
Setelah kedatangan Gus Farid sore tadi, Pak Husen mengajak Gus Farid untuk ke rumah Amira yang ada di dekat masjid.
Karena tidak mungkin Pak Husen mengajak Gus Farid menginap di rumahnya. Karena bisa menimbulkan fitnah. Karena Pak Husen punya dua anak gadis dan cucu yang masih gadis. Tidak mungkin untuk dia membawa lelaki yang bukan mahramnya menginap di rumahnya. Gus juga sangat tahu akan hal itu.
"Gus, untuk sementara, Gus bisa tinggal di rumah ini dulu Gus," ucap Pak Husen setelah membuka pintu rumah Amira.
"Iya Pak Husen," ucap Gus Farid.
Pak Husen dan Gus Farid kemudian masuk ke dalam rumah yang sudah dua bulan di kosongkan, karena sang pengontrak rumah sudah pindah rumah.
"Rumah ini letaknya kan dekat dengan masjid. Dan setiap sore juga ada ustadz yang ngajar di mesjid. Gus bisa ikut bergabung di mesjid. Kalau Amira sekarang sih, jarang di rumah, karena kebanyakan dia berada di toko," ucap Pak Husen menjelaskan.
"Oh… Amira punya toko sendiri?" tanya Gus Farid.
"Iya Gus. Amira itu wanita yang mandiri. Sejak bercerai dengan suaminya, saya sudah modalin Amira untuk buka toko. Dan alhamdulilah, tokonya semakin maju."
"Alhamdulillah ya kalau begitu."
"Ayo Gus, kita duduk dan ngobrol-ngobrol dulu di sini," ucap Pak Husen mempersilahkan Gus Farid untuk duduk.
Pak Husen kemudian duduk di sofa ruang tamu. Begitu juga dengan Gus Farid. Dia juga ikut duduk di dekat Pak Husen.
"Tampaknya Gus sangat lelah. Kalau mau istirahat, istirahat aja Gus," ucap Pak Husen menatap Gus Farid lekat.
"Nanti saja Pak. Ini aja baru isya. Saya ingin ngobrol-ngobrol dulu dengan bapak. Tidak apa-apa kan Pak?"
"Oh, iya. Tidak apa-apa."
Gus Farid dan Pak Husen sejenak saling diam. Gus Farid kemudian menatap Pak Husen lekat.
"Laila itu anaknya Amira?" tanya Gus Farid.
"Iya," jawab Pak Husen.
"Dia kelas berapa?"
"Mau lulus SMP. Tahun ini mau masuk SMA."
"Masih kecil ya, kalau sudah besar mah alangkah baiknya, Laila saja yang dijodohkan dengan saya, jangan ibunya," celetuk Gus yang membuat Pak Husen terkejut.
"Oh hehe… Gus bisa aja bercandanya. Kalau mau yang lebih muda mah, Novi juga ada."
"Dari pada Novi, saya lebih suka dengan Amira."
Pak Husen hanya bisa senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Gus Farid. Gus Farid kelihatannya pendiam. Namun ternyata dia bisa humor juga.
"Bagaimana Gus menurut mu anak saya Amira?" tanya Pak Husen.
"Saya belum bisa menilainya. Karena saya baru kenal sama dia. Tapi kalau dari segi wajah dan penampilan, anak-anak bapak itu cantik-cantik. Cucu bapak lebih-lebih cantiknya. Kalau saya di suruh memilih, saya malah bingung milihnya Pak."
__ADS_1
"Tapi yang mau saya jodohkan dengan Gus kan Amira. Bukan Laila ataupun Novi. Karena Laila masih kecil. Dan Novi kan sedikit pembangkang. Dia mana mau dijodohkan. Dia lebih suka pilih jodohnya sendiri."
Gus farid menghela nafas. Dia tiba-tiba teringat dengan kakeknya yang sedang sakit.
"Kenapa Gus?" tanya Pak Husen.
"Nggak ada apa-apa. Saya cuma lagi keingat sama kakek saja. Dia sudah menginginkan saya menikah. Tapi dia minta saya untuk menikah dengan putri bapak."
"Iya Gus. Waktu itu Kakek kamu pernah bilang begitu sama bapak. Dan bapak nggak keberatan kalau Gus mau menikah dengan salah satu putri bapak, Novi atau Amira. Yang penting jangan Laila."
Gus Farid tersenyum menunjukan gigi putihnya.
"Nggak lah Pak, saya cuma bercanda tadi . Tapi, saya masih ingin mengenal Amira lebih dekat lagi. Seandainya kami ada jodoh, insya Allah, Allah akan membukakan jalan untuk kami berdua agar kami bisa bersatu. Tapi jika kami tidak ada jodoh, jangan kecewa ya pak jika aku dan Amira tidak sampai ke pernikahan. Tapi kita masih tetap bersaudara."
"Iya Gus. Saya paham masuk anda. Bagaimana kondisi Abah Kyai?"
"Waktu aku mau ke sini sih, dia sudah bisa jalan-jalan keluar rumah. Kemarin-kemarin sih, dia ngurung diri di kamar terus. Namanya orang sudah tua ya Pak."
"Iya Gus. Bapak doakan semoga Kyai Hanafi panjang umur dan selalu diberi kesehatan oleh Allah."
"Amin."
****
Pagi ini, Amira masih sibuk di toko, karena banyak barang-barang baru yang datang dari konveksi ke tokonya.
Setelah semua barang-barang itu masuk, dan orang-orang dari konveksi itu pergi, Amira menatap karyawannya satu persatu.
"Saya sudah makan di rumah."
"Kalau saya belum Bu,"
"Saya juga belum Bu."
" Ya udah, kalian tunggu di sini ya."
"Iya Bu."
Amira berjalan ke belakang untuk mengambil tas dan kunci motornya.
"Bu Amira, mau ke mana?" tanya salah satu karyawan Amira saat melihat Amira tampak rapi.
"Mau pulang ya Bu?"
"Nggak. Saya mau beli bakso dulu di kiosnya Bang Dion."
"Untuk apa Bu?"
"Untuk kalian makan. Mumpung tokonya masih sepi. Kalian berdua kan belum makan."
__ADS_1
"Kalau aku nggak usah Bu. Aku udah makan di rumah tadi. Masih kenyang."
"Nggak apa-apa sekalian saja. Nanti saya beli lima bungkus."
Amira kemudian berjalan ke depan toko untuk mengambil motornya. Setelah itu Amira pun meluncur pergi untuk ke kios bakso milik Dion. Sudah lama juga Amira tidak membeli bakso ke sana.
"Mas, baksonya Mas," ucap Amira pada Mas-mas pelayan yang ada di kios baksonya Dion.
"Mau berapa bungkus Mbak?" tanya pelayan itu.
"Lima bungkus saja."
"Oh, baik Mbak. Kalau begitu. Duduk dulu Mbak."
Amira kemudian duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan di tempat itu.
Beberapa saat kemudian, deru motor dari luar terdengar. Dion turun dari motornya. Setelah itu dia masuk ke dalam kios baksonya.
"Amira, kamu ada di sini?" tanya Dion. Dia kemudian duduk di dekat Amira duduk.
Amira tersenyum.
"Eh, Mas Dion."
"Tumben kamu beli sendiri."
"Oh. Hehe.. iya. Yang diperintah nggak ada."
"Biasanya Novi atau anak kamu yang beli."
"Mereka nggak ada."
Sembari menunggu bakso matang, Dion dan Amira ngobrol-ngobrol berdua.
"Amira, kamu kan sudah setahun sendiri. Apa kamu nggak punya niatan untuk menikah lagi?" tanya Dion.
"Entahlah Mas. Kalau ada jodoh ya, insya Allah aku nikah lagi. Tapi kalau belum ada jodoh ya aku nggak mau paksain untuk nyari-nyari jodoh. Karena Laila juga belum begitu ngizinin aku untuk menikah lagi."
"Em, Amira. Kamu kenapa nggak nyari pendamping lagi."
"Oh. Hehe… yah. Belum ada fikiran untuk nikah lagi Mas. Tadi kan aku udah bilang, kalau anak aku juga belum begitu ngizinin aku menikah lagi."
"Gimana kalau kita nyoba dekat saja Amira. Siapa tahu, kamu dan aku ada kecocokan. Dan siapa tahu, Laila mau menerima aku jadi ayahnya."
Amira terkejut. Dia langsung mengernyitkan alisnya dan menatap Dion lekat.
"Maksud kamu Mas?" tanya Amira.
"Maksud aku, kamu kan janda, dan aku duda. Rasanya kita akan ada kecocokan kalau kita mencoba untuk dekat dan saling membuka hati, dan Laila anak kamu juga kan pasti masih butuh ayah. Nggak mungkin kan kamu mau balikan lagi sama mantan suami kamu. Atau mau sendirian aja. Kamu kan masih muda."
__ADS_1
Amira menghela nafas dalam.
Apa-apaan sih ini Mas Dion. Cari masalah aja. Apa dia nggak tahu, kalau aku mau dijodohkan dengan Gus Farid. Kasihan kan Gus Farid, udah jauh-jauh datang ke sini mau ta'arufan, masa aku mau nerima Mas Dion dan ngecewain Gus, batin Amira