Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira
Siuman


__ADS_3

Galih dan Amira saat ini sudah berada di ruang tamu. Mereka masih tampak bercakap-cakap di ruang tamu.


"Tadi cowok siapa?" tanya Galih pada Amira.


Tampaknya Galih masih penasaran dengan lelaki yang tadi keluar dari rumah Amira. Galih masih berfikir, kalau lelaki yang bernama Dion itu calon suaminya Amira.


"Itu Mas Dion. Gebetannya Novi," jawab Amira.


"Gebetan?" Galih terkejut saat mendengar jawaban dari Amira. Ternyata dugaan Galih sejak tadi salah.


"Iya. Cowok yang ditaksir adik aku." Amira memperjelas ucapannya.


"Oh, aku fikir dia calon suami kamu," ucap Galih.


"Bukan Mas. Bagaimana bisa kamu mikir seperti itu? aku aja belum resmi cerai dari Mas Farhan. Mana bisa aku nikah lagi sama lelaki lain, selama masa iddah ku belum berakhir."


"Tadi cowok sepertinya suka sama kamu Amira. Tatapannya ke kamu beda."


"Dulu dia memang suka sama aku. Tapi aku udah pernah nolak dia. Nggak mungkinlah aku mau sama dia. Dan tentang perasaan dia ke aku, aku nggak tahu dia masih punya rasa atau nggak sama aku. Dia juga sekarang duda, sama seperti kamu," jelas Amira.


"Oh, menurut aku, dia terlalu dewasa untuk adik kamu."


"Entahlah, aku nggak bisa menilai dia. Tapi sejauh ini yang aku lihat, dia baik sama keluarga aku. Dia tadi ke sini juga cuma mau bertamu aja. Tapi Novi sekarang lagi nggak ada di rumah. Jadi dia buru-buru pulang tadi. Biasanya kalau ada Novi, Mas Dion akan lama mainnya. Karena dia lebih banyak ngobrol dengan Novi."


"Emang Novi kemana?" tanya Galih.


"Dia belum pulang Mas. Tadi sih dia pamitnya mau pergi ke rumah teman."


"Oh." Galih manggut-manggut mengerti.


"Oh iya Mas. Sudah lama aku nggak pernah dengar kabar Zia dan Mas Farhan. Bagaimana kabar mereka?" tanya Amira


Galih tersenyum.


"Kamu ini memang wanita yang baik Amira. Seharusnya Farhan itu menyesal karena sudah menyia-nyiakan istri sebaik kamu. Walau pun kamu sudah disakiti dan tidak diberi keadilan, tapi kamu masih mau tanya kabar tentang mereka."


"Yah, bagaimana ya Mas. Walau bagaimanapun juga, Mas Farhan itu kan ayahnya Laila. Dan seorang ayah, selamanya akan menjadi ayah. Tidak ada yang namanya mantan ayah. Jadi walau pun nanti aku sudah cerai dengan Mas Farhan, aku masih tetap kok, mengizinkan Mas Farhan untuk ketemu Laila."


Galih diam. Dia kemudian menatap Amira lekat.


"Amira, ada hal penting yang harus kamu tahu dari Farhan dan Zia," ucap Galih yang sudah mulai serius.


Amira mengerutkan keningnya.


"Apa Mas? hal penting apa?" tanya Amira.


"Zia udah melahirkan Amira,' jawab Galih.


Amira terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Apa! Zia udah melahirkan? apa jenis kelamin bayinya?" tanya Amira penasaran.


"Lelaki Amira," jawab Galih singkat.


Amira menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Syukurlah kalau dia sudah melahirkan. Aku ikut bahagia dengarnya."


"Tapi..."


"Tapi apa Mas?" tanya Amira.


"Zia sekarang sedang koma Amira."


Amira kembali terkejut saat mendengar ucapan Galih.


"Apa! koma? Zia koma? kok bisa Mas?"


"Entahlah, lima hari yang lalu dia lahiran sesar karena bayinya sungsang. Dan setelah operasi, Amira langsung kritis dan sekarang dia koma dan masih berada di ruang ICU," jelas Galih.


"Astaghfirullahaladzim, ya Allah. Kenapa bisa begini Mas."


"Mungkin udah jalannya seperti ini Amira. Dan kataya sih, bayi Farhan itu sakit kelainan jantung. Entah seperti apa kelainan jantung itu."


"Padahal menurut perhitungan, Zia itu melahirkan seharusnya bulan depan ya. Kan usia kandungannya sekarang baru delapan bulan," ucap Amira. Dia masih tidak menyangka kalau Zia bisa melahirkan secepat itu," ucap Amira.


"Iya. Bayinya juga prematur. Yang lebih menyedihkan lagi, bayi itu tidak bisa menyusu pada ibunya karena ibunya koma," ucap Galih menimpali.


"Ya Allah, kasihan banget ya, hidup Zia. Dia sudah tidak punya siapa-siapa dan sekarang dia malah bernasib seperti ini. Seandainya aku udah bisa pergi jauh-jauh, ingin juga aku jengukin Zia ke rumah sakit. Aku prihatin sama kondisi Zia dan bayinya"


"Subhanallah, kamu itu memang wanita yang baik Amira."


"Sudahlah Mas, perasaan dari tadi kamu muji-muji aku terus."


"Ya nggak apa-apa lah. Aku cuma kagum aja sama kamu Amira. Farhan pasti akan menyesal setelah dia cerai sama kamu."


"Duh, kenapa repot-repot banget Laila."


"Nggak apa-apa Pade. Pade kan nggak pernah main ke sini," ucap Laila sembari meletakan dua cangkir teh manis itu di atas meja.


Setelah itu Laila duduk di dekat Uminya.


"Bagaimana kabar kamu La?" tanya Galih.


"Yah, seperti apa yang Pade lihat."


Galih tersenyum. Sepertinya sekarang Laila sudah terbiasa tanpa ayahnya. Dia terlihat bahagia dan sama sekali tidak menanyakan soal Farhan. Biasanya setiap Padenya datang, dia selalu menanyakan ayahnya.


"Maafin Pade ya, karena Pade baru bisa datang ke sini jengukin kamu."


"Nggak apa-apa kok Pade."


****


Malam ini, seorang suster masuk ke dalam ruangan Zia untuk memeriksa kondisi Zia.


Suter itu terkejut saat melihat jari-jari Zia bergerak-gerak.


"Lho, Bu Zia kok udah bisa menggerakkan jari-jarinya. Apa jangan-jangan ini pertanda baik," ucap suster.


Suster kemudian berjalan pergi untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dokter dan suster itu masuk ke dalam ruangan Zia untuk memeriksa kondisi Zia.


Zia mengerjapkan matanya. Dia menatap dokter dan suster bergantian.


"Mas Farhan..." ucap Zia dengan suara lirih.


Setelah dokter memeriksa Zia, dokter menatap suster.


"Sus, tolong Sus. Panggilkan keluarga pasien!" pinta dokter.


"Baik Dok."


Suster itu kemudian berjalan pergi keluar untuk memanggil keluarga Zia di luar.


"Dengan keluarga Bu Zia," ucap suster.


Bu Aminah buru-buru berjalan mendekati suster.


"Saya mertuanya Sus."


"Bu, Bu Zia sudah sadar. Dia sangat membutuhkan ibu sekarang."


"Apa! Zia sudah sadar?"


"Iya Bu."


"Alhamdulillah, akhirnya dia sadar juga."


"Ibu bisa masuk ke dalam dan temani dia. Tadi dia sepertinya memanggil-manggil suaminya."


"Suaminya lagi pergi Sus."


"Oh begitu. Silahkan Bu kalau mau masuk."


"Iya Sus. Makasih banyak ya Sus."


Bu Aminah kemudian buru-buru masuk ke dalam ruangan Zia untuk melihat kondisi Zia.


"Zia.." ucap Bu Aminah sembari mendekati Zia.


Zia menatap Bu Aminah lekat.


"Mas Farhan..."


"Farhan lagi pergi ke pesantren Zi. Mungkin dia besok baru bisa pulang," jelas Bu Aminah.


"I...Bu. Bayi aku..."


"Bayi kamu ada kok Zi. Dia ada di ruangan bayi sama suster. Dan Farhan juga belum pulang. Dia kemarin pergi. Katanya dia mau ke pesantren."


"Ke pesantren?"


"Iya. Farhan tadi pagi udah berangkat ke pesantren naik kereta. Katanya istri kyainya meninggal."


"Oh..."

__ADS_1


***


__ADS_2