampai di sekolah tempatnya ngajar. Sejak Amira sakit, Farhan sudah tidak efektif lagi berangkat ngajar. Dia lebih banyak bolos dari pada berangkat.


Farhan berjalan ke ruang guru. Sesampainya di sana, Farhan menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


Seorang guru wanita menghampiri Farhan.


"Pak Farhan, dipanggil Pak kepala sekolah tuh di ruangannya," ucap Bu Wiwi.


"Mau ngapain Bu?"


"Saya juga kurang tahu."


"Ya udah, saya ke sana sekarang."

__ADS_1


Farhan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah untuk ke ruang kepala sekolah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


"Silahkan duduk Pak Farhan." Kepala sekolah kemudian mempersilahkan Farhan duduk.


Farhan kemudian duduk di depan kepala sekolah.


"Maaf Pak, ada apa bapak memanggil saya?" tanya Farhan.


"Saya cuma mau tanya, kemarin bapak kenapa tidak masuk lagi tanpa izin?" tanya kepala sekolah.


"Oh, saya lagi nggak enak badan Pak. Dan maaf, kalau saya tidak pakai surat dokter," ucap Farhan.


"Saya cuma mau memberikan surat ini untuk Pak Farhan," ucap kepala sekolah sembari menyodorkan selembar kertas pada Farhan.


Farhan membaca surat itu dengan perlahan.


"Apa! mutasi? jadi saya mau di mutasi Pak?"


Kepala sekolah mengangguk.


"Iya. Pak Farhan sudah baca kan surat itu."


Duh, kenapa aku harus di pindah jauh seperti ini ngajarnya . Apa karena aku sering bolos, jadi aku di pindah kerjanya. Ini sekolah sih, lebih dekat dengan rumah ibuku. Dan jauh dari rumah istri-istriku," batin Farhan.


"Ya udah Pak kalau begitu. Saya sih, nurut aja. Apa keputusan dari sekolah."


"Iya Pak Farhan. Semoga kedepannya bapak bisa lebih rajin lagi ya kerjanya."


"Iya Pak."


Farhan kemudian berjabat tangan dengan kepala sekolah sebelum dia pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak"


"Iya Pak Farhan."


Farhan kemudian melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah. Setelah sampai di ruang guru, dia bertemu dengan Bu Wiwi lagi.


"Pak Farhan, bagaimana? kepala sekolah bilang apa tadi?'" tanya Bu Wiwi penasaran.


"Saya di mutasi."


"Oh Pak Farhan mau di pindahkan kemana?" tanya Bu Wiwi.


"Ini..." Farhan menunjukan surat kepada Bu Wiwi.


Bu Wiwi membaca surat yang berisikan kepindahan Farhan ke suatu sekolah yang sedikit jauh dari sekolah itu.


"Oh... lumayan jauh Pak dari rumah bapak."

__ADS_1


"Iya. Nggak tahu, kenapa aku tiba-tiba di pindah. Nggak ada pemberitahuan sebelumnya. Tiba-tiba aja aku dipindahkan begini. Padahal aku sudah nyaman ngajar di sini."


"Sabar Pak. Kita itu cuma guru honor dan belum jadi PNS. Kita turuti aja apa keinginan pihak sekolah. PNS aja bisa di pindah, apalagi kita. Semoga, Pak Farhan betah nanti ngajar di sekolah baru."


__ADS_2